Jumat, 30 Jul 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Legenda Persewangi Tempoe Doeloe

Gantung Sepatu, Kasubhan Kini Kelola Travel Umrah

21 Juli 2021, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TOUR: Kasubhan bersama anaknya berlibur ke Turki.

TOUR: Kasubhan bersama anaknya berlibur ke Turki. (Dok. Kasubhan for RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Semasa muda menjadi pemain bola yang andal. Kini setelah gantung sepatu, beragam pekerjaan dilakoni mantan bintang lapangan itu.

Kasubhan merupakan salah satu mantan pemain Persewangi yang karirnya boleh dibilang moncer. Lelaki yang kini berusia 46 tahun itu, pernah memperkuat klub sepak bola nasional. Warga Lingkungan Krajan, Kelurahan/ Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, itu pernah merasakan ganasnya Liga Super.

Pria kelahiran tahun 1975 ini, pernah bergabung dengan tim Persiwa Wamena dan Persidafon Dafonsoro, Papua. Namun demikian, awal berkarir sebagai pesepak bola dimulai dari tim Persewangi Banyuwangi.

KENANGAN: Kasubhan saat membela Persewangi di stadion Tambaksari Surabaya.

KENANGAN: Kasubhan saat membela Persewangi di stadion Tambaksari Surabaya. (Dok. Jawa Pos)

Baca juga: Ribuan Orang Sudah Daftar Seleksi Calon ASN

Awal karir sebagai atlet sepak bola dimulai tahun tahun 1994 kala itu dia bergabung dalam tim Persewangi Junior dan memperkuat tim senior bersama sejumlah pemain lainnya, di bawah asuhan pelatih Joko Susilo.

Dari situlah, kemudian pada tahun 1998, dia sempat berpindah memperkuat ke tim Mitra Surabaya. Sayangnya, baru bergabung setengah musim, Liga dihentikan. Karena ada peristiwa reformasi kala itu. Kemudian dia memutuskan kembali ke Persewangi Banyuwangi masih bertemu dengan rekan satu tim Rifak Erfandi, Tutug Widodo, Kasiyadi, dan Nurcahyo.

Pesepakbolaan tanah air kembali melejit, dan dia bergabung bersama tim Persiwa Wamena mengantarkan dari Liga 1 hingga kasta tertinggi ke Liga Super. Setelah dari Persiwa Wamena, kemudian bergabung dengan Persidafon Dafonsoro, yang juga masih klub asal Papua. “Waktu itu target dari Persidafon Dafonsoro naik kasta dari Liga 1 ke Liga Super dan terpenuhi. Sayangnya kala itu saya cedera, dan terpaksa harus gantung sepatu pada tahun 2007,” ujar lelaki yang berposisi bek kiri ini.

Sejak cedera hingga mengharuskan dirinya gantung sepatu itulah, kemudian memutuskan kembali ke kampung halamannya di Kalipuro, Banyuwangi. Setelah itu, dia sempat merasakan kebingungan guna menghidupi keluarga. Hingga akhirnya memutuskan untuk menyewa lahan sawah dan bertani. “Saya sempat bertani menanam padi, semangka, lombok,” kenang Kasubhan.

Karena tani dinilai kurang begitu berjalan, dia mulai pindah haluan membuka toko kayu di dekat tempat tinggalnya di Kalipuro. Tidak hanya menjual kayu, toko tersebut juga menjual bahan bangunan seperti pasir dan material lainnya.

Seiring berjalannya waktu, kala itu ada tetangga yang hendak berangkat umrah dan bingung mencari travel umrah. Dari situlah, dia berhasil mencarikan biro travel umrah. Hingga akhirnya, Kasibhan ditawari untuk bergabung menjadi perwakilan biro perjalanan travel dan umrah tersebut di Banyuwangi. “Alhamdulillah sejak tahun 2014 sampai sekarang, masih jalan di travel umrah ini,” ujar bapak satu anak ini.

Karena bergabung dengan perusahaan biro travel perjalanan umrah, Kasubhan juga kenal dan memiliki relasi dengan biro perjalanan travel umrah dari berbagai perusahaan lain. Hingga pada tahun 2019 lalu, dia bersama anak semata wayangnya merasakan berlibur ke Turki. “Kebetulan saya diminta menjadi tour leader ke Turki, dan Alhamdulillah bisa mengajak anak keliling Turki,” jelasnya.

Namun, belum lama sepulang dari Turki itu langsung ada pandemi Covid 19. Sejak ada pandemi ini, sementara pekerjannya terkena dampak dan hanya bisa pasrah. “Sejak pandemi ini, saya agak banyak istirahat hampir setahun tidak ada aktivitas hanya merawat anak dan keluarga di rumah,” katanya terkekeh-kekeh.

Untuk melepaskan penat, kebetulan di kampung halamannya terdapat lapangan bola voli. Karena jiwa olahragawan, dia mulai belajar bermain bola voli bersama remaja di lingkungan tempat tinggalnya. Tidak ingin sia-sia, dia kemudian menginisiasi mendatangkan pelatih bola voli. “Jadi tak sekadar mencari keringat saja, tetapi minimal dengan ada pelatih bisa diarahkan dan bisa berprestasi meski hanya di kalangan kelurahan maupun tingkat kecamatan,” tandasnya. (ddy/bay)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news