Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Edukasi
icon featured
Edukasi

Siswa yang Tersingkir dari Zonasi Akhirnya Diterima

07 Juni 2021, 07: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

HADIRKAN OPERATOR SEKOLAH: Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Cabang Banyuwangi Istu Handono memimpin rapat soal PPDB bersama Dinas Pendidikan dan kepala sekolah di kantornya kemarin.

HADIRKAN OPERATOR SEKOLAH: Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Cabang Banyuwangi Istu Handono memimpin rapat soal PPDB bersama Dinas Pendidikan dan kepala sekolah di kantornya kemarin. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Wali murid yang anaknya sempat tersingkir dari jalur zonasi akhirnya bisa bernapas lega. Mereka senang lantaran anaknya bisa diterima di sekolah pilihan karena jarak rumah dengan sekolah memang sangat dekat.

Teka-teki itu terjawab setelah Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi menggelar rapat dengan kepala sekolah SMA, SMP, dan Dinas Pendidikan. Rapat yang berlangsung di kantor Cabang Dinas Pendidikan Jalan Basuki Rahmad, Banyuwangi, itu menyepakati, siswa yang sempat mengalami kesalahan penitikan jarak sekolah saat pendaftaran PPDB jalur zonasi akhirnya diterima.

Pertemuan tersebut tidak hanya membahas nasib para siswa yang tersingkir dari jalur zonasi akibat salah penitikan koordinat tempat tinggal. Operator sekolah yang terlibat dalam penitikan juga diminta memaparkan lebih jelas terkait kronologi pendaftaran PPDB jalur zonasi yang dilakukan para siswa. Kepala sekolah yang hadir, termasuk perwakilan Dispendik, bisa mengetahui secara langsung terjadinya human error saat pendaftaran online dilakukan.

Baca juga: 100 Hari Ipuk-Sugirah (1)

”Kalau masalah sistem yang error, pasti banyak yang akan mengeluh. Padahal, sebelum dilempar ke masyarakat, sistem ini sudah diuji publik. Ada beberapa opsi dalam sistem yang membuat pendaftar bisa melihat jarak tempat tinggal mereka dengan sekolah terdekat,” ungkap Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Istu Handono kepada RadarBanyuwangi.id.

Saat PPDB berlangsung, lanjut Istu, ada banyak wali murid yang datang ke sekolah untuk membenahi koordinat mereka atau memastikan titik koordinat agar sesuai dengan jarak yang sebenarnya. Dalam sehari rata-rata ada 50 orang yang datang. Semuanya bisa diselesaikan dengan baik oleh operator Cabang Dinas. Asalkan saat itu memang PIN pendaftaran belum digunakan.

”Untuk sistem tidak ada yang salah. Jadi, memang murni karena human error. Lain kali, kami melihat komunikasi sangat penting agar tidak ada masalah serupa,” kata Istu.

Terkait nasib siswa yang tersisih akibat titik koordinat tempat tinggalnya berbeda, semuanya akan diterima di sekolah. Saat ini pihaknya menunggu pihak sekolah yang mendata para pendaftar jalur zonasi itu. Baru nanti akan diatur bagaimana para siswa agar bisa masuk ke sekolah yang mereka tuju. ”Untuk masalah teknis urusan kami, yang penting anak-anak akan tetap bersekolah,” jelas Istu.

Mantan Kepala SMAN 1 Banyuwangi itu menambahkan, ke depan akan ada penyesuaian daya tampung SMA dengan lulusan SMP di sebuah wilayah. Sehingga dipastikan tidak ada lagi siswa yang tidak tertampung di sekolah terdekat. ”Nanti akan kita data, lalu kita petakan. Yang penting jangan ada yang melompat zona,” pungkas Istu.

Kasi SMP Dinas Pendidikan Banyuwangi Sutikno berharap tidak ada lagi miskomunikasi yang terjadi pada PPDB tahun depan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dispendik akan melakukan sosialisasi lebih gencar kepada masyarakat. Selain melalui media dan orang tua, operator sekolah dan guru Bimbingan Konseling (BK) akan ikut dilibatkan dalam persiapan PPDB tahun depan.

Menurut Sutikno, operator dan guru BK menjadi tumpuan utama untuk menghandel masalah PPDB, baik jenjang SD, SMP, maupun SMA. Apalagi di setiap PPDB kerap ada kebijakan baru dari Kementerian yang perlu untuk diterapkan. ”Nanti kita akan siapkan dulu rapat koordinasi sebelum PPDB. Terkait guru BK, mereka ini yang dekat dengan anak dan selama ini ikut membantu masalah siswa. Mereka bisa mengarahkan anak didik untuk memilih sekolah,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, sistem online Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMA tampaknya masih menyisakan masalah. Beberapa orang wali murid mengeluhkan kondisi PPDB online jalur zonasi. Mesti tempat tinggalnya relatif dekat sekolah, namun anak-anak mereka terancam tak bisa masuk di SMA yang mereka tuju.

Padahal, jarak antara tempat tinggal mereka dengan sekolah yang dituju cukup dekat. Jika mengacu kepada dokumen resmi yaitu Kartu Keluarga (KK) seharusnya anak-anak ini bisa diterima di sekolah yang mereka tuju.

Seperti yang disampaikan Eni, seorang wali murid asal Lingkungan Krajan, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri. Eni mengatakan, anaknya terlempar dari jalur PPDB zonasi lantaran sistem PPDB menghitung jarak yang terlalu jauh antara rumahnya dengan sekolah tujuan yaitu SMAN 1 Glagah.

Nasib serupa dialami Anna Maulydia, warga Jalan Ikan Banyar, Kelurahan Kertosari. Rumah Anna dengan sekolah yang dituju, yaitu SMAN 1 Banyuwangi, hanya berjarak 500 meter. Setelah melihat daftar nama-nama siswa yang diterima di jalur zonasi, nama Anna Maulydia tereliminasi.  

Husnul, kakak Anna, menceritakan awalnya dia membantu adiknya mendaftar di SMAN 1 Banyuwangi. Mulai dari verifikasi rapor sampai kemudian penitikan lokasi tempat tinggal. Saat itu, Husnul meyakini sudah menitik lokasi sesuai dengan tempat tinggalnya. (fre/aif/c1)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news