Jumat, 30 Jul 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
In Memoriam Haji Achmad Kusyairi Ridwan

Dikenal Sebagai Akademisi, Pebisnis, dan Penyantun Yayasan Islam

22 Juli 2021, 05: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

SOSOK HUMANIS:  Haji Achmad Kusyairi Ridwan (jubah hitam) berfoto bersama istri, putra-putrinya, dan cucunya. Tokoh dermawan asal Desa Watyukebu, Kecamatan Blimbingsrai itu kini  pergi untuk selamanya.

SOSOK HUMANIS: Haji Achmad Kusyairi Ridwan (jubah hitam) berfoto bersama istri, putra-putrinya, dan cucunya. Tokoh dermawan asal Desa Watyukebu, Kecamatan Blimbingsrai itu kini pergi untuk selamanya. (Rindar for RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi kehilangan sosok pengusaha sukses. H. Achmad Kusyairi Ridwan, Presiden Komisaris Mahayasa Group dan PT Niaga Prospekta Group tutup usia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit  Al Huda, Senin (12/7).

Puluhan karangan bunga berjajar di kediaman (alm) H. Achmad Kusyairi Ridwan yang beralamat di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari sejak Senin (12/7). Karangan bunga tersebut  datang dari para kolega, mitra kerja, serta sahabat-sahabat Haka.    

Kepergian Haka benar-benar memukul keluarga dan putra-putrinya. Rindar Suhardiansyah tak kuasa menahan kesedihan atas kepergian sang ayah menuju peristirahatan terakhir. Ayah tercintanya  mengembuskan napas terakhir di RS Al Huda pada Senin (12/7) pukul 10.25 di RS. Al Huda Genteng.

TURUT BERBELA SUNGKAWA:  Puluhan karangan bunga duka cita terpampang di depan rumah almarhum Haji Achmad Khusyairi Ridwan di Desa Watukebu, Kecamatan Blimbingsari, kemarin.

TURUT BERBELA SUNGKAWA: Puluhan karangan bunga duka cita terpampang di depan rumah almarhum Haji Achmad Khusyairi Ridwan di Desa Watukebu, Kecamatan Blimbingsari, kemarin. (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Baca juga: Semakin Sadar, Warga Berebut Daftar Vaksinasi Covid-19

Bagi dia, ayahanda merupakan role model (panutan) sosok motivator dan inspirator di lingkungan keluarga maupun lingkungan tempat tinggal di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari.

Rindar dan adik kandungnya Arvy Rizaldi banyak belajar dari ayahnya.

Ayahnya merupakan sosok yang sederhana, pekerja keras, dan tidak pernah mengeluh sedikit pun. Terlebih sang ayah juga selalu mengajarkan prinsip-prinsip kejujuran kepada anak-anaknya.

“Bagi kami, beliau sosok yang luar biasa, pola pikirnya, lisanya dan perilakunya adalah nasihat bagi kami semua. Seorang suami yang pengayom, ayah penyayang, seorang pemimpin yang tegas, seorang mentor yang cerdas dan seorang ustad yang alim,” tutur Rindar.

Semasa hidup, kiprah dan sepak terjang pria kelahiran Banyuwangi 27 Agustus 1952 ini sarat pengalaman. Tak hanya dikenal sebagai pebisnis, melainkan juga sebagai akademisi, penulis buku, dan motivator. ”Ayahanda memang pernah jadi dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang,” ungkap Rindar.

Selama aktif sebagai dosen di Universitas Brawijaya Malang, ayahnya pernah dinobatkan menjadi dosen teladan di masanya. Setelah tidak mengabdikan diri di perguruan tinggi, ayahnya melanjutkan tongkat estafet kakeknya, (alm) H. Achmad Ridwan dengan mengembangkan bisnis keluarga.  ”Ayah kami penulis buku, sudah ada 20- buku lebih telah diterbitkan. Banyak kolega yang membaca karya beliau,” terang lelaki yang juga CEO Luminor Hotel Banyuwangi ini.

Bapak tiga anak itu juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Melalui yayasan-yayasan yang didirikanya, segunung manfaat sudah dirasakan masyarakat Banyuwangi. Salah satunya ketika Hjai Achmad Kusyairi bersama dengan Ustad Yusuf Mansur mendirikan Pondok Pesantren Putra-Putri Tahfidzul Qur'an di Banyuwangi. Beliau juga sebagai donatur beberapa yayasan Islam lokal.

Sebagai putra sulung, Rindar banyak mendapatkan amanah dan pesan. Salah satu pesan yang tidak terlupakan adalah untuk terus berkarya  menjadi insan yang unggul. Bukan unggul untuk mengalahkan orang, tapi unggul menjadi manusia yang penuh manfaat. “Beliau berkata bahwa hidup ini bukan perkara berapa lama hidup di dunia atau berapa panjang usia kita, tapi seberapa besar memberi manfaat kepada sekitarmu dan orang lain,” ungkap  Rindar menirukan petuah ayahnya.

Hal yang tak bisa dilupakan dan tidak bisa digantikan baginya dan keluarga adalah pola pikirnya yang selalu outside the box dan kemampuan analisa bisnis yang luar biasa. Kemampuan dan keahlian dalam berbisnis tak bisa dibohongi dengan sekadar akademisi. Haka merupakan sosok akademisi yang entrepreneur.

Beliau juga seorang leadership yang kharismatik, tapi tidak narsis. Disiplin, tapi tidak otoriter. Tegas, tapi tidak menakutkan serta sabar, tapi dinamis. ”Beliau kerap diminta menjadi khotib salat Jumat. Setiap bulan Ramadan selalu safari dengan memberikan dakwah dari musala ke musala dan masjid usai melaksanakan salat subuh berjamaah,’’ ungkap Rindar.

Rindar masih belum bisa melupakan pesan ayahanya yang penuh makna. ”Semua manusia cenderungnya adalah rugi dan mengalami kerugian, kecuali orang-orang yang memahami keimananya dan orang yang mau beramal baik dan mau untuk syiar kebaikan. Pesan itu masih terngiang di telinga saya,” tandas Rindar.

Arvy Rizaldi, adik kandung Rindar mengungkapkan kekagumannya pada sosok ayahnya yang mengajarkan banyak hal. Sebagai generasi penerus, dia bersama kakak dan adiknya berkomitmen untuk terus mempertahankan dan memelihara kebaikan ayahandanya. Kebaikan tersebut  banyak disaksikan kemanfaatannya yang luar biasa bagi lingkungan dan sahabat-sahabatnya. “Kami banyak belajar dari ayah. Kami selaku anak anak dan juga cucu-cucu akan terus mempertahankan nilai-nilai hidup yang sudah ditanamkan pada kami semua sejak masih kecil,” terangnya.

Diungkapkan Arvi, ayahnya sakit kira-kira 14 hari sebelum meninggal dunia dan mulai melakukan isolasi mandiri hingga akhirnya menjalani rawat inap di ruang ICU RS Al Huda. Bahkan, plasma darah konvalesen obat imunoglobuline sangat susah dicari. Berbagai upaya telah dilakukan pihak keluarga, namun takdir berkata lain. Ayahnya mengembuskan napas terakhir pada Senin (12/7) pukul 10.25 di RS. Al Huda Genteng.

Tiga hari sebelum ayahnya meninggal dunia sempat berpesan kepada ibunya agar ridlo dan ikhlas atas apa yang terjadi. “Beliau berpesan agar kami berprasangka baik atas segala takdir sebagai jalan terindah. Kalimat itu yang membuat tabah keluarga,” kenangnya.

Mewakili keluarga, Rindar dan Arvi  juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu ayahnya selama menjalani perawatan di rumah sakit. Pihak-pihak tersebut antara lain dokter, tim medis rumah sakit, kerabat,  kolega dan semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada ayahnya sampai pada akhir hayatnya. Kini sosok pengusaha inspiratif Banyuwangi ini harus menghadap Sang Khaliq untuk selamanya. (ddy/aif)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news