Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Cara Warga Desa Bangorejo Usir Hama Tikus

Dua Tahun Lupa Selamatan, Hasil Panen Menurun

09 Juni 2021, 18: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Petani Bangorejo menggelar selamatan di sawah. Ritual ini diyakini bisa mengusir wereng dan tikus yang menyerang tanaman pertanian.

Petani Bangorejo menggelar selamatan di sawah. Ritual ini diyakini bisa mengusir wereng dan tikus yang menyerang tanaman pertanian. (KRIDA HERBAYU/JPRG)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Selamatan dengan doa bersama dan tumpengan yang digelar para petani di tengah sawah Desa/Kecamatan Bangorejo pada Minggu (6/6), sudah menjadi tradisi. Mereka percaya, ritual itu bisa meningkatkan hasil panen. Begitupun sebaliknya, bila tidak digelar akan mengancam hasil panen.

Bagi para petani di Dusun Gumukrejo, Desa/Kecamatan Bangorejo, doa bersama dan tumpengan untuk keberhasilan pertanian, sudah menjadi hal yang lumrah. Dengan ritual itu, tanaman di persawahan bisa memberi berkah dan aman selama masa tanam.

Selamatan itu sebagai bentuk wujud syukur dan tolak bala. Doa bersama yang digelar di tengah sawah dengan membawa tumpeng itu, dilakukan karena sudah dua tahun ini seluruh tanaman petani mulai dari jeruk, jagung, padi, semangka, dan cabai ludes diserang tikus.

Baca juga: Sakit Sejak 2018, Wartawan Senior Jamhari Akhirnya Berpulang

”Sudah dua tahun ini kami tidak bisa merasakan melimpahnya hasil panen,” ujar Sujiono, salah satu tokoh agama Dusun Gumukrejo, Desa/Kecamatan Bangorejo, kepada RadarBanyuwangi.id.

Dalam kurun dua tahun terakhir, para petani merugi lantaran banyak hama tikus yang menyerang tanaman padi dan jagung. Meski mereka sudah melakukan berbagai macam cara untuk mengusir dan melenyapkan tikus, tapi yang dilakukan tidak membuahkan hasil dan terkesan sia-sia. ”Diracun tikus itu mati, tapi keesokan harinya tikus-tikus itu datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak,” katanya.

Anehnya, imbuh Sujiono, kawanan tikus itu tidak menyerang bagian batang tanaman, tapi memakan buah pada tanaman tersebut. Petani pun dibuat geram karena pada akhirnya tanaman mereka gagal panen. ”Yang dimakan itu hanya bagian buahnya, batang tanaman masih utuh,” ungkapnya.

Bagi petani hal ini dianggap aneh. Sebagian warga percaya serangan tikus itu terjadi karena petani tidak menggelar selamatan, sehingga hasil pertaniannya diserang dan dihabiskan oleh tikus. ”Sudah dua tahun ini petani memang tidak menggelar selamatan,” kata Sujiono.

Padahal sebelumnya, warga rutin melakukan selamatan dengan doa bersama dan tumpengan di persawahan. Warga meniadakan selamatan sejak ada pandemi Covid-19. ”Makanya kita gelar selamatan dengan doa bersama itu,” ungkapnya.

Sujiono mengaku selama sebulan ini setiap malam dia pergi ke persawahan untuk menyebar gabah. Gabah tersebut untuk makanan tikus. Hal itu dilakukan agar tikus tidak lagi merusak tanaman petani. ”Gabah yang saya berikan untuk tikus itu sudah habis sekitar tiga sak. Jika malam hari tikus itu keluar semua dan mencari makan,” paparnya.

Tikus yang kini menyerang tanaman milik petani, tidak dapat dibasmi. Sebab, jumlahnya sangat banyak. Hanya ada satu cara untuk melawan tikus itu, yakni dengan berdoa dan pasrah kepada Allah. ”Kami sudah lakukan berbagai macam cara untuk memberantas tikus itu, tapi hasilnya nihil,” ungkap Sujiono.

Dengan menggelar ritual selamatan di sawah, diharapkan dapat mengusir hama tikus. Dengan memanjatkan doa dan berserah diri kepada Sang Maha Pencipta, diharapkan mampu menghentikan ulah hewan pengerat itu. ”Saya heran, tikus itu tidak masuk ke rumah warga, dan hanya muncul pada malam hari saja,” jelas Sujiono.

Kepala Dusun Gunungsari, Desa/Kecamatan Bangorejo, Suparno menjelaskan ritual selamatan sawah itu merupakan tradisi turun-temurun. Ritual tersebut adalah warisan dari nenek moyang terdahulu. Tujuan utama dari selamatan sawah itu, yakni mengucap rasa syukur kepada Allah atas keberkahan yang diberikan meliputi kesehatan, kesuburan, dan terhindar dari bencana. ”Intinya bersyukur kepada Allah,” ujarnya.

Suparno menambahkan, ada makna lain dari selamatan sawah itu, yakni kekompakan dan keakraban para petani. Sebab, mulai banyak petani yang melupakan selamatan saat musim taman. ”Ada yang menganggap selamatan sawah sudah dianggap kuno dan tidak bermakna apa-apa, tidak digelar dan dampaknya ada serangan tikus,” jelasnya.

Suparno berharap masyarakat terus melestarikan warisan leluhur, salah satunya dengan selamatan sawah. ”Mungkin adanya hama tikus itu mengingatkan kita untuk tidak lupa bersyukur dan tetap ingat dengan Sang Maha Pencipta,” pungkasnya. (abi/c1)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news