Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Meninggal dalam Ibadah Haji

Oleh: Syafaat *

25 Juli 2021, 09: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Meninggal dalam Ibadah Haji

Share this          

Tak ada yang lebih berbahagia selain segera berjumpa dengan yang sangat dicintainya. Segala upaya dilakukan agar keinginan tersebut dapat terwujud. Namun, tidak sedikit yang mengambil jalan pintas yang pada akhirnya tidak dapat terwujud sesuai dengan keinginannya. Begitu juga dengan yang pernah saya alami ketika dipercaya sebagai Ketua Kloter Jamaah Haji Indonesia yang mengawal jamaah haji dengan risiko tinggi (risti), tidak sedikit yang meninggal dunia hingga saya harus menambah garis tersendiri dari buku laporan karena jumlah yang meninggal melebihi jumlah kolom yang disediakan.

Saya masih ingat dengan yang disampaikan dokter Idha Prastyawati, dokter kloter yang menanyakan apakah mungkin kita mencegah orang-orang untuk tidak berdoa dan berharap mereka meninggal dalam melaksanakan ibadah haji. Sungguh merupakan sebuah kebahagiaan ketika kita menghadap Illahi Robbi ketika sedang beribadah, disalatkan oleh jutaan jamaah yang sedang menjalankan ibadah haji. Yang dalam hati diam-diam saya juga mempunyai keinginan yang sama, bahwa jika saya sudah tua nanti juga berkeinginan meninggal ketika menjalankan ibadah haji, disalatkan di Masjidilharam oleh jutaan jamaah haji seluruh dunia.

Kita tidak dapat mencegah seseorang untuk berdoa, karena ketika dicegah pun belum tentu hati mereka tidak mengungkapkan doa dan keinginannya. Karena itu, saya hanya berharap agar kami dimudahkan dalam mengurusi jamaah yang menjadi tanggungan kami, karena seberat apa pun kesulitan yang kita hadapi akan serasa ringan jika urusan kita dimudahkan. Namun ketika urusan yang kita hadapi disulitkan, meskipun hanya satu urusan akan mengakibatkan urusan tersebut tidak akan segera terselesaikan.

Baca juga: Senang Tak Hanya Disidak, Pedagang Juga Diberi Bantuan Rp 300 Ribu

Keinginan luhur tersebut memang tidaklah salah, namun Tuhan sudah menakdirkan atas kematian seseorang yang belum tentu sesuai dengan doanya. Sungguh sebuah pekerjaan yang sangat melelahkan ketika harus merawat orang yang meninggal di negeri orang, terlebih dengan jumlah yang tidak sedikit, tenaga nyaris terkuras untuk mengurusi mereka yang meninggal. Belum lagi harus merawat mereka yang sedang sakit, yang juga butuh perawatan. Karena itu sebuah keinginan yang logis ketika kami juga berharap agar tidak ada keinginan bagi mereka untuk meninggal ketika menjalankan ibadah haji.

Dua tahun terakhir Indonesia tidak memberangkatkan jamaah hajinya, dan menurut saya ini merupakan langkah yang tepat untuk keselamatan bersama. Meskipun meninggal dunia ketika melaksanakan ibadah haji merupakan hal yang mulia, namun juga harus diperhitungkan problem lain yang dihadapi, tentang mereka yang belum berkeinginan untuk meninggal dunia dan masih ingin berkumpul dengan anggota keluarga, atau mereka yang terpapar virus namun tidak segera mati.

Bisa dibayangkan dengan kerumunan yang ditimbulkan ketika jamaah yang diperbolehkan berangkat seperti biasanya, ketika wabah korona masih melanda. Bisa dibandingkan berapa yang meninggal dunia ketika tidak ada virus korona, dan dapat dibayangkan yang akan terjadi jika ibadah haji masih dilaksanakan sebagaimana biasa yang tentunya tidak akan terlepas dari banyaknya kerumunan dari berbagai macam orang yang tidak diketahui secara pasti, apakah mereka membawa virus atau terbebas dari padanya?

Sebagian ada yang menganggap bahwa langkah untuk tidak mengirimkan jamaah haji (dan juga karena tidak adanya kuota) tersebut merupakan langkah politis dengan berbagai macam isu yang diembuskan bersamaan dengan kebijakan tersebut. Namun bagi kami yang pernah bertugas untuk pelaksanaan Ibadah haji, langkah pemerintah tersebut merupakan langkah yang sangat tepat guna melindungi jamaah haji dan para petugas yang menyertainya.

Tidak adanya pemberangkatan jamaah haji Indonesia juga mengakibatkan banyaknya calon jamaah haji yang membatalkan rencana pemberangkatan hajinya dengan cara membatalkan pendaftaran haji. Mereka termakan isu bahwa dana haji akan disalahgunakan karena tidak adanya pemberangkatan haji. Mungkin mereka lupa, bahwa dalam beribadah, keinginan dan adanya niat yang sungguh-sungguh sudah dapat dianggap senilai dengan kewajiban yang akan dilaksanakannya.

Sebagaimana meninggal dunia ketika menjalankan ibadah haji yang dijamin masuk surga, begitu juga dengan mereka yang meninggal dunia karena serangan wabah. Namun demikian bukan berarti kita harus menyerah pasrah begitu juga untuk meninggal dunia karena serangan wabah. Sebab, bagi mereka yang pasrah menantang wabah juga tidak serta-merta dianggap meninggal dunia karena wabah, karena yang dilakukan dapat digolongkan dengan upaya bunuh diri dan matinya dianggap sia-sia. Meninggal karena serangan wabah harus didahului dengan upaya pencegahan sungguh-sungguh yang dapat dilakukan agar tidak meninggal.

Covid-19 membutuhkan banyak pengorbanan untuk dapat menanggulanginya, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya oknum yang mengambil banyak keuntungan dari adanya wabah yang sedang melanda. Hal ini wajar dan jamak terjadi pada setiap bencana yang terjadi, baik melakukan dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum, maupun mereka yang tega ”menggarong” ketika wabah dan bencana terjadi, memanfaatkan musibah dengan mengeruk keuntungan sebanyak banyaknya.

Tidak akan sia-sia mereka yang sudah mendaftar haji namun belum juga dapat diberangkatkan, banyak tamsil yang dapat dijadikan teladan tentang mabrurnya jamaah haji yang dilakukan oleh mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji. Banyak tamsil tentang orang yang dengan biaya yang cukup akan melaksanakan ibadah haji, namun mengurungkan niatnya dan menyalurkan harta yang dimiliki yang akan digunakan untuk perjalanan haji tersebut dan menyerahkan kepada orang lain untuk mencukupi kebutuhan dasar hidup mereka yang sangat membutuhkan. (*)

*) Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya