Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan

Ipang Wahid: Anak Muda Keren Kalau Geluti Pertanian

23 Juli 2021, 09: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PEMBEKALAN: Ipang Wahid (kiri atas) memberikan mentoring secara virtual kepada para peserta program Jagoan Tani kemarin (16/7).

PEMBEKALAN: Ipang Wahid (kiri atas) memberikan mentoring secara virtual kepada para peserta program Jagoan Tani kemarin (16/7). (CAPTURE VIDEO)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Ratusan anak muda yang tergabung dalam program ”Jagoan Tani” Banyuwangi mulai mengikuti fase mentoring. Mereka berasal dari seratus tim yang diseleksi dari 427 tim yang terdaftar. Program itu sendiri menyediakan hadiah ratusan juta hingga lahan untuk usaha bagi para kandidat terpilih tersebut.

Salah satu mentor yang dihadirkan adalah pelaku ekonomi kreatif yang tersohor di tingkat nasional, yakni Ipang Wahid. Ipang pun memberikan pembekalan secara virtual melalui layanan video conference.

Ipang mengatakan, sektor pertanian dan berbagai subsektornya, mulai perikanan, perkebunan, kehutanan, dan peternakan memiliki prospek yang sangat cerah. Saat pandemi dan mayoritas sektor tumbuh minus, namun sektor pertanian tetap tumbuh positif.

Baca juga: Bapemperda Bedah NA Raperda Kesehatan Lingkungan

Ipang tidak memungkiri bahwa bisnis pertanian kerap dipandang sebelah mata. Padahal, bila didalami, begitu besar potensinya. Total nilai pasar industri makanan-minuman di Indonesia mencapai 137 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Nilai ekonomi sektor perikanan dan kelautan mencapai 1 triliun dolar AS. Peluang pasar yang besar dan tumbuh konsisten tersebut harus ditangkap anak-anak muda. ”Kita harus buktikan, anak muda zaman sekarang justru keren banget kalau jadi petani atau pembudi daya,” ujarnya dalam sesi mentoring kemarin (16/7).

Ipang lantas membeberkan sejumlah poin yang harus diperhatikan untuk memulai dan mengembangkan bisnis pertanian. Di antaranya adalah dimulai dengan menentukan model bisnis, lalu menentukan keunggulan kompetitif dari usaha pertanian yang akan dikembangkan.

Setelah itu, harus ditentukan proposisi nilai konsumen dan menentukan sumber-sumber pendapatan (revenue stream) dari bisnis yang dikembangkan. ”Tentukan pula struktur biaya, sumber daya manusia (SDM), aktivitas usaha, partnership, dan customer relationship dari bisnis kita,” ujar Ipang.

Ipang memotivasi anak-anak muda Banyuwangi untuk tidak patah arang dalam berbagai kesulitan usaha. Ipang pun bercerita bahwa dia telah menekuni dunia bisnis selama bertahun-tahun. Tidak semuanya berjalan lurus sesuai yang direncanakan. Jatuh-bangun adalah proses yang biasa dalam dunia usaha. ”Yang penting kita terus ikhtiar, terus mencoba, tidak pernah berhenti belajar, dan selalu membuka diri untuk berkolaborasi,” jelasnya.

Selain Ipang Wahid, mentor lainnya adalah Direktur Transformasi Bisnis PT Pupuk Indonesia Panji Winanteya Ruky. Juga ada Dekan Fakultas Pertanian Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi Ervina Wahyu dan Luh Putu Suciati dari Pusat Inkubator Bisnis Teknologi LP2M Universitas Jember, serta pakar pemasaran digital Cucuk Rustandi.

Sementara itu, Direktur PT Pupuk Indonesia Panji Winanteya Ruky menyampaikan, pertanian saat ini harus berkiblat kepada ”Digital Precision Farming”, sehingga pelaku usaha pertanian bisa mengurangi beban biaya yang dibutuhkan. ”Pertanian harus mengadopsi teknologi modern. Sehingga bisa diketahui secara pasti detailnya. Misalnya, lahan sebelah mana yang membutuhkan perawatan ekstra. Berapa luas lahan yang butuh intervensi. Tidak semua dipukul rata,” ujarnya.

Panji menyebut, berbagai konsep seperti smart farming, urban farming, maupun precision farming semuanya berkait dengan keterampilan digital. Dia pun mengapresiasi program Jagoan Tani yang dikembangkan Pemkab Banyuwangi sebagai upaya melahirkan generasi baru di dunia pertanian yang diberi sentuhan digital.

Panji juga memotivasi para peserta Jagoan Tani Banyuwangi. Pertanian bukan lagi sebuah pekerjaan remeh dan kotor. Melainkan peluang bisnis menjanjikan. ”Stigma rendah pasti melekat pada pertanian, tapi jangan salah, dengan adopsi teknologi yang tepat ini bisa diubah menjadi peluang bisnis yang luar biasa,” pungkasnya. (sgt/afi/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya