Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Penduduk Lansia, Cermin Beban dan Capaian Prestasi

Oleh: Ahmad Junaedi*

08 Juni 2021, 22: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Penduduk Lansia, Cermin Beban dan Capaian Prestasi

Share this          

POPULASI penduduk Indonesia menurut hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020) adalah sebanyak 270,20 juta jiwa. Dari jumlah tersebut sebesar 70,72 persen adalah penduduk usia produktif, yang artinya Indonesia masih berada dalam masa bonus demografi.  Salah satu manfaat yang bisa didapatkan dari bonus demografi adalah, kemampuan untuk meningkatkan taraf perekonomian suatu negara, dari negara berkembang menjadi negara maju. Tetapi di saat yang sama timbul dilema, akibat dari meningkatnya persentase penduduk lansia sebesar 2,19 persen, dari sebelumnya 7,59 persen (SP2010) menjadi 9,78 persen (SP2020). Namun perlu juga diperhatikan bahwa kenaikan jumlah penduduk lansia juga mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan sosial penduduk negeri ini juga meningkat.

Menurut UU No 13 Tahun 1998 lansia adalah seseorang yang telah berusia 60 tahun ke atas. Meningkatnya penduduk lansia menunjukkan bahwa pembangunan di berbagai sektor di Indonesia dinilai cukup berhasil. Keberhasilan dalam peningkatan ekonomi berimplikasi pada perbaikan pembangunan sektor kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan dan menurunnya kemiskinan. Situasi ini menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup makin meningkat, sehingga jumlah lanjut usia makin bertambah. Peningkatan penduduk lansia bisa menjadi beban karena faktor usianya, mereka akan banyak menghadapi keterbatasan dalam beberapa hal sehingga memerlukan bantuan dalam upaya mempertahankan kesejahteraan sosialnya. Lansia cenderung mengalami penurunan fungsi tubuh, sehingga berdampak pada penurunan derajat kesehatan mereka. Dukungan finansial yang cenderung menurun juga membawa dampak yang kurang baik bagi jaminan sosial dan kesehatan kelompok ini.

Secara budaya dan nilai-nilai kemanusiaan, penghormatan kepada lansia harus tetap dilestarikan. Lansia merupakan kelompok yang memiliki berbagai pengalaman, keahlian, kebijakan dan kearifan perlu diberi kesempatan untuk berperan sebagai guru dan penasihat dalam pembangunan nasional. Sehingga kelompok ini tetap mendapatkan penghargaan dan penghormatan dalam mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai budaya, bukan hanya sekadar menjadi beban bagi kelompok usia produktif.

Baca juga: Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Tumbuh 7–8 Persen Pada Kuartal II

 

Indikasi Prestasi

Peningkatan jumlah penduduk lansia sebagai sebuah prestasi bisa dilihat dari berbagai aspek baik sosial maupun ekonomi. Dilihat dari salah satu variable Indeks Pembangunan Gender (IPG) yaitu Angka Harapan Hidup (AHH) yang meningkat dari tahun ke tahun sudah cukup mengindikasikan prestasi. Menurut data BPS angka harapan hidup penduduk laki-laki meningkat 1,7 tahun dalam 10 tahun terakhir, dari 67,89 tahun pada 2010 menjadi 69,59 tahun pada 2020. Begitu juga penduduk perempuan dari 71,83 tahun pada 2010 menjadi 73,46 tahun pada 2020, atau meningkat 1,63 tahun. Jika disandingkan dengan Negara-negara tetangga Singapura dan Malaysia kita masih tertinggal jauh, tetapi tingkat kenaikan rata-rata dalam 20 tahun terakhir Indonesia masih berada di atas Singapura dan Malaysia. Rata-rata kenaikan angka harapan hidup di Indonesia adalah 0,29 per tahun, sedangkan Singapura dan Malaysia masing-masing adalah 0,26 dan 0,17 per tahun. Jadi sangat mungkin jika faktor-faktor yang mendukung terus mendapatkan perbaikan, kita bisa menyamai bahkan melebihi dua negeri jiran tersebut.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga merupakan salah satu indikator kesejahteraan sosial. Karena dalam IPM ada empat indikator utama yang dihitung sebagai penyusun, di antaranya adalah Usia Harapan Hidup (UHH). IPM Indonesia terus mencatatkan kenaikan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Tahun 2020 IPM Indonesia adalah sebesar 71,94 naik sebesar 5,41 poin dibandingkan IPM tahun 2010 yang mencapai 66,53. IPM merupakan indikator global yang diukur setiap tahunnya sehingga bisa dilihat perbandingannya antar negara. United Nations Development Programme (UNDP) merupakan salah satu lembaga yang melakukan survei untuk mengukur IPM setiap negara di dunia. Jika dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara dan negara lain di dunia kita masih dalam kelompok menengah. Dari hasil survei IPM versi UNDP atau yang lebih dikenal dengan Human Development Index(HDI), tahun 2019 Indonesia berada di peringkat 6 di ASEAN dan 111 di dunia dari 189 negara. Indonesia secara peringkat berada di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand dan Filipina. Meskipun peringkat Indonesia di bawah Filipina tetapi dari indikator Usia Harapan Hidup (UHH),  Harapan Lama Sekolah (HLS) dan pengeluaran per kapita yang disesuaikan pada Purchasing Power Parity (PPP) Indonesia lebih tinggi dari Filipina. Ini menunjukkan bahwa lansia Indonesia lebih panjang umur, dan secara ekonomi Indonesia lebih baik dari Filipina.

