Kamis, 06 May 2021
radarbanyuwangi
Home > Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Kerek Produktivitas Sapi dengan SMS Pisan

04 Mei 2021, 19: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

JURUS BARU: Bupati Ipuk meninjau pelaksanaan program SMS Pisan di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Kamis kemarin (29/4).

JURUS BARU: Bupati Ipuk meninjau pelaksanaan program SMS Pisan di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Kamis kemarin (29/4). (DINI FOR RABA)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Pemkab Banyuwangi kembali meluncurkan program baru bidang pertanian. Kali ini, sasaran program diarahkan pada peningkatan produktivitas sapi.

Program anyar dimaksud adalah sapi beranak setahun sekali alias ”Sapi Manak Setahun Pisan” (SMS Pisan). Program ini memberikan treatment kepada indukan sapi yang mengalami gangguan reproduksi sehingga mereka dapat bereproduksi secara maksimal, yakni satu tahun sekali.

Bupati Ipuk Fiestiandani meluncurkan langsung program tersebut di sela-sela kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, kemarin (29/4). Ipuk didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Arief Setyawan. Turut hadir Kepala UPT Inseminasi Buatan Dinas Peternakan Jawa Timur Dr drh Iswahyudi. ”Semoga dengan program SMS Pisan ini, populasi sapi di Banyuwangi bisa semakin meningkat, ujungnya tentu meningkatkan kesejahteraan kawan-kawan peternak,” harap Ipuk. 

Baca juga: Jabatan Kapolsek Tegalsari Berpindah, Iptu Lipur Digantikan AKP Pudji

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Arief Setyawan menjelaskan, program SMS Pisan ini mendorong agar sapi-sapi di Banyuwangi dapat bereproduksi dan berproduksi secara maksimal. ”Target kami, setiap induk sapi bisa beranak setahun sekali. Dalam program ini, kami siapkan tim yang bertugas mendampingi sapi-sapi yang bermasalah agar bisa produktif kembali. Sehingga usai melahirkan, saat anaknya usia tiga bulan, si induk sudah bisa bunting lagi,” kata dia. 

Dalam pelaksanaannya, kata Arief, tim akan melakukan pendampingan kepada sapi-sapi yang mengalami gangguan reproduksi. Sapi yang tidak berahi akan diberi treatment tertentu agar menjadi berahi. ”Kami berikan treatment khusus, agar reproduksinya bisa sama dengan sapi lainnya,” tutur mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Banyuwangi tersebut. 

Arief menambahkan, cara mendapatkan program ini cukup mudah. Pemilik sapi cukup melaporkan kondisi sapinya yang mengalami gangguan reproduksi kepada petugas maupun Pusat Kesehatan Hewan terdekat. ”Biaya pengobatan hingga kawin suntik gratis, ditanggung pemkab. Target kami dalam satu bulan ini bisa menyasar 750 sapi,” ujarnya.

Program ini disambut hangat para peternak, salah satunya Gatot Wicaksono. Awalnya, dia merasa risau karena sapi miliknya susah bunting. Namun kini setelah ada program ini dia merasa lega. ”Programnya cocok untuk sapi saya, karena hampir dua tahun belum bunting. Saya senang, karena petugas yang datang merawat dan pelayanannya baik,” ujar Gatot.

Sekadar diketahui, Banyuwangi terkenal sebagai sentra penghasil bibit sapi unggul, jenis simental dan limousin. Dari total populasi 140 ribu sapi di Banyuwangi, 80 persennya merupakan sapi betina. (sgt/aif/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news