Jumat, 30 Jul 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Agama, Obat Mujarab Penangkal Wabah

Oleh: Moh. Rofqil Bazikh*

22 Juli 2021, 10: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Agama, Obat Mujarab Penangkal Wabah

Share this          

DALAM konteks keindonesiaan, ketika membahas agama kita tidak akan pernah terlepas dari praktik sosial yang menyertainya. Agama dalam ranah sosiologis Indonesia, menjadi semacam praktik yang telah lama mengakar. Banyaknya agama di Indonesia, turut membuktikan bahwa selain negara bangsa (nation state), Indonesia juga negara agama. Maksudnya, beragamnya agama di Indonesia ini sedikit banyak memberikan intervensi terhadap kebijakan-kebijakannya. Meski, Indonesia tidak secara terang-terangan mengklaim negara agama, khususnya agama Islam. Namun, patut diakui bahwa nilai-nilai dan praktik sosial yang tertanam di negara kita masih tidak bertentangan dengan napas agama itu sendiri.

Dalam menangani wabah misalnya, sedikit banyak orang-orang yang mempunyai kompetensi di bidang agama (baca; tokoh agama) menggunakan agama sebagai legitimasinya. Lebih-lebih dalam kajian fikih yang memang sepantasnya menyesuaikan dengan realitas sosial. Praktik sosial akan mengonstruksi fikih menjadi sangat fleksibel dan kemudian bisa menjangkau persoalan pandemi ini. Hal ini terbukti, dengan beberapa buku yang terbit menggunakan perspektif fikih dan agama. Utamanya dalam tata cara beribadah di tengah pandemi. Ini sekaligus juga menegaskan betapa peran agama dan tokoh di dalamnya sangat vital dalam penanganan pandemi.

Seorang teman pernah menceritakan salah seorang tokoh agama di kampungnya yang dianggap kurang percaya terhadap pandemi korona. Hal ini kemudian menimbulkan dampak yang sangat miris, utamanya bagi pengikut di belakangnya. Sebab, mayoritas di Indonesia masih sepenuhnya menaruh taat yang kadang over terhadap pendapat tokoh atau public figure. Kisah ini juga memberi gambaran, bahwa kesadaran dari tokoh agama untuk selalu mengampanyekan pentingnya menjaga kesehatan, menjaga jarak, dan taat prokes menjadi sangat urgen. Sebab, ketika salah seorang tokoh yang katakan –mempunyai banyak pengikut maupun follower— mampu membujuk para pengikutnya untuk taat protokol wabah tentu akan lekas diamini.

Baca juga: Kurangi Mobilitas Warga, Jalan Poros Rogojampi Ikut Ditutup

Artinya, ketaatan suatu golongan bergantung kepada pemimpin dan tokoh agama di dalamnya yang ikut berpartisipasi. Bukan malah sebaliknya, justru dengan pongah menganggap wabah bukan penyakit yang berbahaya sambil mengatakan ”hidup mati di tangan Tuhan”. Persoalan tersebut, masih banyak terjadi di tengah-tengah pandemi. Tentu, kita akan membutuhkan tokoh agama yang benar-benar peduli terhadap problem yang serius ini. Bukan tokoh agama yang justru memprovokasi agar melanggar protokol kesehatan dan menantang tenaga medis.

Cerita yang lain di sebuah masjid, yang kebetulan marbotnya adalah teman dekat saya, menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini karena ketua takmir selalu mewanti-wanti kepada para jamaah agar taat protokol kesehatan. Ini juga menunjukkan, betapa orang yang ditokohkan dalam suatu kelompok atau bahkan instansi menjadi sangat penting dalam mengambil kemudi menangani wabah. Saya menyebut hal demikian sebagai usaha dari agama –beserta tokoh di dalamnya— untuk menangkal wabah. Merupakan suatu pencapaian yang fenomenal jika hal itu dapat diwujudkan dan masif dalam masyarakat. Betapa tidak, selama ini agama memang selalu memegang kendali di dalam banyak persoalan.

Maka, juga selayaknya dalam persoalan wabah ini kita (terkhusus tokoh agama) menggunakan agama sebagai alat legitimasi. Jika sudah demikian, kesadaran kolektif dari berbagai pihak akan mudah dicapai. Tokoh agama yang sangat agitatif dalam menyerukan ajakan taat protokol kesehatan, patut untuk mendapat apresiasi. Karena, ia telah turun dari menara gading dan bercengkerama dengan persoalan keumatan. Di tengah wabah, tidak mungkin terus-terusan tokoh agama menyerukan untuk takwa kepada Allah dan melaksanakan ibadah. Di sisi lain, menyerukan ketaatan pada protokol kesehatan terhadap jamaahnya juga termasuk kategori penting.

Jika hal itu bisa dicapai, maka agama tidak hanya menjadi suatu aliran dan kepercayaan. Ia lebih dari itu, ia seolah turun ke bumi dan tidak lagi melangit. Lalu, ikut serta menangani persoalan keumatan berupa wabah korona ini. Dalam konteks Indonesia, kepatuhan semua orang terhadap agama, membuat misi ini tidak akan sulit untuk terealisasi. Tergantung bagaimana nanti tokoh agama juga mempunyai kesadaran terhadap wabah ini. Jika kesadaran sudah tumbuh, saya yakin jika agama akan menjadi obat mujarab penangkal wabah. Bukan obat dalam arti harfiah, namun, ia menjadi jalan baru dalam menangani pandemi yang tak kunjung usai ini. (*)

*) Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan juga aktif di Duta Damai Yogyakarta.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news