Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Man Nahnu
icon featured
Man Nahnu

Bunga Desa Camping Embun

Oleh: Samsudin Adlawi *

09 Juni 2021, 19: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Bunga Desa Camping Embun

Share this          

BUPATI, wali kota, gubernur, dan presiden. Apa yang (bisa) mereka lakukan dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.

Membangun infrastruktur. OK.

Tapi, jangan harap sudah sempurna wujudnya. Misal, jalan raya dan gedung. Atau, bangunan fisik lainnya. 

Baca juga: Alap-Alap Curanmor 17 TKP Dilumpuhkan Timah Panas

Bisa jadi, proyeknya masih berupa gambar. Atau, malah dalam proses perencanaan anggaran. Atau, masih proses lelang. Atau, bahkan, belum bisa diutak-atik sama sekali. Karena anggarannya belum ada. Tersebab, anggarannya  sudah ”disetel” sedemikian rupa. Oleh pemimpin yang digantikannya. Walhasil, tak ada pos anggaran untuk membiayai program-program yang dikampanyekannya.

Fenomena yang lain: ada pemimpin yang menghabiskan 100 hari pertama kepemimpinannya larut dalam euforia. Sibuk menggelar tasyakuran dengan pendukungnya. Sibuk anjangsana ke sana kemari. Sibuk lobi-lobi ke pemerintah provinsi sampai pusat. Meminta proyek provinsi dan nasional.

Itu masih mending. Ada yang menghabiskan 100 hari pertamanya melakukan bongkar pasang pegawai. ”Menghabisi” para staf dan pejabat yang dianggap menjadi geng pemimpin sebelumnya. Lalu, diganti dengan staf-pejabat baru. Yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mendukungnya. Selama masa kampanye.

Masih banyak lagi. Fenomena-fenomena yang lain. Anda pasti punya lebih banyak catatan. Daripada saya.

Ketika ditanya: bagaimana 100 hari kepemipinan Ipuk-Sugirah. Saya jawab dengan enteng: Bunga Desa Camping Embun.

Loh, kok?

Saya menjawab dengan jujur. Berdasar apa yang saya lihat. Serta rasakan langsung. Tidak mengada-ada. Tidak mengarang.

Saya juga tidak bisa menilai: Ipuk-Sugirah gagal mewujudkan janji-janji visinya dalam 100 hari kepemimpinannya. Penilaian seperti itu terlalu abstrak.  

Maka, ketika dipaksa menjawab sekali lagi, saya keukeuh menjawab: lebih tertarik membahas ”Bunga Desa Camping Embun”.

Alasannya simpel. Dan, sesuai akal sehat. Dunia lagi pandemi Covid-19.

Ini fakta. Belum terbantahkan. Sampai sekarang. Betapa cengkeraman pandemi Covid-19 begitu kuatnya. Memorak-porandakan segala lini kehidupan. Pertumbuhan ekonomi terjun bebas. Dampaknya kontan: angka kemiskinan meningkat.

Pandemi korona juga menyebabkan sumber pendapatan negara turun. Sumber pendapatan rakyat pun mengikutinya. Rakyat kecil begitu susah. Banyak yang kehidupannya tak menentu.

Dalam kondisi seperti itu, negara harus hadir. Pemerintah pusat sampai daerah harus gerak cepat. Membantu rakyatnya.

Masalahnya, dananya terbatas. Cupet. Banyuwangi, misalnya. Kekuatan APBD-nya berkurang signifikan. Dari Rp 3,3 triliun pada 2020, menjadi Rp 2,7 triliun pada 2021. Sudah turun Rp 600 miliar, masih harus di-refocusing lagi. Untuk berbagi dengan biaya penanganan Covid-19.

Dalam kondisi seperti, jika Anda bupati, apa yang (bisa) Anda lakukan. Pusing, bukan?

Bisa saja, Anda pakai gaya lama. Yang penting, bisa memberi angin surga kepada rakyat. caranya: melobi pusat dan provinsi. Minta bantuan proyek ini dan itu. Dengan alasan yang sangat meyakinkan. Misal, dalam rangka mendukung program pemerintah. Yakni, memajukan pariwisata. 

Pemerintah pusat/provinsi pasti senang menerimanya. Tapi, masalahnya kan sama. Sama-sama dihajar pandemi Covid-19. Dana dari pusat/provinsi juga bernasib sama. mengalami refocusing. Mereka pasti membantu. Tapi jangan harap, bantuannya sebesar ketika sebelum pandemi. Konsekuensinya, bantuan diberikan secara bertahap.

Langkah taktis Bupati Ipuk Fiestiandani Aznas Anas patut dipuji. Dia berpikir realistis. Ada dua pilihan. Yang harus diambil seorang pemimpin. Dalam kondisi pandemi berat seperti sekarang. Ternyata, Ipuk tegar. Dia tidak merengek ke pemerintah pusat. Minta bantuan proyek infrastruktur. Atau, minta anggaran untuk memajukan pariwisata. Toh, justru pemerintah pusat yang datang sendiri ke Banyuwangi. Terbaru, Mendagri Tito Karnavian yang datang ke Bumi Blambangan. Meninjau Mal Pelayanan Publik (MPP). Dan, banyak fasilitas lainnya. Tito terkagum-kagum. Dan, menyatakan dengan tegas: daerah lain harus mencontoh Banyuwangi!

Bukannya tidak kelimpungan. Kota the Sunrise of Java juga sama dengan daerah lain. Sama-sama terpukul oleh pandemi Covid-19. Bedanya, Banyuwangi tampak tidak kalang-kabut. Karena Ipuk-Surigah memilih pilihan kedua. Yakni, mempertahankan yang sudah berjalan. Diupayakan sedimikan rupa. Agar tidak begitu terdampak. Malah, mereka berdua mengambil jalan yang tidak populer. Yakni, membantu rakyat kecil. Rakyat di desa-desa. Yang mulai sulit hidupnya.

Caranya, masyarakat kecil itu tidak perlu datang ke MPP. Atau kantor SKPD. Karena, Bupati Ipuk yang ngalah. Sepekan sekali, bupati ngantor di desa (Bunga Desa). Di desa yang terpilih, Ipuk melakukan aktivitas sehari penuh. Dari pagi sampai petang. Diawali keliling desa, datang tenant UMKM, sekolah, pasar, sanggar tari, dan tempat-tempat lain—sesuai masukan dari kades/rakyat. Merekam masukan dan keluhan dari rakyat. Sorenya, masukan dan keluhan itu dibahas. Dan, diselesaikan di kantor desa. Bersama SKPD terkait.

Hasilnya nyata. Bahkan, saya melihatnya sangat fenomenal. Bunga Desa ternyata ampuh untuk mengakselerasi penanganan masalah. Terutama yang dialami oleh rakyat kecil.      

Dari catatan saya. Ipuk sudah melakukan 11 kali Bunga Desa. Hingga putaran ke-11, berhasil menuntaskan 23 ribu berbagai permasalahan. Mulai kesehatan, pendidikan, administrasi kependudukan, sertifikat rakyat, jaminan sosial, pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, kepemudaan, rumah tinggal, dlsb.

Orang waras akan menilai itu sebuah prestasi. Siapa sangka, sampai sebanyak itu persoalan yang dialami masyarakat desa.

Lebih menggembirakan lagi, permasalahan yang diselesaikan itu tergolong masalah mendasar. Yang, sangat mungkin, tidak dialami oleh orang kota. Dalam pengertian lebih luas, apa yang dilakukan Ipuk menjadi berkah rakyat setempat. Bahkan, orang dikatakan sejahtera tidak semata karena hajat hidupnya jauh dari kecukupan. Melainkan jika kebutuhan mendasar mereka, seperti pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukannya sudah beres. Itu artinya, disadari atau tidak, Ipuk sudah menunaikan sebagian janji kampanyenya. Yang tertuang dalam visi: maju, sejahtera, dan berkah.

Wa ba’du. Hasil sementara (selesaikan 23 ribu permasalahan hanya dalam 11 kali Bunga Desa) itu jangan sampai ketahuan tim MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia). Mereka bisa datang ke Banyuwangi. Menghadiahi sertifikat MURI. Rekor penyelesaikan masalah terbanyak di 11 desa. Jangan pula sampai kedengaran tim Guinness World Records. Mereka bisa melakukan hal yang sama dengan MURI.   

Apalagi ditambah program ”Camping Embun”. Program lain bupati. Camping di Perkebunan.Untuk apa? Sesuai namanya. Menyelesaikan permasalahan ”pElayanan Masyarakat keBUN (Embun)”. Dengan camping atau bermalam di sekitaran perkebunan. Mendirikan tenda. Jika diperlukan. Untuk memberikan pelayanan administrasi kependudukan. Kepada masyarakat sekitar kebun. Dari pagi sampai malam. ”Dengan pertimbangan. Bagi warga kebun yang pagi bekerja bisa datang pada malam harinya. Untuk mengurus dokumen adminduknya,” kata Kepala Dinas Kependudukan Banyuwangi Juang Pribadi.

”Camping Embun” baru dua kali digelar. Di PTPN XII Malangsari dan Alasbuluh. Di Malangsari terselesaikan 1.611 permasalahan adminduk. Sedangkan di Alasbuluh sebanyak 598. Bupati Ipuk juga hadir di Camping Embun. Saya lihat fotonya di koran ini, beberapa waktu lalu. Ketika menyerahkan berkas adminduk kepada masyarakat perkebunan. (Budayawan, Penulis Banyuwangi)  

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news