Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Calon Penumpang Kapal Ketika ASDP Berlakukan PPKM Darurat

22 Juli 2021, 16: 45: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MENGINAP DI PELABUHAN: Calon penumpang kapal memilih menunggu di pelabuhan sampai rute penyeberangan Ketapang-Gilimanuk untuk kendarana nonlogistik dibuka kembali.

MENGINAP DI PELABUHAN: Calon penumpang kapal memilih menunggu di pelabuhan sampai rute penyeberangan Ketapang-Gilimanuk untuk kendarana nonlogistik dibuka kembali. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id - Pemberhentian sementara layanan penyeberangan bagi kendaraan nonlogistik di Pelabuhan Ketapang mulai diberlakukan sejak Rabu malam (14/7). Sejak kebijakan itu diterapkan, penumpang umum dan kendaraan nonlogistik ”hanya” bisa menyeberang melalui Pelabuhan Ketapang antara pukul 06.00 sampai 19.00.

Ini peringatan bagi masyarakat yang ingin menggunakan jasa penyeberangan di Pelabuhan Ketapang. Penumpang umum harus pintar-pintar mengatur waktu agar tidak sampai diwajibkan putar balik atau menginap hingga menunggu layanan untuk kendaraan nonlogistik kembali dibuka keesokan harinya.

Pada Rabu malam (14/7), sejumlah kendaraan, termasuk bus dan mobil pribadi terpaksa putar balik dari Pelabuhan Ketapang. Selain itu, ada pula yang memilih menunggu di kawasan pelabuhan sampai layanan penyeberangan bagi kendaraan nonlogistik kembali dibuka. Sembari menunggu, sejumlah penumpang bus beristirahat atau tidur di dalam kendaraan yang ditumpangi.

DILARANG MASUK PELABUHAN: Aparat kepolisian meminta pengendara mobil yang hendak masuk pelabuhan ASDP Ketapang untuk putar balik.

DILARANG MASUK PELABUHAN: Aparat kepolisian meminta pengendara mobil yang hendak masuk pelabuhan ASDP Ketapang untuk putar balik. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Baca juga: Warga Antusias Vaksin Karena Jadi Syarat Perjalanan

Susi, salah satu penumpang bus jurusan Surabaya–Denpasar, mengaku dirinya terpaksa tidur di bus lantaran layanan penyeberangan bagi kendaraan nonlogistik telah ditutup. ”Padahal saya sudah sejak pagi berangkat agar bisa menyeberang sebelum pukul 18.00,” ujarnya.

Susi mengaku dirinya sudah ganti bus sebanyak tiga kali. Dia tiba di Banyuwangi sekitar pukul 14.00. Namun sayang, saat tiba di check point, surat syarat bebas Covid-19 yang dia miliki ditolak oleh petugas karena tak disertai barcode. Dirinya terpaksa harus rapid test antigen ulang. Namun karena pelayanan rapid test antigen hanya dua loket, dirinya harus antre. ”Yang mau rapid test ada ratusan orang, tapi tempat rapid test cuma dua. Saya selesai menjalani rapid test sekitar pukul 16.00,” bebernya. 

Usai melengkapi persyaratan bebas Covid-19, dirinya kemudian menunggang bus yang ketiga. Namun sayang, ternyata loket untuk kendaraan nonlogistik sudah tutup. ”Ini ada tujuh penumpang di bus. Jadi tidak bisa menyeberang. Harus menunggu dibuka lagi,” ujar Susi. 

Susi berharap, dalam memberlakukan aturan atau kebijakan, pemerintah juga menyiapkan solusi serta sarana dan prasarana. Dengan demikian, masyarakat tidak sampai dirugikan. ”Seperti yang kami alami, masak layanan rapid test itu hanya dua loket. Sedangkan yang antre banyak,” kata dia.

Sementara itu, calon penumpang yang lain, yakni Bima, 35, warga Denpasar mengaku dirinya terpaksa menyewa hotel untuk menginap dan menunggu pelabuhan dibuka untuk kendaraan nonlogistik. ”Ya harus sewa hotel. Masak tidur di mobil. Saya tidak tahu ada pembatasan kendaraan logistik,” tuturnya. 

General Manager (GM) PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Ketapang Suharto mengatakan, pembelian tiket saat ini bisa dilakukan secara online. Sehingga bus atau travel seharusnya bisa membeli tiket terlebih dahulu, tidak perlu menunggu tiba di pelabuhan. 

Suharto menduga bus tersebut membeli tiket melalui pengurus yang ada di pelabuhan dan melebihi pukul 18.00. ”Pukul 17.00 itu masih bisa pakai aplikasi Ferizy. Mereka kemungkinan melalui pengurus di pelabuhan, nah kalau jam 18.00 lebih itu sudah tidak bisa,” kata dia.

Suharto mengimbau pengemudi atau penumpang kendaraan nonlogistik agar mempersiapkan perjalanan lebih awal dengan membeli tiket secara daring via Ferizy.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Banyuwangi Rocky Surentu mengaku sudah melakukan sosialisasi terkait dengan pembatasan penyeberangan kendaraan nonlogistik. ”Sudah kita lakukan. Kita sosialisasi ke PO bus dan kendaraan lain. Termasuk melalui media sosial (medsos) dan pemberitaan. Kami tidak bisa memberikan fasilitas penginapan bagi yang terlambat,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya