Minggu, 19 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Apa Kabar Dunia Pendidikan Kampus Mahasiswa

Oleh: M. Nizar Dairobi*

25 Juli 2021, 13: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Apa Kabar Dunia Pendidikan Kampus Mahasiswa

Share this          

Education is the most empowering force in the world.

PENDIDIKAN adalah kekuatan yang dapat memberdayakan dunia. Tanpa pendidikan tidak ada orang-orang hebat dan tanpa pendidikan tidak akan maju sebuah peradaban. Maka kita diwajibkan untuk melaksanakan pendidikan dasar selama 12 tahun guna memperkaya ilmu untuk kemajuan bangsa.

Namun, saat ini yang kita semua rasakan adalah proses belajar mengajar di dunia pendidikan menjadi sedikit terhambat sejak kemunculan Corona Virus Disease atau Covid-19. Virus korona yang telah dinobatkan sebagai pandemi ini membuat seluruh aspek kehidupan terganggu. Termasuk aspek pendidikan yang saya sebut sebagai the most empowering force in the world.

Baca juga: Korwilkersatdik Sempu Kurban 4 Ekor Kambing

Covid-19 hadir tanpa aba-aba dan mengubah semua tatanan bidang kehidupan. Ia muncul dari kota Wuhan di China dan merebak hingga ke penjuru negeri. Bukan hanya kematian yang melumpuhkan, hampir seluruh ekonomi di dunia mengalami inflasi, dan pendidikan berjalan pada tapak digitalisasi. Pandemi ini mengatur sistem pendidikan yang pada umumnya pertemuan tatap muka (luring) bertransformasi ke sistem pembelajaran jarak jauh (daring).

Hal ini mengharuskan seluruh bagian civitas akademik berubah dari spidol ke smartphone, papan tulis ke laptop, buku ke PDF, metode ceramah ke metode mengasah, dan dunia nyata menjadi di dalam dunia maya. Semua berotasi 180 derajat dari kebiasaan pembelajaran, yang pada umumnya dapat memupuk semangat peserta didik karena sistemnya belajar bersama. Namun sekarang, hak itu harus tetap dijalankan meski beralih ke pembelajaran berbasis ICT (Information Communication Technology) yang merupakan konsep pembelajaran dari komputer dan multimedia.

Mahasiswa Kehilangan Peran

Banyak dampak yang timbul dari diberlakukannya melalui daring yang  dampaknya sangat dirasakan oleh siswa/ mahasiswa, guru, orang tua maupun lembaga pendidikan. Proses belajar di rumah oleh para siswa/ mahasiswa merasa dipaksa karena tanpa sarana dan prasarana yang memadai di rumah.

Fasilitas seperti smartphone, PC, kuota internet, dan jaringan internet yang memadai menjadi seperangkat yang mendukung suksesnya belajar jarak jauh. Namun, jaringan internet yang belum merata membuat sebagian siswa/mahasiswa kesulitan untuk menerima materi pelajaran. Sehingga ada mahasiswa yang terpaksa tidak lulus karena minimnya jaringan internet di daerahnya.

Kendala yang dihadapi para orang tua adalah adanya penambahan biaya pembelian kuota internet bertambah. Teknologi online memerlukan koneksi jaringan ke internet dan kuota oleh karena itu, tingkat penggunaan kuota internet akan bertambah serta akan menambah beban pengeluaran orang tua. Untuk melakukan pembelajaran online selama beberapa bulan diperlukan kuota yang lebih. Selain itu, peran orang tua sangat diperlukan untuk mendukung kemajuan anak mereka dalam belajar, terutama seorang ibu yang menjadi madrasah pertama bagi buah hatinya.

Kedisiplinan dan ketegasan orang tua menjadi diperlukan ketika guru hanya menjadi fasilitator dalam proses belajar mengajar. Ketika semua proses belajar dialihkan ke rumah, baru disadari bahwa betapa pentingnya sebuah lembaga pendidikan dan pendidik di dalamnya. Dampak yang dirasakan guru atau pun dosen yaitu tidak semua mahir menggunakan teknologi internet atau media sosial sebagai sarana belajar mengajar. Beberapa guru senior belum sepenuhnya mampu menggunakan perangkat atau fasilitas untuk penunjang kegiatan pembelajaran online dan perlu pendampingan dan pelatihan terlebih dahulu.

Adanya wabah Covid-19 memaksa para guru harus menggunakan teknologi, sehingga suka atau tidak suka harus belajar dan siap mengajar melalui jarak jauh atau daring dengan menggunakan teknologi. Setiap instansi pendidikan menyiapkan alat dan sistem pembelajaran jarak jauh dan melakukan bimbingan teknis kepada para guru agar bisa menggunakan teknologi modern dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas siswa/mahasiswa.

 

Solusi Pendidikan saat Ini

Nah, antara hambatan dan tantangan pendidikan saat masa pandemi ini tergolong dari sisi publik memandang. Lalu, apakah solusi atas semua permasalahan ini? Seharusnya pemerintah bergerak cepat untuk melakukan realokasi anggaran. Karena inilah letak hambatan yang berperan sebagai pemangku kendali laju resolusi pendidikan di masa pandemi. Hal ini terlihat pada fakta krisis ekonomi menurun, karyawan di-PHK, adanya pemotongan gaji, dan lainnya. Sehingga para orang tua murid sulit membiayai anak untuk memfasilitasi belajar daring.

Kemudian, pemerintah dapat menyederhanakan kurikulum sesuai dengan provinsi daerah Indonesia. Hal ini dikarenakan tidak semua daerah memiliki kesamaan dalam meregulasi daya pendidikan. Misalnya, bagi daerah yang tidak bisa mengakses internet bisa dilakukan sistem belajar kelompok kecil antara 3-4 orang dan tentunya menggunakan protokol kesehatan Covid-19. Guru juga dapat melakukan perubahan seperti privat dalam sistem mengajar dan menggunakan metode, strategi serta media yang sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.

Bagi para guru, tanamkan mindset bahwa hal ini bukanlah sebuah hambatan, melainkan tantangan zaman dalam proses pendidikan agar guru dapat meningkatkan kompetensinya dalam memanfaatkan yang ada. Apalagi sistem daring seperti ini tentunya banyak memiliki kekhawatiran mengenai penggunaan gawai bagi anak. Pemerintah juga dapat memberlakukan pelatihan parenting terhadap orang tua agar membimbing anaknya secara edukatif. Atau bisa pula menuntun orang tua mempelajari kendali literasi digital, agar dapat menyesuaikan keselarasan zaman. (*)

*) Mahasiswa Psikologi Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo.

(bw/*/als/JPR)

 TOP