Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan

Kembangkan Ekonomi, Sinergi dengan Bangli

11 Juni 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

KOLABORASI: Bupati Ipuk dan Wabup Bangli I Wayan Diar meneken nota kerja sama pendistribusian dan pemasaran komoditas pangan antara Banyuwangi dan Bangli, Minggu lalu (6/6).

KOLABORASI: Bupati Ipuk dan Wabup Bangli I Wayan Diar meneken nota kerja sama pendistribusian dan pemasaran komoditas pangan antara Banyuwangi dan Bangli, Minggu lalu (6/6). (EDY FOR RABA)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Pemkab Banyuwangi menjalin sinergi dengan Pemkab Bangli, Bali untuk mengembangkan ekonomi dua kabupaten di dua pulau yang berbeda tersebut. Sinergi diwujudkan dengan kerja sama pendistribusian dan pemasaran komoditas pangan antar kedua wilayah.

Kerja sama ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Bupati Ipuk Fiestiandani dan Wakil Bupati (Wabup) Bangli I Wayan Diar. Penandatanganan MoU dilakukan di Banyuwangi, Minggu lalu (6/6). Penandatanganan MoU itu turut disaksikan Kepala Kantor Perwakilan BI Jember Hestu Wibowo, Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Donny, serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Bangli.

Wabup Bangli I Wayan Diar mengatakan, Banyuwangi merupakan kabupaten dengan produksi beras yang melimpah. Bahkan, di masa pandemi Covid-19, Banyuwangi mengalami surplus beras hingga mencapai 58.290 ton. ”Sedangkan kami (Bangli) adalah produsen telur. Sekitar 54 persen kebutuhan telur di Bali dipasok dari daerah kami. Nah, potensi inilah yang ingin kami kerja samakan,” ujar Wayan kepada RadarBanyuwangi.id.

Baca juga: Hidup yang Berarti Hidup

Wayan berharap, kerja sama ini dapat memicu pertumbuhan ekonomi di wilayahnya. Kabupaten Bangli, kata dia, saat ini tengah melakukan berbagai upaya untuk pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. ”Tidak bisa dimungkiri kondisi perekonomian kami sangat tidak stabil. Pandemi Covid-19 telah berimbas ke segala aspek, utamanya ekonomi. Dengan kerja sama ini, kami berharap bisa melakukan intervensi terhadap penawaran dan permintaan komoditas pangan di pasaran, sehingga semakin ada kepastian ekonomi bagi para pedagang,” kata dia.

Selama ini, kata Wayan, hampir 51 persen perekonomian di Provinsi Bali, termasuk Kabupaten Bangli, sangat bergantung pada sektor pariwisata. Sektor ini terpaksa harus terhenti selama pandemi Covid-19 lantaran adanya kebijakan yang melarang wisatawan asing masuk ke wilayah Bali untuk mencegah penularan penyakit yang disebabkan virus korona tersebut.

Wayan menuturkan, merosotnya sektor pariwisata menyebabkan pertumbuhan ekonomi di Bali mengalami kontraksi hingga 9,3 persen pada 2020. Bahkan tahun ini, pertumbuhan ekonomi Bali masih tercatat minus 5,8 persen. ”Tentu penurunan ini juga sangat kami rasakan di Kabupaten Bangli,” ujar Wayan.

Wayan lantas mengapresiasi kinerja pariwisata Banyuwangi yang bisa segera bangkit dan berangsur pulih meski dihantam pandemi. ”Inilah yang menjadi alasan kami ingin bekerja sama dengan Banyuwangi. Selain pertaniannya memang terbukti bagus, ternyata di tengah pandemi saat daerah lain hancur, justru pariwisata Banyuwangi mampu bertahan. Kami ingin belajar kiat-kiatnya,” akunya.

Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani mengaku gembira dengan kerja sama yang terjalin antara Pemkab Banyuwangi dan Pemkab Bangli. Menurut dia, dengan kerja sama ini dapat menjaga pasokan komoditas high risk di kedua kabupaten. ”Lewat kerja sama ini kami berharap dapat menjaga dan menumbuhkan perekonomian di kedua wilayah. Mana yang kelebihan, mana yang butuh, bisa saling mengisi,” ujarnya.  

Menurut Ipuk, kelebihan yang dimiliki masing-masing wilayah menjadi modal untuk maju bersama. ”Bagi kami, saat ini adalah era kolaborasi, saling bersinergi. Bukan lagi berkompetisi. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kemajuan bersama,” harapnya.

Sekadar diketahui, berdasar data Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, pada 2020 Banyuwangi menghasilkan 788.971 ton gabah kering giling (GKG) atau setara 495.079 ton beras. Sedangkan tingkat konsumsi beras sebesar 165.411 ton. Sehingga pada 2020 terdapat surplus 329.668 ton beras.

Memasuki masa Januari–Maret 2021, produksi GKG Banyuwangi sebesar 158.892 ton atau setara 99.705 ton beras. Adapun tingkat konsumsi Januari–Maret 2021 sebesar 41.415 ton, sehingga terdapat surplus 58.290 ton beras. (sgt/afi/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news