Dilihat dari indikator sosial ekonomi, tingkat kemiskinan dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan menurun. Angka kemiskinan yang dirilis BPS, dalam periode tahun 2013 sampai tahun 2019 menunjukkan Indonesia berhasil menurunkan angka kemiskinan sampai satu digit. Dari 11,36 persen atau 28,17 juta jiwa pada tahun 2013 menjadi hanya 9,22 persen atau 24,79 juta jiwa pada tahun 2019. Hal Ini memperlihatkan bahwa pada periode tersebut perekonomian Indonesia membaik, bahkan ekonomi kita menjadi salah satu yang terbaik di tengah menurunnya perekonomian global. Implikasinya pemerintah mempunyai daya finansial lebih untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya melalui bantuan sosial dan jaminan sosial baik dari segi pendidikan maupun segi kesehatan. Tentu ini akan berdampak pada kehidupan lansia yang mendapatkan jaminan sosial lebih baik, sehingga lansia menjadi lebih sejahtera.

 

Dampak Pandemi

Pandemi Covid-19 memberikan dampak buruk terhadap harapan dan menjadi beban yang berat bagi kesejahteraan lansia. Kelompok ini sangat rentan terhadap pandemi, mengingat imunitas yang cenderung menurun, serta fungsi organ tubuh yang tidak muda lagi, serta rentan menderita penyakit degeneratif seperti jantung, hipertensi, dan diabetes. Satgas Covid-19 menyatakan, usia juga menjadi salah satu faktor kondisi fatal pada pasien Corona. Usia yang paling rentan terhadap kematian akibat covid-19 adalah pada kelompok usia lanjut yaitu 60 tahun ke atas dengan resiko 19,5 kali lipat.

Pemerintah harus tetap memperhatikan kondisi lansia meskipun perekonomian masih dalam fase recovery. Kebijakan-kebijakan jangka pendek diharapkan terus dilakukan oleh pemerintah, agar lansia tetap tangguh dan mandiri dalam menjalani kehidupan di masa pandemi. Pemerintah harus fokus menjalin komunikasi strategis dan masif untuk selalu memberikan pengetahuan dan pemahaman akan bahaya dari pandemi Covid-19.

Pemerintah juga harus mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam perlindungan bagi lansia. Kebijakan larangan mudik pada hari Lebaran dan hari-hari libur panjang lainnya, akan menurunkan tingkat penyebaran virus Covid-19. Hal ini secara langsung maupun tidak, sangat berdampak positif terhadap kesehatan para lansia. Negara diharapkan selalu hadir dalam menjaga kualitas kesehatan seluruh warganya mulai dalam kandungan sampai masa lanjut usianya. Agar tercipta penduduk yang tangguh, mandiri dan berkualitas sampai memasuki masa senja, yang mencerminkan lansia yang sehat dan sejahtera, bukan lansia yang sekadar menjadi beban keluarga dan negara. (*)

*) Statistisi BPS Provinsi Jawa Timur.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news