Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Udeng dan Tapih, Gageo Banyuwangi Pulih

Oleh: Nurul Ludfia Rochmah

05 Juni 2021, 14: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Udeng dan Tapih, Gageo Banyuwangi Pulih

Share this          

PELATIHAN memasang udeng dan tapih di Desa Kemiren dilakukan oleh remaja, muda-mudi di Banyuwangi adalah kegiatan Minggu yang positif dan patut dibicarakan. Udeng adalah pengikat kepala, biasanya dipakai oleh lelaki dan digunakan untuk aktivitas adat dan budaya di Banyuwangi. Tapih adalah kain bawahan, pakaian bawahan kebaya, semacam sarung, yang biasa dipakai oleh perempuan di Banyuwangi. Biasanya digunakan untuk kegiatan sehari-hari, ritual atau kegiatan adat. Kain yang digunakan sebagai bahan udeng dan tapih adalah jenis batik corak khas Banyuwangi seperti gajah oling, kopi pecah, kangkung setingkes, sekar jagat, dan lain-lain.

Macam atau jenis udeng yang biasa dipakai oleh laki-laki di Banyuwangi di antaranya jenis sampadan jejeg, sampadan nungsep, dan tongkosan. Untuk berkesenian (seperti penabuh kendang, dan lain-lain), keseharian atau santai, biasanya menggunakan jenis udeng sampadan baik jejeg maupun nungsep. Adapun untuk para orang tua yang mengadakan kegiatan resmi, ritual, atau hajatan, yang digunakan adalah jenis udeng tongkosan. Karena udeng tongkosan ini menutup seluruh kepala dan kesannya sopan.

Tapih atau sewek atau sarung atau bawahan kebaya dipakai oleh perempuan di daerah Kemiren dalam keseharian, ketika ada hajatan, saat upacara ritual, dan juga biasanya dipakai oleh penari gandrung. Pemakaian tapih ini harus memperhatikan corak batik pada kain tapih yang dipakai. Jangan sampai pemakaiannya terbalik atau salah meletakkan posisi corak batiknya. Cara mengikatkan tapih juga disesuaikan dengan penggunaannya. Tapih yang digunakan untuk penari gandrung berbeda dengan tapih yang digunakan untuk aktivitas keseharian atau untuk kegiatan ritual adat atau untuk kepentingan fashion masa kini.

Baca juga: Infrastruktur Jadi Prioritas Bupati Ipuk

Kegiatan tutorial pemakaian udeng dan tapih ini dilakukan oleh para milenial atau kaum remaja dan anak-anak yang ada di Kemiren dan sekitarnya dengan beberapa maksud. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk mengenalkan salah satu kebiasaan yang ada di daerah Banyuwangi termasuk pemakaian pakaian adat Osing. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kegiatan sekolah adat atau sekolah alam yang baru-baru ini dikembangkan oleh para pemuda Kemiren. Berikutnya, pemakaian udeng tapih ini untuk nguri-nguri budaya dan melestarikan kearifan lokal yang ada di wilayah Kemiren yang notabene penduduknya ada bersuku Osing.

Aktivitas yang dijadwalkan berkala dan yang dilakukan oleh para pemuda ini mendapat perhatian dari banyak pihak di antaranya budayawan, guide, komunitas lontar, pendidik, dan mereka yang konsen terhadap pelestarian macam-macam kearifan lokal dan perilaku budaya yang ada di masyarakat Osing. Antusiasme terhadap kegiatan ini tampak dari bincang-bincang yang berlangsung sepanjang acara. Tentu saja ini merupakan angin segar, yang dapat mendekatkan anggota masyarakat baik anak-anak, remaja, atau pun orang tua dalam sebuah wadah dan arena perbincangan yang hangat, yang istilahnya dalam bahasa Osing adalah gesah.

Gesah adalah aktivitas berbincang-bincang dengan santai dan menggunakan bahasa Osing dan membicarakan hal-hal yang bersifat lumrah, keseharian, dan kelakar. Biasanya dibumbui dengan mengakrabi wangsalan, basanan, dan usingan. Sambil sibuk mengajari cara memakai tapih untuk anak-anak Kemiren, Ely, seorang penari meng'gesah'kan aktivitasnya sebagai penari, termasuk penari gandrung.

Ely menari sejak SMP dan pernah mengenyam sekolah tari di STKW Surabaya meski tak sampai lulus. Yang fenomenal dari Ely adalah foto dirinya berpakaian gandrung menjadi icon di berbagai baliho promosi wisata Banyuwangi. Sekarang, ia mengajar tari di beberapa SD di Banyuwangi. Ia menahbiskan diri sebagai penari dan memiliki keinginan mengajarkan tari, utamanya tari gandrung pada anak-anak di Banyuwangi. Bila banyak pelatih tari yang mengembangkan berbagai inovasi gerak tari, ia lebih memilih mengajarkan pakem menari gandrung yang asli, berikut pakaiannya, perlengkapan tari yang asli, yang belum dimodifikasi.

Pakaian gandrung, termasuk tapih bagi penari perempuan dan udeng bagi penari laki-laki, menurutnya sudah memiliki pakem yang paten. Karena itu ia prihatin dengan kegiatan memodifikasi dan kesannya memaksakan inovasi pakaian penari gandrung dengan berbagai alasan dan kepentingan. Namun, ia sangat memahami keadaan tersebut dan merasa tidak memiliki daya untuk menolaknya. Ia hanya ingin mengetuk hati para peminat dan pelestari tari gandrung agar selalu mengingat kekayaan budaya, pakem, dan aturan turun temurun yang sudah menancap erat bersama nadi kehidupan gandrung dari masa lalu hingga sekarang. Generasi milenial perlu tahu dan menghargai kekayaan tersebut, tidak hanya mengenal inovasi dan pembaharuan saja.

Gesah pagi sampai menjelang siang, seolah tak ada habisnya. Mengenalkan pemakaian udeng dan tapih untuk generasi muda merupakan hal yang positif. Lebih jauh sebenarnya mereka juga bisa dikenalkan dengan filosofi kain yang dipakai untuk udeng tersebut. Kain untuk udeng tersebut bisa berbentuk bujur sangkar atau segitiga. Semuanya memiliki filosofi. Bentuk bujur sangkar itu seperti empat soko sebuah rumah yang membuat bangunan itu menjadi kokoh. Sedangkan ketika kain tersebut dilipat menjadi segitiga maka terdapat gambaran tiga dimensi yang perlu diseimbangkan dalam membangun rumah tersebut, yaitu keberadaan sang pencipta, diri sendiri, dan masyarakat di sekelilingnya.

Bila kehidupan kita ingin mendapatkan dan mencapai kebahagiaan maka tiga dimensi tersebut harus berjalan dengan seimbang. Bila salah satunya pincang maka kehidupan akan sempoyongan. Di masa pandemi ini kehidupan kita, ada bagian yang juga sempoyongan dan membuat kita pincang. Tahun ini kita memiliki Bupati baru yang siap untuk mengajak kita untuk bersama-sama 'pulih.' Semoga gandeng tangan kita menyehatkan Banyuwangi semasa pandemi makin erat dan kuat. Secara tidak serampangan saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan basanan. "Ayo ajaro masang udeng tapih. Ayo gancango Banyuwangi pulih." (*)

*) Guru Penulis dari MAN 1 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news