Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Ketika Aku Isoman

Oleh: Nur Anim Jauhariyah*

25 Juli 2021, 07: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Ketika Aku Isoman

Share this          

PANDEMI ini pertama dalam hidupku harus tinggal di rumah selama sepuluh hari lamanya tanpa bisa beraktivitas di luar rumah seperti biasanya. Berawal dari hari Kamis, 08 Juli 2021 yang lalu ketika ibu kami sakit batuk dan demam dan pada hari Sabtu, 10 Juli 2021, ibu memeriksakan diri di klinik dan melakukan rapid antigen dengan hasil positif Covid-19.

Akhirnya aku, suami, dan dua anakku yang masih balita melakukan rapid antigen. Syukur Alhamdulillah, kami negatif Covid-19. Namun walau kami secara medis tidak terpapar virus Covid-19, namun atas saran dokter kami tetap harus melakukan isolasi mandiri karena kami kontak erat dengan ibu. Akhirnya ibu menjalani perawatan dan isolasi di klinik dan kami sekeluarga kecil menjalani isolasi di rumah.

Aktivitas di rumah kami lakukan seperti biasa dengan menjaga kebersihan lingkungan dan asupan gizi yang cukup. Kami juga diberikan vitamin untuk menjaga stamina dan kami juga melengkapi dengan minum air dari rebusan kunir, jahe, dan serai merah, untuk menghangatkan tubuh. Kamar ibu kami semprot dengan obat yang diberikan oleh klinik, dan seluruh pakaian seprai, dan alas bantal kami cuci sebagai upaya sterilisasi.

Baca juga: Selalu Ingat Keluarga

Pemenuhan sayuran dan lauk selama isolasi mandiri, dipenuhi oleh tetangga yang bekerja sebagai pedagang mlijo keliling, dengan menggantungkan kebutuhan kami di pagar rumah. Ini semua kami lakukan untuk saling menjaga dan memutus mata rantai penularan Covid-19.

Beberapa hari kami lalui dengan kadang-kadang rasa bosan datang, namun kegiatan tetap kami lakukan untuk mengusir rasa bosan tersebut, seperti merawat bunga-bunga, membuat eksperimen masakan, sampai dengan merevisi tugas-tugas dari kampus. Ketika mulai penat, maka kami putuskan untuk tidur, berharap dengan tidur ini imun kami naik.

Menekan rasa depresi dan keingintahuan asal dari mana Covid-19 ini berasal sampai bisa menginfeksi ibu kami, padahal ibu kami rajin memakai masker. Hal ini kami tepiskan dengan yakin bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Setiap hari berita tentang korban meninggal akibat Covid-19 beredar di grup WhatsApp, tidak tanggung-tanggung dalam satu hari ada beberapa teman, dosen, tenaga medis, bahkan pengasuh pesantren berpulang.

Keberadaan Covid-19 ini seperti seleksi alam, siapa kuat maka dia akan bertahan. Secara ilmu kesehatan imun yang kuat akan mampu melewati fase terpapar menjadi sembuh, dan sebaliknya. Namun jika kita kembalikan kepada qodarulloh bahwa semua ini sudah ditulis oleh Allah SWT sebagai catatan takdir, maka selesai sudah asumsi-asumsi yang mengisi relung pikiran.

Sebagai warga yang baik dan patuh terhadap instruksi pemerintah, maka kita harus taat dengan protokol kesehatan di mana saja kita berada. Menerapkan 5M yakni:

Pertama, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir sebelum kita memasak/makan, setelah ke toilet, setelah keluar rumah, setelah menutup hidung ketika batuk/ bersin.

Kedua, memakai masker dobel yang terdiri dari masker medis dan kain ketika di luar rumah atau di dalam rumah ketika kita berpotensi menularkan, atau ada anggota keluarga yang terpapar Covid-19.

Ketiga, menjaga jarak minimal dua meter.

Keempat, menjauhi kerumunan, karena semakin sering kita bertemu dengan banyak orang maka semakin berpotensi kemungkinan kita terinfeksi virus Covid-19.

Kelima, mengurangi mobilitas yang tidak urgen, karena walaupun kadang tidak bergejala namun virus ini mudah menginfeksi dengan cepat, maka mari kita batasi mobilitas yang tidak mendesak dengan tetap di rumah.

Mari kita bersama-sama melakukan ikhtiar untuk memutus rantai penularan Covid-19 dan berdoa semoga Covid-19 dan penyakit pandemi lainnya segera pergi dari muka bumi. Semoga kita selalu sehat dan bahagia di situasi apa pun. Aamiin yaa robbal’ alamiin.  (*)

*) Dosen IAI Darussalam Blokagung, Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya