Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Pantang Menyerah sebelum Lulus Tes Kuliah

Oleh: Nadiva Afni Azizah*

11 Juni 2021, 10: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Pantang Menyerah sebelum Lulus Tes Kuliah

Share this          

BUKAN lagi tentang sepatah dua patah kata untuk penyemangat, tapi tentang rasa percaya diri melakukan segalanya meski pernah dijatuhkan dan dipatahkan secara berulang. Ketika di ujung waktu wisuda SMA, bukan lagi tentang profesi yang dulu kita impikan sejak usia dini, tetapi apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil untuk mewujudkan impian serta cita di masa kecil.

Lulus SMA bekerja? Tak ada yang melarang hal itu. Namun, alangkah baiknya jika melanjutkan untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Menikah? Juga bukan hal yang dilarang ketika sudah lulus sekolah. Tapi, perlu dipikirkan lagi, berkeluarga bukan hanya tentang hidup dan bahagia bersama pasangan, tapi bagaimana kita bertahan hidup di saat ekonomi yang mungkin belum mapan.

Lantas, bagaimana jika memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi? Itu menjadi keputusan yang sangat tepat. Mengapa demikian? Masa muda tak mungkin terulang lagi bukan? Lalu, untuk apa tergesa-gesa mengambil keputusan berkeluarga jika posisi kita masih dalam tanggungan orang tua. Ambil keputusan terbaik menurut Anda. Jika memang yakin melanjutkan untuk berkuliah, jangan sia-siakan kesempatan itu.

Baca juga: Suzuki Ertiga diraih Supiyani, Nasabah BRI Unit Blambangan

Mulai dengan memanfaatkan gadget yang kamu miliki. Cari tau segala bentuk jalur yang mungkin dapat kamu tempuh untuk mewujudkan keinginan yang bahkan sudah kamu rancang jauh-jauh hari. Catat tanggal penting yang berkaitan dengan pendaftaran, pencetakan kartu peserta, dan tes atau ujian untuk jalur yang berbasis tes.

Tak usah memikirkan kisaran biaya yang nanti harus dibayar oleh orang tua. Fokuskan diri untuk bisa menembus salah satu jalur yang memang kamu impikan. Bagaimana jika ditolak secara beruntun? Yakinkan diri kembali, pasang tameng yang lebih kuat, kencangkan ikhtiar dan doa. Gagal bukan akhir dari sebuah perjuangan, berpikirlah positif mungkin Sang Pencipta ingin mendengar doa serta melihat ikhtiar lebih sering lagi.

Gagal adalah wajar. Semua butuh gagal dalam proses kesuksesan. Jangan menganggap gagal adalah sebuah kesialan. Terus lakukan yang terbaik sesuai kemampuan. Sekali dua kali gagal masih wajar. Terus bangkit dan mulai susun strategi selanjutnya yang akan diambil. Masih banyak jalur lain yang bisa kamu tempuh setelah gagal menghampiri.

Tak lulus jalur rapor? Masih banyak jalur lain dalam bentuk tes. Yakin bahwa kamu bisa lulus lewat jalur tes. Mulai mempersiapkan diri dengan latihan soal yang mungkin bisa membantu kelak saat melakukan tes tulis. Jangan pernah menganggap remeh saingan, karena jika kamu lengah sedikit saja, banyak di luar sana para pesaing yang berjuang untuk memperebutkan kuota di universitas yang sama.

Susun strategi yang akan kamu gunakan untuk mengikuti jalur tes. Misalnya, sebelumnya gagal karena salah mengambil jurusan, atau mungkin salah penempatan prioritas jurusan yang diambil. Selanjutnya, jadikan hal tersebut sebagai suatu pengalaman dan pembelajaran. Gali lebih dalam lagi mengenai kampus yang dituju. Mulai dari jurusan, kuota mahasiswa pada jurusan tersebut, serta akreditasi, yang mungkin dapat membantu kamu untuk mengambil skala prioritas.

Siapkan secara matang sebelum melakukan tes. Tanamkan prinsip gagal adalah hal yang wajar, jadikan pelajaran jangan malah membuat menyerah dan tumbang. Iringi ikhtiar dengan doa. Kuatkan mental serta fisik, jika memang nanti hasil yang diterima tak sepadan dengan usaha keras serta doa istiqomah yang dijalani.

Namun, bila usaha tak berbuah manis, lanjutkan terus dengan usaha yang lain. Jangan mudah tumbang dengan segala ujian yang menerpa. Ikuti jalur mandiri. Uang pangkal? Jangan jadikan uang pangkal sebagai kendala untuk mencoba jalur mandiri. Tak semua perguruan tinggi menargetkan uang pangkal di setiap jalur mandiri.

Cari informasi beberapa perguruan tinggi yang tidak memungut uang pangkal sama sekali. Bahkan, kalau mau usaha keras untuk mencari berbagai informasi dari bermacam-macam sumber, pasti akan mengetahui perguruan tinggi mana saja yang tak memerlukan uang pangkal. Jika mencoba mengikuti seleksi mandiri di Universitas Islam Negeri (UIN), tak perlu membayar uang pangkal. Namun, kemungkinan besar biaya UKT akan sedikit lebih berbeda dari jalur lainnya. Tetapi itu juga disesuaikan dengan pendapatan atau gaji orang tua.

Jadi bagaimana? Kendala apa yang sekarang dialami untuk melanjutkan pendidikan? Semua tergantung bagaimana cara menyikapi serta menindaki apa yang diambil sebagai keputusan terbaik. Jika memang biaya menjadi satu-satunya faktor yang menghambat, coba cari beasiswa yang mungkin dapat membantu biaya kuliah.

Untuk yang sekarang masih berjuang di Perguruan Tinggi impian, jangan mudah menyerah. Lanjutkan segala rencana yang sudah kamu siapkan. Jangan berhenti di separo usaha. Karena, kita tidak pernah mengetahui progress yang kita lakukan. Pantang menyerah buat kamu yang berjuang di jalur tes Perguruan Tinggi. Ditunggu kabar baiknya. (*)

*) Alumnus MAN 1 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news