Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Kisah M. Nurul Huda, 12 Tahun Menjadi THL di Puskesmas

22 Juli 2021, 14: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

SIGAP: M. Nurul Huda sering membantu menjadi sopir mobil ambulans Puskesmas Tampo, Kecamatan Cluring kemarin (15/7).

SIGAP: M. Nurul Huda sering membantu menjadi sopir mobil ambulans Puskesmas Tampo, Kecamatan Cluring kemarin (15/7). (Shulhan Hadi/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Selama pandemi tenaga kesehatan (nakes) menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Mereka harus berjibaku demi menekan angka korona. Itu salah satunya M. Nurul Huda, 31, yang bekerja sebagai karyawan di Puskesmas Tapo, Kecamatan Cluring.

Sejak 2010, M Nurul Huda yang tinggal di Dusun Simbar 1, RT 1, RW 4, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, bekerja sebagai karyawan bagian administrasi di Puskesmas Tampo, Kecamatan Cluring. Setahun berikutnya, statusnya naik menjadi Tenaga Harian Lepas (THL).

Meski bekerja di instansi pelayanan kesehatan, tapi Huda yang lahir di Desa/Kecamatan Tegaldlimo, ini pendidikannya bukan berlatar belakang kesehatan, tapi sarjana ekonomi dengan program studi manajemen. “Selama bekerja di Puskesmas, saya perlahan-lahan belajar bidang kesehatan juga,” terang M. Nurul Huda.

Baca juga: Masih Membandel, Satgas Tutup Toko Modern

Bekerja di bagian administrasi, bukan berarti hanya mengurusi pencatatan saja. Apalagi rumahnya yang tidak jauh dari Puskesmas Tampo, sering menjadi tumpuan informasi warga tentang kesehatan. Apalagi, istrinya Rista Dwi Umami, 29, itu seorang bidan. “Banyak yang tanya seputar Covid-19 dan vaksinasi,” terangnya.

Sebagai tenaga administrasi, Huda aktif membantu para nakes yang melakukan vaksinasi. Bahkan, tidak jarang merangkap menjadi sopir mobil ambulan untuk mengantar pasien yang dirujuk ke rumah sakit. “Jadi harus serba bisa, sering bantu-bantu yang lain,” katanya.

Huda menyampaikan pada Senin malam (12/7), ada tetangga dilaporkan mengalami gejala Covid-19. Warga lain yang peduli bercampur panik, datang dan kebingungan minta tabung oksigen hingga minta diantar ke rumah sakit. Padahal, saat ini seluruh ruangan di rumah sakit untuk pasien yang terkena virus korona sedang penuh. “Saya dikabari di RSUD Blambangan ada yang kosong, saya juga gak percaya, sekarang ini semua rumah sakit penuh,” ujarnya.

Setelah melapor ke pimpinan, Huda mencari informasi rumah sakit yang mau menerima pasien Covid-19 itu. Usahanya itu berhasil, memang ada jatah satu pasien. Tapi tidak lama, jatah satu pasien itu terisi oleh pasien lain. “Saya juga ikut bingung,” katanya.

Pada Senin malam itu, pasien yang bergejala terkena Covid-19 belum bisa diantar ke rumah sakit karena kembali penuh. Dan malam itu, pasien berkelamin laki-laki itu minta diberi oksigen. Permintaan itu, tidak segera dituruti karena ada aturan dalam pemberian oksigen. Selain itu, kondisi tetangganya itu masih stabil. “Saya tahu tetangga saya itu punya keluhan jantung, nanti malah bahaya bila diberi oksigen,” dalihnya.

Kecemasan itu berlangsung sampai esuk paginya. Saat pagi itu, ada kabar di RS Fatimah Banyuwangi ada ruangan yang bisa ditempati. Dari kabar itu, Huda langsung berkoordinasi dengan surveilans Eko Ana Astuti dan pimpinan Puskesmas Tampo. “Setelah ada ruangan di rumah sakit, dan siap berangkat, ada masalah lagi, sopir mobil ambulans sedang ada halangan mendadak,” ungkapnya.

Tidak mau kesempatan ada bed dan ruangan hilang, Huda berpikir keputusan cepat harus segera diambil. Ia yang sudah biasa menyopiri mobil ambulans milik Puskesmas Tampo, langsung mengambil alih sebagai sopir. “Saya yang nyetir ambulans, ini sudah biasa, siapa yang bisa langsung ambil peran,” cetusnya.

Bersama dengan surveilans, Huda mengejar waktu dengan mengantar pasien yang bergejala Covid-19 ke RS Fatimah Banyuwangi. Setiba di rumah sakit, bed itu ternyata masih ada dan pasien yang juga tetangganya itu langsung ditangani dan dirawat. “Rasa lega itu sangat terasa,” katanya.

Bagi Huda kegembiran seorang nakes atau pekerja di layanan Puskesmas itu ketika mengetahui pasien yang ditangani mendapat pananganan lebih baik. “Saya dan surveilans sangat senang sekali,” jelasnya.

Seluruh nakes di semua instansi kesehatan, saat ini sedang mati-matian berhadapan dengan pandemi. Segala yang dilakukan, belum ada apa-apanya dibandingkan para nakes yang menangani pasien secara langsung di ruang isolasi. Huda menyebut, mereka itu golongan orang-orang yang sabar. “Saya saja yang hanya membantu seperti ini, kalau pulang harus lewat belakang, harus sterilisasi. Semua demi kebaikan bersama, terutama keluarga,” terangnya.

Salama 12 tahun mengabdikan diri di Puskesmas Tampo, saat pandemi ini menjadi pengalaman yang paling berat. Tidak hanya berat secara fisik, tapi kekuatan mental juga diuji. Terlebih, ketika kabar sejawatnya harus gugur di tengan perjuangan melawan korona. “Ya ini tugas, tapi diakui atau tidak, ini memang berat. Semua mengalami dampaknya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. (sli/abi)

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya