Minggu, 19 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Man Nahnu
icon featured
Man Nahnu

Sempurnakan Ikhtiar

Oleh: Samsudin Adlawi *

21 Juli 2021, 10: 00: 53 WIB | editor : Ali Sodiqin

Sempurnakan Ikhtiar

Share this          

DALAM suasana yang sama: pandemi Covid-19.

Begitulah. Suasana perayaan Idul Adha. Tahun ini dan tahun lalu.

Bahkan, tahun ini lebih memprihatinkan. Puncak Idul Adha bertepatan dengan PPKM Darurat. Dengan aturan dan peraturannya yang keras. Salat Idul Adha tidak bisa digelar secara lumrah. Banyak masjid tidak menggelar salat Idul Adha. Pun lapangan. Yang selama ini menjadi venue salat Idul Adha. Lapangan Taman Blambangan, misalnya.

Baca juga: Vaksinasi Masal Dijaga Ketat Polisi

Ya. Idul Adha tahun ini jatuh pada Selasa, 20 Juli 2021. Tepat di hari terakhir Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat—dimulai sejak 3 Juli lalu. Dengan aturan lebih ketat dari sebelumnya. Petugas melakukan penyekatan secara masif. Di banyak titik. Khususnya pada malam hari. Selain jalan-jalan protokol ditutup sejak bakda Maghrib. Lampu penerangan jalan juga dimatikan. Tujuannya satu: membatasi mobilitas masyarakat. Mencegah terjadinya kerumunan. Dalam jumlah sedikit ataupun banyak. Seperti yang biasa terjadi di warung kopi, kafe, dan atau resto.

Langkah itu cukup efektif, ternyata. Setiap malam suasana Banyuwangi seperti kota mati. Nyaris tidak ada lalu-lalang. Baik orang naik motor maupun mobil. Bahkan, lalu lintas di luar wilayah penyekatan ikut-ikutan sepi—meski masih ada yang lewat, walaupun sangat sedikit. 

Kini, warga lebih memilih tinggal di rumah. Bersama keluarga. Untuk saat ini, mengurangi kegiatan di tengah banyak orang adalah pilihan terbaik. Agar tidak terpapar virus Covid-19. Dengan varian barunya: Delta. Yang lebih ganas. Daya tularnya lebih kuat. Varian Delta itu dari India. Setelah ”mengebom” Negeri Bollywood, varian D menginvasi Indonesia. Dan, Indonesia pun mengalahkan rekor India. Jumlah yang terinveksi varian D. Dalam dua pekan terakhir.

Tidak ada cara lain. Tidak ada jalan lebih baik. Saat ini. Menghadapi laju penularan virus Covid-19. Selain mengikuti aturan dari pemerintah. C.q. Satgas Covid-19. Apa pun yang mereka tetapkan, sebisa mungkin harus kita patuhi. Tanpa tawar-menawar. Apa pun yang diputuskan pemerintah, itulah yang terbaik saat ini. Bagi keselamatan jiwa kita. Keluarga kita. Dan, saudara-saudara kita.

Pemerintah sudah mengerahkan segala upaya. Satgas Covid-19 berjibaku. Setiap hari. Tanpa kenal lelah. Mereka berada di lapangan. Terus-menerus. Siang dan malam. Memberi pelayanan terbaik. Kepada masyarakat. Sekalipun harus meninggalkan keluarga di rumah. Yang juga ikut-ikutan merasa cemas. Seperti kita. Kalau toh ada pelayanan yang kurang baik, atau sikap mereka kurang menyenangkan, itu wajar. Bisa dimaklumi (seharusnya). Sebab, mereka saat ini mulai dihinggapi lelah yang luar biasa. Tenaga dan pikiran mereka benar-benar terkuras.

Terutama Bupati Banyuwangi Ipuk Festiandani Azwar Anas, Dandim 0825 Letkol (Inf) Yuli Eko Purwanto, dan Kapolresta Banyuwangi AKBP Nasrun Pasaribu. Juga Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Eros Wasis. Mereka pasti kurang tidur. Atau, setidaknya, tidak bisa tidur nyenyak. Karena terus memantau perkembangan di lapangan. Lalu, harus mengambil keputusan cepat. Setiap saat. Ketika kondisi di lapangan memburuk. Belum lagi kegiatan terjun ke lapangan. Melihat langsung kondisi masyarakat. Terutama mereka yang terdampak. Secara ekonomi.

Bagaimanapun, larangan berjualan malam—setidaknya pembatasan jam buka, membawa dampak ekonomi luar biasa. Bagi para pedagang kecil. Kepul asap di dapur mereka pasti mengalami instabilitas. Itu sebabnya, gerak cepat Bupati Banyuwangi Ipuk Festiandani membantu sembako kelompok usaha kecil terdampak Covid-19, patut diapresiasi. Setidaknya, bantuan itu menjadi ”infus” bagi pelaku usaha kecil dan keluarganya.

Apresiasi juga patut dialamatkan kepada Sekda Banyuwangi Mujiono. Juga Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono. Dua sosok itu menjadi kepanjangan tangan bupati. Mereka harus siap 24 jam. Menerjemahkan hasil koordinasi Bupati-Dandim-Kapolresta-Danlanal. Bahkan, dr Rio (panggilan karib dr Widji Lestariono) sudah kehilangan beberapa kader terbaiknya: dokter dan perawat. Mereka gugur selama PPKM Darurat. Dua pekan terakhir.

Kesabaran tenaga kesehatan (nakes), saat ini, memang sedang diuji. Ujiannya berat sekali. Mereka harus menangani banyak sekali pasien Covid-19. Baik yang sedang dirawat di ruang isolasi rumah sakit, maupun yang melakukan isoman di rumah masing-masing—tapi dalam pantauan dokter.

Ujian manajemen rumah sakit tidak kalah berat. Mereka pusing. Bed Occupancy Ratio (BOR) rumah sakit mereka mulai penuh. Banyak pasien datang dalam waktu bersamaan. Sementara kapasitas BOR makin menipis. Bahkan, belakangan sudah terisi 100%. Akibatnya, sejumlah pasien tak mendapatkan tempat tidur. Terpaksa menjalani perawatan di ICU/IGD. Seperti perasaan nakes, hati pengelola rumah sakit pasti juga sedih. Karena harus menolak pasien. Yang sangat membutuhkan pertolongan.

Tapi, apa mau dikata. Kondisi saat ini memang sangat darurat. Meski para epidemiologi sudah memperkirakan. Jauh-jauh hari. Akan terjadinya ledakan kasus Covid-19 di Indonesia. Setelah libur Lebaran. Tapi, tetap saja. Kondisi kali ini benar-benar di luar prediksi. Buktinya, sejumlah rumah sakit rujukan sebenarnya sudah mengoptimalkan pelayanan. Dengan menambah ruangan perawatan-isolasi dan lengkap dengan bed-nya. Tapi, nyatanya tetap kurang.

Kita harus bahu-membahu. Membantu meringankan beban kerja rumah sakit, nakes, dan Satgas Covid-19. Caranya, menjaga kesehatan. Memperhatikan pola makan dan pola istirahat dengan baik. Agar tubuh tetap prima setiap hari. Menegakkan prokes. Protokol kesehatan. Menjalankan 5M: memakai masker (rangkap dua), (rajin) mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan. Lebih bagus lagi ditambah 1M: makan yang banyak dan bergizi.

Wa ba’du. Apa pun upaya terbaik harus kita lakukan. Sebagai ikhtiar. Agar terlindungi dari penularan virus Covid-19. Namun, upaya lahiriah saja belum cukup. Harus disempurnakan dengan ikhtiar batin. Dengan vaksin spiritual. Yakni, menebalkan tawakal kepada Allah SWT. Ditambah doa secara terus-menerus. Istikamah. Tanpa pernah putus asa. Semoga kita selalu dijaga oleh Allah SWT. Diselamatkan dari penularan virus Covid-19. Dan, mata rantai penularan virus Covid-19 benar-benar putus. Aamiin....

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

(bw/*/als/JPR)

 TOP