Kamis, 17 Jun 2021
radarbanyuwangi
Home > Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Delapan Kapal Feri Hengkang dari Ketapang

05 Mei 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TERDAMPAK KORONA: Sejak akhir Desember 2020 hanya 48 kapal yang beroperasi di Pelabuhan ASDP Ketapang. Pengusaha kapal mengalihkan ke pelabuhan lain karena minim pendapatan.

TERDAMPAK KORONA: Sejak akhir Desember 2020 hanya 48 kapal yang beroperasi di Pelabuhan ASDP Ketapang. Pengusaha kapal mengalihkan ke pelabuhan lain karena minim pendapatan. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id - Pandemi korona benar-benar memberikan pukulan berat bagi bisnis tranportasi laut di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Pada Lebaran tahun ini, ada delapan kapal motor penumpang (KMP) yang ”hijrah” ke pelabuhan lain lantaran sepi pendapatan. 

Sejak akhir Desember 2020, tercatat hanya 48 kapal yang beroperasi di Pelabuhan ASDP Ketapang. Kapal-kapal tersebut berlayar bergantian mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XI Provinsi Jawa Timur. Padahal, lebaran tahun lalu masih ada 56 kapal yang beroperasi di pelabuhan yang menghubungkan Jawa_Bali tersebut. "Mungkin pengusaha kapal sudah mengkalkulasi untuk ruginya. Ketika bisnisnya sepi, mereka memilih memindahkan kapal ke pelabuhan lain," ujar koordinator BPTD Satuan Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Rocky Surentu.

Perpindahan kapal-kapal tersebut ke pelabuhan lain kemungkinan terkait operasional bahan bakar minyak (BBM) dan aturan wajib rapid test ke Bali yang berdampak kepada sepinya pelabuhan. Rata-rata kapal yang berpindah ke pelabuhan lain jenis KMP.

Baca juga: KOMUNITAS NMAX PILOT JEMBER BERBAGI DAN SAHUR ON THE ROAD

Sedangkan untuk jenis Landing Craft Tank (LCT) sementara ini masih berjalan aman. Pasar LCT adalah kendaraan pengangkut logistik dan truk besar sehingga tidak begitu terdampak selama pandemi. Delapan kapal yang pindah ke palabuhan lain di antaranya dibawa ke Pelabuhan Kayangan Lombok Timur, Pelabuhan Palembang, dan beberapa pelabuhan di wilayah Indonesia Timur. "Karena low factor yang terus terjadi selama pandemic ahirnya banyak perusahaan kapal yang tidak bisa membayar krunya. Daripada di-PHK, solusinya pindah ke plabuhan lain yang masih normal traffic-nya,’’ jelas Rocky.

Jika keadaan tidak berubah atau pelabuhan tetap sepi, tidak menutup kemungkinan, kapal-kapal lain menyusul pindah. Keputusan tersebut dianggap lebih rasional dari pada mempertahankan kapal di tengah traffic pelabuhan yang sepi. Rocky berharap ada perubahan setelah skrining Covid berbasis GeNose diterapkan di Pelabuhan Ketapang sejak Sabtu (1/5), terutama dari jumlah penumpang kapal yang datang ke pelabuhan. Biaya tes GeNose yang hanya Rp 40 ribu masih sangat mungkin dijangkau oleh calon penumpang.

Biaya tersebut jauh lebih murah dibandingkan rapid test antigen yang mencapai Rp 160 ribu sampai Rp 180 ribu untuk sekali tes. "Kami pernah beberapa kali melihat calon penumpang yang ingin menyeberang, tapi batal  karena uangnya hanya cukup untuk membeli tiket kapal. Padahal orang tersebut mau bekerja ke Bali. Ini yang membuat kita kasihan, semoga dengan GeNose nanti ada perubahan lebih baik," harap mantan atlet judo tersebut. (fre/aif)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news