Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Hidup yang Berarti Hidup

Oleh: Nuris Shoimah Hasan*

11 Juni 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Hidup yang Berarti Hidup

Share this          

SEORANG guru besar berhadapan dengan mahasiswanya. Ia memulai mata kuliahnya dengan meletakkan sebuah stoples bening dengan ukuran besar di meja. Kemudian, ia memasukkan bola tenis ke dalam stoples sampai penuh. Saat itu, ia bertanya kepada seluruh mahasiswanya: “Sudah berapa penuh?”. Serentak mereka menjawab: ”Sudah penuh!!!”. Sambil tersenyum, sang dosen mengeluarkan sekantung kelereng dan dimasukkan ke stoples yang telah berisi bola tenis. Kelereng mengisi sela-sela bola tenis, sehingga stoples terlihat penuh. Ia kemudian bertanya lagi: “Sudah penuh?”. Jawaban yang sama dari mereka: “Sudah penuh!!!”. Tidak cukup dengan itu, sang dosen mengeluarkan pasir dan memasukkannya ke dalam stoples. Kontan saja, pasir mengisi bola-bola tenis dan kelereng. Stoples terlihat penuh dan sesak. Dan kemudian, ia kembali bertanya: “Sudah penuh?”. “Sudah!!!”. Demikian jawaban yang sama dari semua mahasiswa.

Akan tetapi, tiba-tiba sang dosen mengeluarkan secangkir air kopi ke dalam stoples. Air kopi menyerap ke dalam pasir hingga stoples semakin penuh dan sesak. Di tengah ketidak mengertian mahasiswa, sang dosen menjelaskan bahwa hidup manusia kapasitasnya terbatasi sebagaimana stoples. Masing-masing manusia memiliki ukuran ‘toplesnya’. Jadi, tergantung bagaimana manusia ingin mengisi kehidupannya secara penuh atau sebatas pasir.

Kemudian, seorang mahasiswa mengangkat tangan, “Lantas, apa maksudnya penyiraman kopi itu?” Sang dosen menjelaskan bahwa kopi sebagai symbol silaturrahmi. “Sesibuk apa pun kita, jangan sampai lupa untuk menyempurnakannya dengan silaturrahmi sambil meminum kopi.” Katanya dengan mantap.

Baca juga: Pantang Menyerah sebelum Lulus Tes Kuliah

Kisah ini adalah bagian dari ilustrasi kehidupan manusia. Seabrek persoalan melilit dengan pikiran yang kadang kalut karena demikian sesaknya mengisi relung perasaan. Keluarga, profesi, tetangga, organisasi dan aktivitas sehari-hari demikian menambah pikiran dan tanggung jawab manusia dalam hidup. Ada yang berkelas bola tenis, kelereng atau bahkan pasir, sementara waktu terbatas hanya 24 jam dalam sehari semalam. Akan tetapi, sejauh mana kita bisa menaruh semua persoalan itu dalam kehidupan kita yang porsinya terbatas.

Dalam profesi, misalnya, kita selalu dihadapkan pada setumpuk tugas yang harus dituntaskan setiap hari, setiap pekan dan setiap bulan. Dikejar oleh target perusahaan atau kadang benturan dengan waktu untuk keluarga. Di situlah kadang terdapat dua hal yang berseberangan, antara pekerjaan yang mendesak atau keluarga yang membutuhkan perhatian. Dalam pekerjaan pun kadang ada hal penting yang lebih penting.  Dalam kehidupan, rumus mendahulukan yang lebih penting menjadi hal yang tak terhindarkan. Kita harus mampu memilih mana yang lebih penting untuk didahulukan dari seabrek persoalan hidup yang dihadapi, Karena kapasitas waktu demikian terbatas. Istilahnya, harus ada “Pilihan cerdas” ketika ada tumpukan masalah yang harus terselesaikan dalam rentang waktu yang singkat.

Dalam ilmu fikih ada kaidah umum, yakni al-aham tsummal aham (dahulukan yang lebih penting, kemudian yang lebih penting lagi). Dalam mengatur waktu, kita bisa mengemas semua persoalan dalam dua karakter: “penting” dan “mendesak”. Persoalan yang memiliki karakter ini mempunyai kelas prioritas, sehingga dinilai jauh lebih penting untuk didahulukan ketimbang yang hanya memiliki satu karakter saja, apalagi yang tidak memiliki karakter sama sekali. Kita bisa membuat daftar setiap hal dengan dua karakter tersebut.

Artinya, kapasitas waktu dalam hidup kita harus menjadikan kita manusia hidup yang bermanfaat dan dapat meluangkan waktu untuk mencipta perubahan bagi sekitar. Bukan hanya sibuk dengan diri sendiri dan abai terhadap lingkungan sekitar. Kapasitas waktu yang terbatas menjadi sangat penting bagi kita untuk mendahulukan sesuatu yang tidak hanya menjadi ambisi kita. Sebagaimana stoples, kita harus pintar saat mengatur segala sesuatu yang masuk, sehingga stoples dapat terisi penuh. Dan, jangan hanya mengisi penuh stoples tersebut dengan pasir. Karena, waktu kita lebih berharga dari itu. Semoga di bulan yang suci ini Allah menjadikan waktu kita waktu yang berkah dan bermanfaat dalam menjalankan ibadah puasa. Waalu a’lamu bi-s shawabi.(*)

*) Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia 2018, Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi. Mahasiswi asal Jangkar, Situbondo.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news