Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Menyembuhkan Luka Batin

Oleh: Aloysius Djono Moi*

11 Juni 2021, 09: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Menyembuhkan Luka Batin

Share this          

PADA waktu yang lalu, saya menulis tentang cara mengatasi stres. Saat ini saya menulis tentang “menyembuhkan luka batin.” Luka batin itu luka yang berhubungan dengan batin. Penyembuhannya bisa terjadi dalam waktu yang lama, bisa dalam waktu yang singkat. Tergantung berat ringan lukanya. Prinsipnya, bisa disembuhkan. Hanya butuh kemauan dan keterbukaan kita yang mengalaminya.

Apa sih luka batin itu? Luka batin itu “luka” yang terjadi dalam diri kita bila ada “benturan” dari luar, bila ada tekanan yang terjadi secara luar biasa berat atau terjadi secara terus-menerus. Batin kita yang terluka akan menimbulkan rasa sedih yang mendalam, cemas, galau, murung, marah terus-menerus, emosi tidak terkendali, jengkel, dendam, hidup tidak terarah, hilang gairah hidup, tidak bahagia, cenderung menyalahkan orang lain, merasa takut, dan perasaan negatif lainnya.

Bagaimana menyembuhkannya? Marilah kita menyimak tulisan ini. Tawaran penyembuhan luka batin ini berdasar pengalaman saya di dalam membantu orang yang telah mengalami luka batin dan telah sembuh:

Baca juga: Sedia Jerami Sepanjang Tahun

Pertama, Kalau kita yang mengalami luka batin, kita harus dengan hati yang terbuka, pikiran yang jernih dan perasaan yang tenang berusaha menghadirkan kembali atau menyimak kembali pengalaman hidup yang telah menyebabkan hati kita sendiri terluka. Jangan pernah takut mengungkapkannya kepada seseorang yang telah kita percaya.

Kedua, kemudian kita mengisahkan masalah yang terjadi dengan jujur dan tulus apa adanya. Ungkapkan kepada orang yang dapat kita percaya, entah ayah, ibu, pemuka agama, pembimbing rohani, psikologi dan sebagainya. Tentunya orang yang kita pandang dapat membantu. Akan tetapi mereka semua hanya sebagai “fasilitator.” Sembuhnya luka batin, tergantung diri kita.

Ketiga, ketika kita hadir mengisahkan pengalaman hidup yang menyebabkan “luka batin,” lihatlah secara seimbang dua sisinya. Katakan salah kalau itu salah, katakanlah benar bila benar. Jangan pernah kita hanya melihat sisi baiknya atau sisi buruknya. Jangan pernah kita menyalahkan diri sendiri atau pun orang lain. Lihatlah seluruh peristiwa yang terjadi itu secara menyeluruh dan objektif. Ungkapkan semuanya secara terbuka, jujur apa adanya.

Keempat, buka persoalan dan latar belakang terjadinya peristiwa yang menyakitkan itu secara objektif dan jelas. Apa yang memicu masalah itu. Siapa-siapa saja yang ada di dalamnya. Bagaimana tindakannya? Apa reaksi dan tindakan kita? Ungkapkan masalah yang sebenarnya. Jangan pernah menutupinya. Kita tidak bisa menyelesaikan persoalan, bila kita tidak memahami secara tepat akar persoalannya.

Kelima, sebagai pribadi yang ingin sembuh dan membebaskan diri dari luka batin, kita perlu terbuka, jujur dan rela menerima situasi dan keadaan apa adanya, entah itu yang baik maupun yang tidak baik, entah menyenangkan atau pun menyakitkan. Ketika kita memiliki perasaan “rela” menerima situasi apa adanya, pada saat itu sebenarnya hati kita telah “sedikit” terbuka untuk menerima diri sendiri apa adanya. Luka batin yang terungkap melalui perasaan perlahan mulai sembuh, hati kita mulai terbuka.

Keenam, bila keadaan memungkinkan, pribadi yang menyebabkan luka batin pada diri kita bisa dihadirkan. Tatkala ia hadir, ia bisa membantu juga mengisahkan hal yang sesungguhnya terjadi. Ia juga bisa secara langsung mengampuni atau memaafkan kita yang sedang mengalami luka batin. Sebagai contoh, ketika saya menangani orang yang terluka karena kata-kata atau tindakan “kejam” ayah atau ibu, kakak atau adik, bahkan ayah tiri atau ibu tiri, saya pun meminta mereka untuk hadir secara bersama. Pada saat itu mereka saling membuka diri mengatakan apa adanya. Terjadi pengampunan yang sesungguhnya.

Ketujuh, sebagai seorang yang mengalami luka batin, apalagi luka batin yang berat, kadang kita tidak mau membuka diri untuk memaafkan yang menyebabkan. Kalau kita ingin sembuh, kita harus terbuka menerima kenyataan serta bersedia mengampuni orang yang telah menyebabkannya. Ketika kita terbuka mengampuni orang yang telah melakukan kejahatan kepada kita, pada saat yang sama sesungguhnya kita terbuka untuk mengampuni diri kita sendiri. Ketika kita mengampuni, pada saat itu terjadi penyembuhan luka hati kita sendiri.

Kedelapan, janganlah kita mengabaikan Allah. Percayalah bahwa hidup ini berasal dari-Nya dan sedang melangkah menuju kepada-Nya. Dialah Allah kita. Dialah penuntun hidup serta kekuatan kita. Mintalah kekuatan kepada Allah supaya kita memiliki keberanian untuk mengampuni diri sendiri, dan berani juga mengampuni orang yang telah melukai kita. Ketika kita mengampuni diri sendiri, pada saat itu sebenarnya kita sedang menyembuhkan luka batin kita sendiri. Ketika kita berani mengampuni kesalahan orang, sesungguhnya kita sedang mengampuni keangkuhan, kesombongan diri sendiri. Allah tidak mengharapkan supaya kita menjadi sombong dan membenci orang lain, walau mereka telah melukai kita.

Kesembilan, bangunlah dalam diri kita suatu kesadaran bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau hanyalah tapak sejarah hidup, yang tidak bisa kita hadirkan kembali pada masa kini. Pengalaman masa lalu, itu fakta sejarah perjalanan hidup yang tidak bisa kita hilangkan, yang tidak bisa kita perbaiki karena telah terjadi. Sebagai orang yang pernah terluka karena masa lalu, usaha yang dapat kita lakukan agar dampaknya jangan sampai mempengaruhi hidup kita pada masa kini. Janganlah kita menghidupi kembali pengalaman masa lalu di dalam hidup masa kini, karena tidak ada gunanya. Hiduplah sekarang ini secara penuh saat ini!

Kesepuluh, sadari bahwa sesungguhnya kita sendiri yang membuat hati kita terluka. Sebenarnya “orang lain” hanyalah kamuflase diri kita untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan keadaan maupun orang lain. Kita sedang menjadikan diri sendiri sebagai “objek” bukan subjek atau pelaku utama. Kita sedang menjadikan diri kita sebagai “korban.” Kita sendiri yang menyebabkan luka batin itu terjadi pada kita, bukan orang lain. Kita sendiri yang membuat hidup tidak berdaya, kita sendiri yang menyebabkan “luka batin” itu. Bukanlah kita ini “tuan atas diri kita”? Bukankah kita ini “nakhoda” bagi diri kita?

Kesebelas, kita sendiri yang bisa membuat diri tertawa dan menangis. Akan menjadi seperti “apa” diri kita nanti, semuanya tergantung pada apa yang kita taburkan ke dalam hidup ini. Kalau kita menabur kebencian, sakit hati dan dendam, maka itulah yang akan tumbuh dan mewarnai kehidupan kita. Kalau kita menabur kedamaian, keadilan, kejujuran dan kegembiraan, maka itulah yang tumbuh dan mewarnai perjalanan hidup kita dari hari ke hari.

Keduabelas, taburkan pada diri sendiri pikiran yang baik, perasaan yang positif, pandangan yang bermakna. Semuanya itu akan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang bermakna. Orang lain akan mendengarkan buah pemikiran kita, karena buah-buah pemikiran tersebut selalu membantu mereka di dalam memaknai kehidupan ini. Orang lain akan senang bersama kita, kalau mereka merasakan nilai-nilai kebaikan di dalam hidup bersama kita. Orang lain akan mengikuti jalan pemikiran kita, karena mereka menyimak buah-buah pemikiran kita yang bisa membantu hidup mereka.

Ketigabelas, luangkan waktu untuk diri sendiri dengan mengikuti kegiatan dalam rangka penyembuhan luka batin. Meluangkan waktu untuk diri sendiri, akan menjadi suatu kesempatan yang sangat baik di dalam proses menyembuhkan luka batin. Dalam kesunyian, kita akan berjumpa dengan diri kita yang sesungguhnya, berbicaralah dengan diri kita, menangis dan tertawalah bersamanya. Ikuti kegiatan apa pun yang bisa membuat diri kita sibuk dan berkembang ke arah yang baik.

Akhirnya, kita harus menyadari bahwa luka batin itu berakar di dalam diri kita, bukan di luar diri. Karena itu bila kita terus menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya, kita tidak akan pernah sembuh. Bertanya pada diri sendiri, kapan dan mengapa kita mengalami luka batin. Luka batin selalu berasal dari peristiwa yang telah berlalu. Sepahit apa pun peristiwa itu, kita harus memahami bahwa kita tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi. Yang dapat kita lakukan ialah melepaskan pengampunan terhadap diri kita sendiri maupun orang yang telah melukai kita. Setelah itu serahkan semua beban kepahitan, kemarahan, sakit hati kepada Allah. Biarkanlah Allah yang menyelesaikannya. Bangunlah kehidupan kita secara baru dengan suatu suasana hati dan pandangan yang baru. (*)

*) Pemerhati kehidupan dan penulis, tinggal di Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news