Minggu, 19 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Jangan Ludahi Wajah Manusia

Oleh: Agus Novel Mukholis*

24 Juli 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Jangan Ludahi Wajah Manusia

Share this          

SEKALI lagi harus bergumam “hebat”, “benar sekali”, “pembahasan yang cerdas” tatkala saya harus dihadapkan untuk menikmati tulisan cerdas, segar dan menyehatkan akal karya Emha Ainun Najib. Memang perkara kemanusiaan tidak akan pernah ada habisnya jika disinggungkan dengan kehidupan yang semakin ke sini semakin lucu dan ngawur. Kenapa kemanusiaan harus dipegang teguh?. Agar kita tidak lupa dengan sisi manusia yang melekat pada kita. Manusia harus tetap stay dan terjaga di dalam kesadaran kemanusiaannya agar ia tidak melupakan fitrah kebajikan, kebaikan hingga kemuliaan yang selalu melekat pada dirinya hingga kapanpun. Maka tatkala kita membenci perilaku jahat seseorang, cukup hukum dia sebagai pelaku, jangan sampai kau ludahi wajahnya sebagai bentuk merendahkan harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Jangan ludahi wajah manusia, bahkan wajah dari orang yang paling kau benci. Sangat menarik dan filosofis. Banyak yang telah duduk dalam kekuasaan hingga lupa diri dan berlaku semena-mena. Jika kekuasaan sudah menjadi rebutan, maka hukum rimba yang akan berlaku di tengah peradaban manusia. Walaupun agama, norma masyarakat serta aturan negara membingkainya, kerimbaan terselubung tetap akan tumbuh di tengah kehidupan masyarakat. Apalagi bagi yang merasa berhak mengatur manusia lainnya. Katakanlah atasan, bos, aparat hingga pemerintah. Memang sih pemerintah berkuasa atas Indonesia, atas wilayah propinsi, kabupaten kota, kecamatan dan desa yang kita tinggali, namun tidak berkuasa atas kehidupan, nasib, masa depan, dan segala hal dalam hidup kita yang mencerminkan min haitsu la yahtasib. Hanya Tuhan yang berhak, berwenang dan berkuasa atas kehidupan kita dan seluruh manusia ciptaanNya.

Karena yang dikhawatirkan para malaikat saat Tuhan mau menurunkan manusia di muka bumi ini ada benarnya juga. Tatkala mata hati manusia telah digelapkan oleh kekuasaan dan kekalapannya terhadap keenakan mengatur orang, maka ia tidak akan peduli jika harus merendahkan serendah-rendahnya saudaranya sesama manusia. Bahkan jika harus menginjak-injak harkat dan martabat manusia lainnya, bukan persoalan juga bukan beban. Sangat banyak sekali bagaimana fenomena di tengah masyarakat saat maling dihakimi sendiri oleh sekumpulan orang dengan dipukuli hingga babak belur, diinjak-injak wajahnya, diludahi, dikencingi bahkan dibakar. Kalaupun toh yang ditangkap itu adalah setan, ingat yang menangkap juga bukan malaikat yang tanpa dosa.

Baca juga: Tiga Pesantren Ikuti Vaksinasi Tahap Kedua

“Di atas kebenaran ada kebaikan. Puncak dari pencapaian kebenaran dan kebaikan adalah martabat. Puncak martabat adalah kemuliaan”. Begitulah kira-kira Emha Ainun Najib yang akrab disapa Mbah Nun menyampaikan pesannya. Maka kemuliaan manusia adalah tatkala ia mampu menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan saudaranya. Hal itu ia lakukan sebagai penghambaannya kepada yang menciptakannya. Karena ia melihat ada Tuhan di setiap ciptaanNya. Ia merasa harus memperlakukan sebaik dan sebenar mungkin semua makhlukNya. Karena itu termasuk perbuatan baiknya kepada Tuhan. Sebagai hambaNya adalah keharusan berpihak kepada Tuhan. Maka bentuk keberpihakan kita kepada Tuhan adalah dengan memperlakukan sebaik mungkin semua ciptaanNya.

Sampai muncul cerita seorang yang sholih tatkala melihat anjing yang buruk rupa bermata satu pula, ia bergumam jijik dengan menghina si anjing. Lalu si anjing pun diijinkan bicara sama Allah untuk memperingatkan orang sholih tersebut dengan berkata, “Wahai manusia mulia, sesungguhnya yang sedang kau hina itu aku ataukah DIA yang menciptakan aku”. Langsung orang sholih tersebut tersungkur menangis merasa tertampar dan langsung bersujud minta ampun kepada Allah. Sekecil apapun makhluk, ia adalah maujud Tuhan. Bahkan jika ada manusia yang lapar, Tuhan berempati dengan meletakkan diriNya pada orang yang lapar itu. “Wahai hambaKu, Aku lapar, tidakkan engkau memberikanKu makan, Aku haus, tidakkah engkau memberikanKu minum, Aku kesepian, tidakkah engkau menemaniKu”.

Sehingga tatkala kita meludahi wajah manusia, itu artinya kita sedang meludahi wajahnya Tuhan. Meskipun manusia itu maling, perampok, bandit, koruptor, pembunuh dan bentuk manusia jahat yang lain, mereka adalah maujud Tuhan. Maka jika kita semua sulit meletakkan pemahaman wajah manusia adalah manifestasi wajah Tuhan, ataupun terlalu ekstrem dalam bangunan aqidah kita, maka sekurang-kurangnya pahami wajah manusia sebagai karya agung Allah, Tuhan semesta Alam. Maka kalau hasil karyamu diludahi oleh orang atau bentuk penghinaan dan pelecehan yang lain terhadap karyamu, maka engkau juga akan merasa terludahi juga. Tentunya kita tidak rela hasil kerya kita dihina oleh orang, oleh siapapun.

Maka manifestasi dari keagungan nilai “jangan ludahi wajah manusia” adalah pesan untuk kita semua selaku manusia agar selalu sadar diri tentang kemanusiaan kita. Wajah manusia adalah maujud wajah Tuhan. Jangan sampai kita meludahi wajahnya Tuhan. Jangan sampai kita merendahkan hasil karya Tuhan. Jangan sampai kita menghina, menyiksa, menginjak-injak harkat dan martabat, hingga merenggut kesejahteraan, kebebasan, kemerdekaan, kebahagiaan manusia. Karena sama saja dengan kita melukai Tuhan yang menciptakan mereka. Kita wujudkan bentuk keberpihakan kita dengan Tuhan dengan selalu berbuat baik kepada semua orang bahkan kepada mereka yang menyakiti kita. Kita membenci perilaku jahat, perbuatan salah dan pekerjaan kotornya, namun jangan sampai membenci orangnya. Kita hukum, kita adili kita berikan sangsi atas perbuatannya, namun jangan sampai meludahi wajahnya. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish Shawwab.

*) Guru MAN 2 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya