Minggu, 19 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Genteng
icon featured
Genteng

Ratusan Armada AMBI Blokir Jalan, Jalur Banyuwangi-Jember Macet

13 Juni 2021, 10: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MEDIASI: Proses mediasi yang dipimpin Plt Kepala Dishub Banyuwangi Dwi Yanto di kantor jembatan timbang Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru, Rabu malam (9/6).

MEDIASI: Proses mediasi yang dipimpin Plt Kepala Dishub Banyuwangi Dwi Yanto di kantor jembatan timbang Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru, Rabu malam (9/6). (SHULHAN HADI/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Arus lalu lintas di jalur utama jurusan Kabupaten Banyuwangi-Jember, sempat macet total pada Rabu malam (9/6). Antrean kendaraan yang cukup panjang, terjadi dari dua arah terjadi mulai pukul 18.00 hingga pukul 20.15. 

Penyebabnya, ratusan armada yang tergabung dalam angkutan material dan barang Indonesia (AMBI), menggelar protes di halaman UPT jembatan timbang Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru. Saking banyaknya armada, kendaraan dump truck itu hingga meluber ke jalan raya. Kendaraan itu berdatangan sejak sore hari dari berbagai daerah di Kecamatan Rogojampi, Srono, Genteng, Gambiran.

Keadaan mulai berangsur normal mulai pukul 20.16. Itu setelah Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Banyuwangi, Dwi Yanto turun dan melakukan pertemuan bersama dari perwakilan AMBI, petugas jembatan timbangan, dan anggota DPRD Syamsul Arifin. Forpimka Kalibaru juga ikut dalam pertemuan bersama itu. “Ada penertiban dan itu tidak rata,” terang pembina AMBI Banyuwangi, M. Ridwan kepada RadarBanyuwangi.id.

Baca juga: Kuota 26 Siswa, Hanya Terisi 3 Pendaftar

Selain itu, terang dia, ada sejumlah kendaraan yang menambah dimensi atau ukuran bak truk dari ukuran standar. Sehingga, dibandingkan truk yang melebihi kapasitas ini lebih diminati. “Kita ingin ada standarisasi,” katanya.

Plt Kepala Dishub Banyuwangi, Dwi Yanto menjelaskan aksi yang dilakukan para sopir truk itu dipicu kecemburuan sosial. Mereka menilai ada upaya tebang pilih dalam melakukan penindakan kepada armada yang mengangkut material, terutama di jembatan timbang. “Ada harapan dari rekan-rekan armada agar diperlakukan sama,” ujarnya.

Dwi menyebut kondisi di lapangan cukup kompleks. Selama ini, mereka menganggap penertiban hanya berlaku di daerah-daerah tertentu. “Keinginan ada penertiban angkutan barang berlaku secara merata,  bukan hanya di satu wilayah,” jelasnya.

Tidak hanya itu, banyaknya truk dengan bak tidak sesuai standar juga memicu banyaknya persoalan di lapangan. Nantinya, juga ada standarisasi bak truk. Jika tidak disamakan, ketika ada armada yang menggunakan bak lebih besar, maka bak standar yang ukurannya lebih kecil tidak laku. “Mereka menuntut ada standardisasi bak. Kalau yang normal muat delapan ton, yang tidak standar mampu muat 10 ton, maka yang delapan ton tidak laku,” jelasnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Genteng, pasca aksi kalangan AMBI itu operasional di jembatan timbang Desa Kalibaru Manis, petugas memilih tidak beroperasi kemarin. “Petugas kelelahan, jadi untuk sementara tidak buka,” terang Koordinator Satuan Pelayanan (Korsapel) Unit Pelaksana Teknis LLAJ Banyuwangi, Jembatan Timbang Kalibaru Manis, Samson W.P.

Operasional di lapangan terkait penimbangan, terang dia, itu bisa disesuaikan kondisi di lapangan. Sehingga, setiap hari tidak meski harus beroperasi. “Ya kita buka, tapi orangnya (petugas) capek semua, buka itu terserah kita,” cetusnya.

Terkait aksi protes yang dilakukan AMBI, Samson menegaskan hanya sebagai pelaksana Kementerian Perhubungan RI di lapangan. Untuk kendaraan yang terkena tilang, semua mengacu pada ukuran yang tertera saat proses penimbangan. Jika memang melebihi ketentuan, maka penilangan dilakukan. “Kita hanya memasukkan kendaraan, kalau melanggar ya tilang,” jelasnya.

Disinggung ada anggapan penilangan hanya menyasar beberapa jenis armada saja, Samson menyebut itu tidak benar. Pihaknya melakukan pelaksanaan sesuai aturan yang ada. “Sesuai SOP, kami tidak ada tebang pilih,” katanya.(sli/abi)

(bw/sli/als/JPR)

 TOP