Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Menunggu 9 Tahun, Penjual Kopi Dua Kali Gagal Berangkat Haji

10 Juni 2021, 20: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TERSIMPAN RAPI: Sahrowi menunjukkan pakaian ihram dan kain batik yang masih terbungkus plastik di rumahnya di Kebunrejo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, kemarin (8/6),

TERSIMPAN RAPI: Sahrowi menunjukkan pakaian ihram dan kain batik yang masih terbungkus plastik di rumahnya di Kebunrejo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, kemarin (8/6), (SHULHAN HADI/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id - Sebanyak 1.048 Calon Jamaah Haji (CJH) asal Banyuwangi, dipastikan pada musim haji tahun ini tidak bisa berangkat lagi ke tanah suci Makah, dan mereka harus sabar menunggu setahun lagi. Padahal, setahun lalu juga gagal berangkat karena pandemi Covid-19.

Kepastian para CJH tidak berangkat haji, itu setelah ada pengumuman dari pemerintah yang disampaikan Menteri Agama (Menag) RI, Yaqut Cholil Qoumas pada Kamis (3/6), dan tertuang dalam Keputusan Menteri Agama nomor 660 tahun 2021 tentang pembatalan keberangkatan jemaah haji pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2021.

Para CJH tidak bisa berbuat apa-apa atas pengumuman itu, selain menunggu dan sabar. “Tahun ini yang kedua gagal berangkat, seharusnya saya itu berangkat tahun 2020, tapi gagal karena pandemi, dan tahun ini gagal lagi,” terang Sahrowi, 60, warga Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng yang akan berangkat haji bersama istrinya, Nuniyah, 56.

Husni Ramadhan dan Akhmad Bahri

Husni Ramadhan dan Akhmad Bahri (SHULHAN HADI/RABA)

Baca juga: Jalur Prestasi di Sekolah Pinggiran Minim Pendaftar

Sahrowi mengaku kecewa dengan tidak bisa berangkat itu. Apalagi, guru di madrasah ini menyampaikan gagal berangkat sampai dua kali berturut-turut. “Saya hanya bisa pasrah saja,” katanya pada RadarBanyuwangi.id.

Untuk bisa berangkat haji ini, Sahrowi bersama istrinya mendaftar tahun 2019. Jadi, untuk bisa melaksanakan rukun Islam kelima ini harus menunggu selama sembilan tahun. “Saat mau berangkat ada pandemi,” terangnya.  

Menurut Sahrowi, jika tahun ini pemerintah memberangkat jamaah haji dengan pembatasan kuota, kemungkinan besar tidak bisa berangkat atau memilih menunda. Tahun ini kuota dunia hanya 45 ribu. Jika Indonesia mendapat bagian 10 persen dari kuota itu, yang berangkat sekitar 4.500 CJH. Bila jumlah itu dibagi rata se-kabupaten dan kota di Indonesia, maka Banyuwangi hanya mendapat bagian sekitar 10 CJH. “Kemungkinan berangkat kecil, kalau harus berangkat hanya sendiri dan itu saya piker-pikir,” kata kepala MI Annidhom,  Kebunrejo, Desa Genteng Wetan itu.

Gara-gara gagal dua kali berangkat ini, ada kata-kata candaan yang terlontar kalau penundaan ini berarti CJH belum menerima panggilan Allah. “Meski hanya sekedar candaan, itu sebenarnya tidak benar, kita daftar haji saja, itu sudah dipanggil Allah,” ujarnya.

Sahrowi berharap pandemi segera berakhir, sehingga tahun depan bisa berangkat ke Makah. Apalagi, untuk persiapan sudah dilakukan sejak dua tahun lalu. “Ini pakaian untuk ihram dan  seragam yang dibagi tahun 2020 belum saya buka,” cetusnya.

CJH lainnya Akhmad Bahri, 56, asal Dusun Krajan, Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru mengaku harus terima dan ikhlas dengan kebijakan pemerintah yang tidak mengirim jamaah haji tahun ini. “Kalau perasaan, saya sangat kecewa sekali,” katanya.

Bahri mengaku penantian untuk bisa berangkat haji itu sudah cukup lama. Ia juga ingin bisa segera menginjakkan kaki di tanah suci Makah. Keinginannya untuk bisa bertemu ka’bah ini sampai terbawa mimpi. “Saking kepinginnya (melihat kakbah), sampai mimpi-mimpi,” ujarnya.

Bahri mengaku mendaftar haji sejak tahun 2011. Untuk bisa berangkat haji, harus menunggu Sembilan tahun lamanya. Tapi saat akan berangkat tahun 2020, pemerintah tidak memberangkatkan haji hingga dua kali secara berturut-turut. “Untuk membayar biaya haji, saya menabung cukup lama, hasil panen kopi dikumpulkan,” terang petani kopi itu. 

Hal yang sama juga disampaikan CJH usia muda, Husni Ramadhan, 27, asal Dusun Kranjan, Desa Padang, Kecamatan Singojuruh. Gara-gara pandemi Covid-19, ia bersama empat saudaranya dua kali gagal berangkat haji. Tapi, ia menyambut baik kebijakan pemerintah dengan pembatalan ini. Dengan pandemi yang masih berlangsung, jika dipaksakan bisa memicu masalah kesehatan yang serius. Apalagi, ibadha haji itu mempertemukan orang dari seluruh dunia dengan kondisi kesehatan yang bermacam-macam. “Saya ikhlas ditunda,” ungkapnya.

Faktor usia yang relatif masih muda, harus bisa lebih menahan diri. Dan ini, tidak bisa disamakan dengan CJH yang sudah mulai lanjut usia. “Saya dan saudara masih muda, mungkin tidak terlalu terpengaruh. Kecuali CJH yang sudah sepuh mungkin ya keberatan,” katanya.(sli/abi)

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news