Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

100 Hari Ipuk-Sugirah (1)

Oleh: Andang Subaharianto *

07 Juni 2021, 05: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

100 Hari Ipuk-Sugirah (1)

Share this          

Di politik pemerintahan ada ”ritus” 100 hari. Saya sebenarnya kurang sreg. Seratus hari pertama boleh jadi belum apa-apa. Tapi, baiklah. Tak apa-apa. Kita ambil positifnya saja. Dari segi perbincangan publik. Kata Habermas, filsuf asal Jerman, perbincangan publik yang sehat merupakan nutrisi penting bagi pemerintahan demokratis.

Kita andaikan saja lomba lari. Start yang tepat tentu akan berkontribusi bagi kesuksesan sang pelari. Meski bisa saja keseleo di pertengahan jalan. Lalu, tak sampai finis. Atau, terseok-seok untuk bisa sampai finis.

Maka, kesuksesan di 100 hari pertama adalah modal sukses di hari-hari selanjutnya. Sukses hingga akhir jabatannya. Dan, saya kira, publik pun berkepentingan. Kesuksesan pemimpin adalah berkah bagi rakyat yang dipimpin. Sebaliknya, kegagalannya adalah kerugian besar.

Baca juga: KSOP Usulkan Tambahan 130 Meter Dermaga

Maka, kita harus mengawalnya. Agar pemimpin senantiasa berada pada jalur yang benar. Yang membuahkan berkah bagi warga yang dipimpin. Karena baru 100 hari, saya kira, kesuksesan itu terlalu dini dilihat dari hasil, output maupun outcome. Saya akan melihat dari start saja.

Pada 27 Februari 2021, Ipuk-Sugirah dilantik. Di pundak mereka disematkan jabatan: Bupati-Wakil Bupati Banyuwangi. Sejak itu Ipuk-Sugirah adalah pemimpin formal rakyat Banyuwangi. Mereka akan mengendalikan birokrasi pemerintahan Kabupaten Banyuwangi.

Di pundak mereka tak hanya melekat jabatan. Di pundak mereka ada kewenangan, ada kekuasaan. Tentu saja ada hak-hak istimewa pula. Tapi, yang mau saya cetak tebal: di pundak mereka melekat janji-janji.

Orang sering bilang ”janji politik”. Hati-hati dengan istilah tersebut. Benar, janji-janji itu adalah janji politik. Memang dijanjikan dalam kerangka politik. Tapi, tak jarang ditafsirkan negatif. Serupa ”rayuan gombal”. Tak ada ikatan apa pun. Bisa diingkari.  

Tafsir tersebut hidup pada pikiran warga masyarakat. Mengapa? Saya kira, karena banyak referen yang membenarkannya. Seolah-olah mengingkari janji politik itu lazim. Sudah biasa. Seolah-olah sudah menjadi budaya. Maka, bagi politikus, biasa pula melupakan janji-janjinya. Bagi warga masyarakat, biasa pula tak menagihnya. Sama-sama abai.

Saya percaya kita bukan pengikut ”aliran abai” itu. Karena janji politik itulah, Ipuk-Sugirah diberi kewenangan dan kekuasaan. Diberi pula hak-hak istimewa. Buat apa? Agar janji-janji itu bukan tinggal janji. Agar janji-janji itu berubah menjadi kenyataan. Agar Ipuk-Sugirah punya kemampuan melunasi janji-janjinya.

Karena sudah diberi kewenangan, kekuasaan, dan hak-hak istimewa, Ipuk-Sugirah wajib menunaikan janjinya. Warga masyarakat pun wajib menagihnya. Dan, itulah pemerintahan demokratis.

Ada tiga kata kunci janji Ipuk-Sugirah. Yang dirumuskan dalam kalimat visinya: maju, sejahtera, berkah. Saya menafsirkan ketiga kata kunci itu berhubungan secara intertekstualitas. Makna yang satu terbentuk dan berpengaruh pada makna yang lain. Demikian pula cara yang ditempuh untuk mewujudkannya.

Secara teoretis, kemajuan merupakan syarat bagi kesejahteraan. Tapi, kemajuan tak otomatis membuahkan kesejahteraan. Banyak studi pembangunan di negara-negara berkembang melaporkan hal itu. Kemajuan di permukaan saja. Kemajuan semu. Kemajuan yang warganya hanya bisa melihatnya. Itulah kemajuan tanpa keberkahan.

Kemajuan yang membawa keberkahan adalah kemajuan yang menyejahterakan. Itulah kemajuan yang berkeadilan sosial. Didukung bersama, karena dirasakan bersama. Kemajuan yang memproduksi kenyamanan, ketenteraman, kerukunan. Yang menumbuhkembangkan rasa percaya diri dan optimisme warga. Itulah kemajuan ala Pancasila.

Tiga kata kunci itu –maju, sejahtera, berkah– sesungguhnya sudah diraih Banyuwangi. Bupati Anas membukukan catatan emas dalam konteks tersebut. Yang memunculkan Banyuwangi sebagai referensi daerah lain. Yang membuat banyak kepala daerah belajar ke Banyuwangi. Yang juga menorehkan banyak penghargaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Maka, Ipuk-Sugirah pun mengklaim visinya ”menjaga kesinambungan”. Klaim yang menjadi tagline kampanyenya. Saya yakin klaim tersebut menyumbang keterpilihan pasangan itu. Rakyat Banyuwangi merasa butuh pemimpin yang mau menjaga kesinambungan. Yang membawa Banyuwangi semakin maju, sejahtera, dan berkah. Itulah kira-kira harapan rakyat Banyuwangi.

Tapi, konteks zaman berubah akibat pandemi. Ipuk-Sugirah memulai dari situasi keprihatinan. Yang di luar kendalinya. Pertumbuhan ekonomi merosot tajam. Kemiskinan bertambah. Sumber-sumber pendapatan negara maupun warga masyarakat menyusut. Optimisme rakyat pun memudar. Bahkan, amunisi resmi (APBD) Banyuwangi pun turun signifikan. Dari 3,3 triliun (2020) tinggal 2,7 triliun (2021).

Ipuk-Sugirah tak punya waktu panjang. Harus segera bergerak. Proyeksi pertumbuhan ekonomipusat maupun daerah tak seoptimistis tahun-tahun sebelumnya. Ipuk-Sugirah harus menemukan cara pemulihannya. Harus segera berjibaku menahan peningkatan angka kemiskinan akibat pandemi. Harus berjuang keras membangkitkan optimisme rakyat. Dampak pandemi sangat memukul. Tapi, tak cukup ditangisi. Harus dihadapi, dilawan. Waktunya singkat, masalahnya berat.

Saya membuka kembali memori 100 hari kepemimpinan Anas-Yusuf sepuluh tahun lalu. Anas-Yusuf mencanangkan target prestisius yakni menghidupkan bandara. Publik sempat mencibir waktu itu. Tapi, Anas-Yusuf punya keyakinan lain. Bandara bukan saja simbol kemajuan. Tapi, sarana vital, bagian dari ekosistem pariwisata yang hendak dibangun dengan teori 3A: Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraksi.  

Di buku Road to Prosperity karya Rhenald Kasali, Anas mengakui kenekatannya. Saat menargetkan bandara dalam program 100 hari pertama. Tapi, berkat kerja keras, bandara berhasil diwujudkan.

Anas-Yusuf boleh nekat dengan program prestisius. Lanskap Banyuwangi mendukung. Start yang tepat dari perspektif pembangunan ekosistem pariwisata. Banyuwangi lalu terbang tinggi.

Bagaimana Ipuk-Sugirah? Saya melihat Ipuk-Sugirah telah melangkah dengan start yang tepat pula. Tiga hal pokok saya catat: (1) refocusing anggaran maupun program, (2) inovasi pendekatan, dan (3) strategi mobilisasi sumber daya. Saya tak melihat program prestisius. Tapi, saya menyebut start yang tepat. Mengapa? Tunggu catatan berikutnya. (*)

*) Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news