Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Kesehatan
icon featured
Kesehatan

Belum Separo Lansia Banyuwangi Divaksin Covid-19

06 Juni 2021, 04: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

ANTUSIAS: Suasana penyuntikan vaksin Covid-19 di Desa Paspan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

ANTUSIAS: Suasana penyuntikan vaksin Covid-19 di Desa Paspan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Proses vaksinasi untuk sasaran lansia dan petugas pelayan publik terus digenjot oleh Dinas Kesehatan. Hingga awal Juni, baru sasaran petugas pelayan publik yang angkanya sudah melebihi 100 persen.

Sedangkan untuk lansia dari data yang dirilis Dinkes Banyuwangi baru mencapai 49.15 persen (data per 1 Juni). Dinkes pun harus berjuang keras untuk bisa mencapai sisa sasaran sebelum vaksin AstraZeneca yang dimiliki Banyuwangi kedaluwarsa pada akhir Juni 2021. ”Ternyata ada beberapa kendala utama yang membuat tingkat kehadiran para lansia cukup rendah. Kita sudah melakukan analisis,” kata Kadinkes Banyuwangi dr Widji Lestariono kepada RadarBanyuwangi.id.

Dokter yang akrab disapa Rio itu menambahkan, beberapa penyebab rendahnya tingkat kehadiran di antaranya adalah keterbatasan fisik dari lansia. Hal ini menurutnya sudah bisa disikapi dengan melakukan upaya jemput bola langsung ke kediaman para lansia. Kemudian yang kedua adalah ketakutan para lansia untuk divaksin. Petugas kesehatan di lapangan berupaya melakukan pendekatan agar lansia tidak takut disuntik vaksin.

Baca juga: Semua Sekolah Boleh Selenggarakan PTM, Kapasitas Maksimal 50 Persen

Alasan ketiga, menurut Rio, yaitu banyak lansia terpengaruh berita irasional yang marak di media sosial. Meski tak melihat secara langsung berita tersebut, namun pihak keluarga lansia banyak yang mendengar kabar-kabar tersebut sehingga membuat para lansia menjadi ragu.

Padahal jika dicermati, berita-berita tersebut terlalu jauh dari nalar. Dan hal tersebut akhirnya menutup ribuan informasi benar dan manfaat vaksin yang seharusnya bisa dinikmati para lansia. ”Ini sebenarnya menjadi tugas seluruh komponen yang peduli kepada vaksinasi. untuk meluruskan berita yang tidak benar di masyarakat. Masa iya mereka yang divaksin akan mati dua tiga tahun lagi, kemudian ada berita jika ada chip di dalam suntikan,” terang alumnus Unair itu.

Hingga kemarin, Rio mengatakan belum ada laporan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang dianggap membahayakan. Memang ada beberapa KIPI ringan seperti demam, sakit kepala, sakit di sekujur tubuh, sampai muntah. Tetapi tidak tergolong KIPI serius. ”Ada dua secara garis besar KIPI pasca vaksinasi. Pertama reaksi pasca vaksinasi. Ini yang harus diwaspadai kemudian ko-insiden kejadian yang kebetulan terjadi pasca vaksinasi,” jelasnya.

Terkait dengan kabar meninggalnya salah seorang lansia di Kecamatan Gambiran yang diduga akibat vaksinasi, Rio menjelaskan bahwa kondisi yang bersangkutan saat diskrining dalam kondisi baik. Tidak ada kontraindikasi. Sayangnya informasi kematian lansia tersebut baru disampaikan sepekan pasca meninggalnya. Sehingga tidak bisa dipastikan secara pasti kejadian tersebut terjadi karena vaksinasi atau bukan.

Lansia itu sendiri tercatat melakukan vaksinasi pada 24 Mei lalu, kemudian meninggal dunia pada 25 Mei 2021. Laporan meninggalnya lansia itu sendiri baru dilaporkan sekitar tanggal 31 Mei 2021. ”Kalau akan dilakukan investigasi serius tentu harus diotopsi. Tapi ini seminggu setelah divaksin baru dilaporkan. Tidak semua kematian pasca vaksinasi berarti karena vaksinasi,” pungkasnya. (fre/bay/c1)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news