Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Perekonomian Banyuwangi Era Covid-19

Oleh: Prayudho Bagus Jatmiko*

05 Juni 2021, 20: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Perekonomian Banyuwangi Era Covid-19

Share this          

Telah kita ketahui, dampak Covid-19 pada perekonomian nasional sebesar -2,07 persen. Pusat-pusat perekonomian Indonesia, seperti di Pulau Jawa terpukul lebih dalam dibanding wilayah lain di Indonesia. Jawa Timur mencatat pertumbuhan minus 2,39 persen. Bagaimana dengan Banyuwangi?

Dampak Covid-19 pada perekonomian di Kabupaten Banyuwangi berdasar rilis BPS Kabupaten Banyuwangi mengalami kontraksi ekonomi sebesar 3,58 persen, paling dalam di antara kabupaten di wilayah Tapal Kuda. Kabupaten Jember misalnya, tumbuh minus 2,98 persen. Kabupaten Situbondo minus 2,33 persen, dan yang terendah Bondowoso minus 1,36 persen. Sebagaimana konstelasi perekonomian di Indonesia, magnitude gempa ekonomi terjadi terutama pada pusat-pusat pertumbuhan dan daerah perkotaan sebagai respons pembatasan dan pencegahan dampak Covid-19 di Jawa Timur, termasuk di Banyuwangi.

Pembatasan dan pencegahan Covid-19 berdampak pada penurunan daya beli konsumsi masyarakat. Mengacu data PDRB pengeluaran tahun 2019, peran konsumsi masyarakat di Banyuwangi sebesar 64,50 persen yang menegaskan dominasi konsumsi masyarakat dalam perekonomiannya. Pelemahan konsumsi masyarakat secara langsung berdampak pada penyediaan barang dan jasa masing-masing kategori lapangan usaha.

Baca juga: Lahan Sering Longsor, Wakil Rakyat Sidak Tambang Galian di Cangkring

Kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan awalnya diharapkan dapat menahan laju tekanan ekonomi di Banyuwangi, namun perbaikan kinerja tanaman pangan yang tumbuh positif 1,86 persen tidak ditopang oleh sub-kategori lain yang terjun bebas akibat dampak pandemi yang parah. Merosotnya produksi perikanan dan kehutanan mendorong kategori tersebut terjerembap lebih dalam ke zona kontraksi ekonomi sebesar 2,96 persen. Menarik juga untuk diperhatikan, bahwa ternyata laju pertumbuhannya berada dalam tren kontraksi dalam tiga tahun terakhir. Padahal, kategori ini adalah penyumbang terbesar bagi perekonomian Banyuwangi dengan peran sebesar 29,69 persen dari total perekonomian Banyuwangi tahun 2020.

Di sisi lain, potensi ekonomi kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan yang terbesar dalam struktur perekonomian di Jawa Timur. Andil dalam pembentukan perekonomian kategori tersebut sebesar 8,70 persen untuk Provinsi Jawa Timur, terbesar dari keseluruhan kabupaten kota lainnya. Demikian halnya dengan sub-kategori di dalamnya yakni pertanian, peternakan, perburuan, jasa pertanian, perikanan, serta kehutanan di Banyuwangi, yang memiliki share perekonomian terbesar di Jawa Timur. Bisa dibilang, tulang punggung pertanian di Jawa Timur adalah Banyuwangi.

Kategori lapangan usaha paling terdampak di Banyuwangi adalah kategori penyedia akomodasi dan makan minum. Kategori ini terkontraksi hingga dua digit akibat pembatasan bepergian serta pengurangan aktivitas ke luar rumah tahun 2020 lalu. Tumbuh minus 13,85 persen diakibatkan penyedia akomodasi (-35,86 persen) seperti hotel dan tempat penginapan yang terpukul langsung dengan rendahnya tingkat hunian kamar terutama di sekitar bulan April hingga Juli lalu. Perbaikan tingkat hunian kamar mulai pulih pada triwulan akhir 2020. Sementara di saat bersamaan, ada imbauan pengurangan aktivitas penyediaan makan dan minum dengan tatap muka secara langsung. Keadaan ini mulai dapat diadaptasi dengan penggunaan teknologi, sehingga sub-kategori penyediaan makan dan minum ”hanya” kontraksi sedalam 4,24 persen.

Kategori lapangan usaha paling terdampak berikutnya adalah kategori jasa lainnya dengan kontraksi ekonomi sedalam 13,20 persen. Penyebab utamanya adalah sektor pariwisata yang mulai berkembang di Banyuwangi pada beberapa tahun terakhir tertekan dengan jumlah kunjungan hingga titik nadir. Kategori lainnya yang terdampak langsung akibat Covid-19 adalah kategori transportasi dan pergudangan yang tumbuh minus 12,00 persen. Hampir semua moda transportasi nyaris berhenti beraktivitas pada saat puncak kontraksi ekonomi terjadi pada periode triwulan kedua 2020.

Namun tidak semua kategori lapangan usaha tertekan akibat pandemi Covid-19, ada dua kategori yang dapat tumbuh cukup signifikan. Pertama adalah kategori jasa kesehatan dan bantuan sosial, kedua adalah kategori Informasi dan komunikasi. Sedangkan kategori jasa pendidikan dan kategori real estate juga tumbuh positif namun melambat dibanding tahun sebelumnya.

Akselerasi kategori jasa kesehatan dan bantuan sosial tidak lepas dari upaya serius pemerintah dalam penanganan kesehatan terutama dampak Covid-19. Beberapa penanganan skala besar dampak pandemi di Banyuwangi seperti penanganan klaster pondok pesantren memicu pertumbuhan yang tinggi.

Sementara, kategori jasa informasi dan komunikasi tumbuh hingga 8,67 persen. Pertumbuhan tersebut tidak bisa dipisahkan dari pembiasaan daring untuk menjembatani hambatan pembatasan pertemuan di sekolah, perkantoran serta tempat usaha. Peningkatan traffic komunikasi dan meningkatnya pelanggan paket data yang menopang pertumbuhan tersebut. Namun, sebenarnya kategori informasi dan komunikasi ini masuk dalam kategori tumbuh melambat karena tahun sebelumnya tumbuh sedikit lebih tinggi daripada tahun 2020. Namun, tumbuh signifikan di saat pelemahan ekonomi merupakan kinerja yang luar biasa. 

Sedangkan kategori jasa pendidikan hanya mengalami perlambatan kinerja dibandingkan keadaan perekonomian tahun lalu. Uang sekolah tetap harus dibayar walau tidak sedikit yang menunggak atau mendapat potongan pembayaran sehingga roda perekonomian tetap tumbuh. Kisaran pertumbuhan ekonomi pada kategori jasa pendidikan tahun-tahun sebelumnya berada pada kisaran 6–7 persen. Namun, di tahun 2020 ini hanya tumbuh 3,13 persen.

Dinamika kontraksi perekonomian pada kategori lapangan usaha di Banyuwangi akibat dampak Covid-19 seperti menyihir kita pada sebuah keniscayaan.  Keadaan dan situasi yang tiba-tiba berubah tidak terbayangkan. Namun seyogianya dapat kita baca hal tersebut sebagai peluang perbaikan di tahun berikutnya. Dengan potensi yang luar biasa besar disertai upaya sistematis pemerintah meningkatkan konsumsi dan investasi ditopang peran kedisiplinan masyarakat, Banyuwangi diharapkan dapat mengeluarkan magis perekonomiannya dengan membalikkan keadaan di tahun 2021. Tahun 2021 perekonomian masih diliputi ketidakpastian. (*)

*) Statistisi Ahli Muda, BPS Provinsi Jawa Timur.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news