Minggu, 25 Jul 2021
radarbanyuwangi
Home > Edukasi
icon featured
Edukasi

19 Anak Nakes Diterima di SMA-SMK

16 Juni 2021, 07: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Istu Handono, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi.

Istu Handono, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi.

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Kuota sekolah bagi putra-putri tenaga kesehatan (nakes) dalam PPDB SMA kembali berlanjut. Dari rekapitulasi PPDB jenjang SMA dan SMK, ada 19 anak nakes yang diterima di SMA Negeri di Banyuwangi melalui jalur afirmasi.

Mereka tersebar di enam SMA dan satu  SMK di Banyuwangi. Dari 47 pagu SMA yang disediakan, hanya 17 kursi yang digunakan oleh anak dari tenaga kesehatan. Sedangkan dari 9 SMK, tercatat hanya dua kursi yang digunakan oleh anak nakes dari seluruh jurusan yang menyediakan kuota bagi anak nakes.

Program jaminan kuota khusus bagi anak nakes sudah digulirkan di Jawa Timur sejak PPDB tahun 2020. Program ini diberikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa agar para nakes bisa tetap fokus menangani pasien Covid-19 di tengah berlangsungnya PPDB.

Baca juga: Penderita Epilepsi Ditemukan Meninggal di Dasar Sumur

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Istu Handono kepada RadarBanyuwangi.id mengatakan, sesuai aturan PPDB, anak nakes ditampung dalam jalur afirmasi. Setelah rekapitulasi semua kuota PPDB dilakukan, tercatat ada 19 anak nakes, baik dokter, perawat maupun bidan yang menggunakan jalur tersebut.

Nantinya, para anak nakes akan mendapatkan fasilitas yang sama dengan para siswa lainya. Jika anak-anak nakes tersebut mengalami hambatan saat pembelajaran, terutama terkait pembiayaan sekolah, mereka bisa mengajukan kepada pihak sekolah dan komite. Nantinya pihak sekolah akan mempertimbangkan memberikan keringanan permasalahan pembayaran sekolah.

Meski istilah SPP telah dihapuskan, sekolah menerapkan iuran sukarela dalam bentuk PSM. Baik anak nakes maupun siswa lainya bisa mengajukan keringanan jika mengalami keterbatasan dalam pembayaran. Sekolah akan mengkaji siswa apakah masuk kategori tidak mampu atau setengah mampu untuk mendapatkan sentuhan bantuan. "Jika ada anak nakes yang belum tertampung, kita akan cari solusi selama proses tahun ajaran baru belum dimulai," kata Istu. (fre/aif)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news