Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Jual Nasbung Separo Harga, Sehari Habiskan 50 Bungkus

03 Juni 2021, 19: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERTAHAN DI TENGAH PANDEMI: Hanafi (kanan) menunjukkan nasi bungkus yang dijualnya separo harga di Jalan Raya Gajahmada, Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, kemarin.

BERTAHAN DI TENGAH PANDEMI: Hanafi (kanan) menunjukkan nasi bungkus yang dijualnya separo harga di Jalan Raya Gajahmada, Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, kemarin. (BAGUS RIO/RABA)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Di tengah pandemi Covid-19, seluruh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengalami kesulitan. Komunitas Banyuwangi Bangkit (KBB) berusaha membantu usaha UMKM pedagang kaki lima. Salah satunya warung milik Hanafi, 39, yang berada di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri.

Pandemi Covid-19 memang cukup membuat para pelaku UMKM kelimpungan, terutama pedagang kaki lima (PKL). Hampir setiap hari pemasukan dari dagangannya semakin menurun. Tak jarang, dagangan mereka masih menumpuk dan bahkan terbuang sia-sia.

Permasalahan ini membuat dua orang di Banyuwangi membentuk Komunitas Banyuwangi Bangkit (KBB). Keduanya adalah Feris Yulias Sardi dan Lita Kurniawan. Mereka berinisiatif ingin bersedekah, sekaligus meringankan beban para pelaku usaha UMKM di Banyuwangi.

Baca juga: NJOP Rendah Akibat Pemdes tak Patuh PBB

Komunitas tersebut menggandeng warung nasi bungkus (nasbung) milik Hanafi, 39, yang terletak di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri. Di warung tersebut, KBB membeli 50 bungkus nasi setiap harinya dengan harga normal. Oleh KBB, pedagang diminta menjualnya dengan separo harga kepada masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Kepada RadarBanyuwangi.id Ketua KBB Feris Yulias Sardi mengatakan, di tengah perekonomian sulit akibat pandemi Covid-19 pola hidup masyarakat secara otomatis berubah. Masyarakat lebih memilih hidup hemat dengan memasak sendiri di rumah. Akibatnya, banyak pedagang nasi bungkus yang jualannya tak laku. ”Kami merasa simpati kepada para pedagang, sehingga kami membuat komunitas untuk membantu masyarakat,” katanya.

KBB yang baru terbentuk tersebut, membuat percontohan dengan menggandeng salah satu PKL. Di sektor usaha penjualan nasi bungkus itu, Feris membelinya dengan harga normal Rp 6.000 per bungkus. ”Setiap harinya paling tidak kami minta untuk menyediakan 50 bungkus,” ujarnya.

Pihaknya sengaja menjual kembali dengan separo harga. Selain meringankan pembeli, hasil dari penjualan juga digunakan kembali untuk membeli nasi bungkus pedagang sehingga aksi sosial ini bisa berkelanjutan. ”Di masa pandemi, donatur kita juga terbatas. Sementara, pedagang nasi bungkus harus bertahan hingga pandemi berakhir. Nasi bungkus yang kita beli tidak dibagikan secara gratis, melainkan kita jual kembali dengan separo harga,” tuturnya.

Dengan cara ini, imbuh Feris, maka pedagang nasi bungkus terbantu. Masyarakat pun bisa memperoleh nasi bungkus dengan harga yang lebih murah. Ekonomi di Kabupaten Banyuwangi juga diharapkan kembali berjalan dengan baik. ”Kita punya obsesi seluruh PKL di Banyuwangi bisa bergabung bersama KBB. Sedangkan untuk para donatur, kita tidak menutup akses jika memang ingin menyalurkan donasinya,” ungkapnya.

Dalam sehari warung Hanafi mampu menyediakan 200 porsi nasi bungkus. Namun untuk saat ini, KBB hanya meminta disediakan 50 bungkus yang dijual dengan harga Rp 3.000. ”Harga normalnya Rp 6.000 per bungkus, tapi di jual separo harga Rp 3.000 saja,” sebutnya.

Sasaran penjualan nasi bungkus separo harga ini adalah para pesapon, tukang bangunan, hingga masyarakat yang ekonomi menengah ke bawah. ”Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama di masa pandemi. Tidak hanya materi, kami memberikan ide kreatif dan lain sebagainya agar UMKM bisa survive di masa ekonomi sulit seperti ini,” tambah anggota KBB, Lita Kurniawan.

Hanafi yang digandeng KBB merasa beruntung, di tengah pandemi ini masih ada orang yang peduli dengan orang lain. Makanya ketika nasi yang dijualnya tidak habis, dia selalu memberikannya kepada orang yang membutuhkan. ”Saya mendapatkan sedekah dibeli orang, saya juga bersedekah memberi nasi ke orang lain,” ujarnya.

Sebelum digandeng KBB, Hanafi cukup kesulitan menjual nasi bungkus yang dimasak oleh istrinya tersebut. Jika tidak laku, nasinya sering terbuang sia-sia. ”Kadang bisa menjual 50 bungkus itu saja bersyukur, karena memang cukup jarang ada pembeli,” terang lelaki berusia 39 tahun tersebut. (rio/aif/c1)

(bw/rio/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news