Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis

Inflasi Mei 0,27 Persen, Dipicu Emas Perhiasan

05 Juni 2021, 19: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

ANDIL TERTINGGI: Emas perhiasan menjadi pemicu utama inflasi periode Mei 2021 . Komoditas ini menyumbang inflasi sebesar 0,12 persen.

ANDIL TERTINGGI: Emas perhiasan menjadi pemicu utama inflasi periode Mei 2021 . Komoditas ini menyumbang inflasi sebesar 0,12 persen. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Perkembangan harga berbagai komoditas di Banyuwangi sepanjang Mei secara umum mengalami kenaikan. Tiga di antara 11 kelompok pengeluaran mengalami peningkatan harga, sedangkan delapan kelompok pengeluaran lain relatif stabil alias tidak mengalami perubahan.

Imbasnya, pada periode Mei tersebut Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,27 persen. Pada periode yang sama, indeks harga konsumen (IHK) di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini 104,94.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi pada Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi Mulyono kepada RadarBanyuwangi.id, mengatakan, pemicu utama inflasi periode Mei tersebut adalah emas perhiasan. Komoditas yang satu ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,12 persen. ”Hal ini terjadi lantaran masih tingginya harga emas dunia,” ujarnya kemarin (3/6).

Baca juga: Bantuan Donatur Disalurkan untuk Warga Sakit

Selain emas perhiasan, beberapa komoditas bahan makanan, seperti ayam hidup, daging sapi, dan komoditas perikanan juga memberikan andil inflasi yang cukup besar. Ikan tongkol, misalnya, memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen, sedangkan ayam hidup dan daging sapi masing-masing memberikan andil 0,028 persen. ”Kenaikan harga ayam hidup, daging sapi, dan komoditas perikanan itu diduga terjadi akibat meningkatnya permintaan di bulan Ramadan dan Idul Fitri. Peningkatan permintaan juga terjadi pada komoditas bahan makanan lain, seperti tempe, tahu, dan minyak goreng,” kata Mulyono.

Sebaliknya, inflasi Mei ditahan oleh penurunan harga beberapa komoditas makanan yang lain, seperti cabai rawit, sawi hijau, bawang merah, beras, dan lain-lain. Menurut Mulyono, penurunan harga cabai rawit disebabkan pada bulan-bulan sebelumnya komoditas tersebut mengalami kenaikan harga dan pada perkembangan selanjutnya mulai kembali ke harga normal.

Begitu pun dengan harga daging ayam ras yang mengalami penurunan harga pada Mei. Penurunan harga daging ayam ras diduga akibat kenaikan harga yang cukup tinggi pada bulan sebelumnya. ”Selain itu, banyak masyarakat yang lebih memilih mengonsumsi daging sapi dan daging ayam buras pada Hari Raya Idul Fitri,” sebut Mulyono.

Sementara itu, dari sisi kelompok pengeluaran, pada Mei ada tiga kelompok yang memberikan sumbangan terhadap inflasi. Rinciannya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,13 persen; kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,13 persen; dan kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen.

Selebihnya, delapan kelompok pengeluaran lain tidak memberikan andil terhadap inflasi maupun deflasi. Delapan kelompok pengeluaran tersebut meliputi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga; kelompok kesehatan; kelompok transportasi; serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Hal serupa juga terjadi pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya; kelompok pendidikan; dan kelompok penyediaan makanan, dan minuman. (sgt/afi/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news