Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Wartawan Senior Hasan Sentot Berpulang

Peduli Sastra Osing, Tokoh di Jatim Merasa Kehilangan

19 Juli 2021, 16: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PERGI UNTUK SELAMANYA: Hasan Ali Sentot alias Hansen (minum) usai melihat penampilan angklung caruk di Desa Alasmalang, Singojuruh, 10 April 2021 lalu.

PERGI UNTUK SELAMANYA: Hasan Ali Sentot alias Hansen (minum) usai melihat penampilan angklung caruk di Desa Alasmalang, Singojuruh, 10 April 2021 lalu. (Saiful for RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Wartawan senior dan juga pegiat seni budaya Banyuwangi, Hasan Sentot atau akrab disapa Hansen, meninggal dunia pukul 22.00 Minggu malam (4/7) di RSUD Genteng. Mantan wartawan SCTV berusia 56 tahun itu  mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan Covid-19.

Dua pekan lalu, Hansen pulang ke tanah kelahirannya di Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono. Jauh-jauh dari Surabaya, bapak dua anak itu ingin melihat kesehatan ayahnya, Sanusi, yang sedang jatuh sakit. Melihat kondisi ayahnya dirasa membaik, Hansen kembali ke Surabaya. Begitu sampai di Surabaya, dia mendapatkan kabar kalau ayahnya meninggal dunia. Hansen pun kembali lagi ke Banyuwangi bersama keluarganya.

Saiful, adik kandung Hansen mengaku ragu apakah ayahnya meninggal karena Covid atau bukan. Sejak mendapatkan vaksin Covid-19, kondisi kesehatan Sanusi terus menurun. Sempat beberapa kali mengeluhkan sakit dan diperiksa oleh tim medis Puskesmas dinyatakan sehat dan tidak ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). “Kata tim medis yang meriksa akan sembuh dengan sendirinya, tapi kondisi kesehatan ayah saya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia,” ungkap Saiful.

Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19, Pendaftaran Perkara Perceraian pun Dibatasi

Setelah ayahnya sakit dan kemudian meninggal dunia, tiba-tiba banyak anggota keluarga yang kemudian jatuh sakit. Kakak perempuannya, Isnainiatau alias Nanik, 58, juga jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Setelah di-swab, hasilnya positif Covid-19. “Setelah bapak saya, Mbak Nanik juga meninggal dunia,” ujar Saiful tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.

Tak lama setelah Nanik meninggal dunia, selang beberapa hari kakaknya, Hasan Sentot (Hansen) menyusul sakit. Setelah dibawa ke RSUD Genteng, Hansen juga dinyatakan positif Covid-19. Tiga hari berselang setelah mendapatkan perawatan di RSUD Genteng, nyawa kakaknya tidak tertolong dan meninggal dunia pada pukul 22.00. Minggu malam (4/7).

Dalam waktu dua pekan, lanjut Saiful, tiga anggota keluarganya meninggal dunia beruntun. Yang pertama adalah ayah kandungnya Sanusi, yang kedua Nanik, dan terakhir Hansen.“Ndak tahu kok tidak ada tracing, testing dan treatment dari pihak yang berwenang. Padahal, sudah jelas ada yang terkonfirmasi positif Covid-19,” sesalnya.

Setelah tiga anggota keluarganya meninggal dunia, istri Saiful  juga dinyatakan reaktif dan harus menjalani isolasi mandiri bersama kedua putranya. “Alhamdulillah kalau saya negatif dan kesehatan istri saya berangsur-angsur membaik,” terang Saiful.

Semasa hidupnya, Hansen banyak menghabiskan waktunya berkecimpung di dunia  jurnalisitik. Sejak berhenti dari SCTV tahun 2009 lalu, Hansen bergabung dengan PT Jatim Expo, anak perusahaan PT Panca Wira Usaha  (PWU), perusahaan daerah milik Pemprov Jatim. Meski tinggal dan menetap di Surabaya, Hansen tetap peduli dengan seni dan budaya Banyuwangi. Di dikenal aktif dan peduli terhadap perkembangan seni budaya Banyuwangi dan sastra Bahasa Osing.

Juwono, salah seorang seniman Banyuwangi  mengaku mengenal akrab dengan Hansen. Di mata Juwono, Hansen adalah teman sekaligus  keluarga. “Beliau itu teman, guru, mentor, pegiat seni budaya Banyuwangi dan sastra bahasa using,” tutur lelaki yang juga Komisi Seni dan Musik Dewan Kesenian Blambangan ini.

Hansen merupakan pegiat dan pejuang seni Bahasa Osing. Banyak karya sastra dan syair Bahasa Osing yang ditulis Hansen, termasuk pula geguritan Berbahasa Osing. Bahkan, beberapa karyanya juga sudah dibukukan. “Ada satu buku, dan kebetulan saya terlibat untuk berangkat ke percetakan di Jember. Meski tinggal di Surabaya, Kang Hansen aktif nguri-uri (melestarikan) seni budaya Banyuwangi dan sastra Bahasa Osing. Kami sangat kehilangan,” kata Juwono.

Hansen dikenal sosok yang luwes dan mudah bergaul dengan siapapun. Tak heran semasa hidupnya mempunyai banyak teman dari berbagai kalangan. Hansen juga dikenal murah senyum. “Sebelum meninggal dunia, saya juga sempat makan bersama almarhum di warung di Kecamatan Singojuruh. Begitu dapat kabar meninggal dunia saya kaget bukan kepalang, benar-benar kehilangan sosok yang ramah,” kata Juwono.

Kepergian Hansen juga mengundang duka mendalam di kalangan wartawan di Surabaya. Maklum, kiprah Hansen cukup dikenal oleh teman-teman wartawan Surabaya, bahkan Jawa Timur. Kabar duka tersebut langsung menyebar di grup WhatsApp (WA) PWI Jatim. Sekretaris PWI Jatim Eko Pamuji mengaku terkejut mendengar kabar meninggalnya Hansen. ”Mas Hansen dulu sama-sama di menjadi wartawan di koran Karya Dharma. Selepas dari Karya Dharma, saya ke TPI, Mas Hansen ke SCTV. Dia termasuk yang mecetuskan program Liputan 6 SCTV,’’ ujar Eko yang juga ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jatim tersebut.

Mantan wartawan Jawa Pos Ferry Is Mirza juga mengungkapkan kesediahnya atas meninggalnya Hansen. Fim, panggilan akrab Ferry Is Mirza, menuliskan detik-detik perbincangannya dengan Hansen sebelum meninggal. Sabtu (3/7) pukul 06.24, Hansen sempat kirim WA ke Fim. Semenit kemudian disusul kiriman fotonya sedang tiduran sambil menghirup oksigen dari alat yang terpasang dimulutnya.

”Saya mengenal almarhum tahun 1995. Ketika ia hijrah dari jurnalis koran Karya Dharma menjadi reporter SCTV, sedangkan saya  di harian pagi Jawa Pos,’’ kata Fim seperti ditulis dalam media online kempalan.com.

Sejak saat itu persahabatan keduanya terjalin. Pertemanan itu makin erat ketika tahun 2004 Fim pensiun dini dari JP bersama almarhum, serta Adi Awi Sutariyono (Ketua DPRD Surabaya) dan M Sholeh Lawyer bergabung dalam timses Arif Afandi maju Cawali pasangan Bambang DH.

”Hansen meninggal dunai di usia 56 tahun. Almarhum di kalangan wartawan dikenal ramah. Selain itu banyak kolega yang mengenalnya. Atas kebaikkan semasa hidupnya, InsyaAllah almarhum diampuni segala dosanya dan husnul khatimah,’’ kata Fim. (ddy/aif)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya