Kamis, 06 May 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Modal Nekat, Kini Budi Daya Lobster Air Tawar Beromzet Rp 9 Juta/Bulan

04 Mei 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BUAH KERJA KERAS: Arief menunjukkan lobster air tawar hasil budi daya di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu.

BUAH KERJA KERAS: Arief menunjukkan lobster air tawar hasil budi daya di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. (SIGIT HARIYADI/RABA)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Ada cerita indah bagi mereka yang tidak mudah menyerah. Seperti dibuktikan Arief Rizal. Terkena gelombang PHK. Menjadi pengemudi angkutan online pun tak membuahkan hasil manis. Hingga akhirnya dia banting setir. Merintis usaha budi daya lobster air tawar. Kini, omzet yang dia raih mencapai jutaan rupiah per bulan.

Bermula di awal 2020. Tepatnya saat pandemi Covid-19 mulai melanda tanah air. Kala itu, tekanan berat dirasakan Arief Rizal, 29, warga Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu.

Bagaimana tidak, Arief yang kala itu bekerja di salah satu perusahaan di Malang, terkena gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, dia tidak menyerah pada keadaan. Arief mencoba bertahan hidup di Kota Apel tersebut bersama istri dan seorang anaknya.

Baca juga: Belum Ada Satupun Jasad Awak KRI Nanggala yang Ditemukan

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Arief bekerja sebagai pengemudi ojek online. Namun sayang, pandemi yang menyebabkan pembatasan aktivitas masyarakat menyebabkan angkutan online sepi pelanggan. Tidak jarang dalam sehari Arief hanya mendapat penghasilan sebesar Rp 10 ribu. ”Rugi bensin. Saya terpaksa mengundurkan diri. Maka saya pun menganggur,” ujarnya.

Akhirnya Arief memutuskan membawa istri dan anaknya pulang ke Banyuwangi dengan sisa uang tabungan sebesar Rp 1,5 juta. Saat kembali ke kampung halaman, Arief tak langsung mendapat pekerjaan. Maka, untuk bertahan hidup, Arief terpaksa menjual perhiasan istrinya. ”Bahkan sepasang cincin kawin terpaksa dijual,” kenang pria yang karib disapa Penok tersebut.

Arif lantas berpikir keras. Muncullah ide budi daya lobster air tawar. Sisa tabungan sebesar Rp 1,5 juta digunakan untuk modal awal. Yakni untuk membeli set indukan lobster dan dua kolam terpal.

Usaha yang digeluti Arief sejak Agustus 2020, itu tak serta-merta berjalan mulus. Selama beberapa bulan induk lobster yang dia budi daya tak kunjung bertelur. Bayang-bayang kegagalan pun menghampiri. ”Saya lantas belajar otodidak. Melihat proses budi daya lobster air tawar di YouTube. Saya lantas mencoba beberapa cara hingga akhirnya induk lobster yang saya budi daya bertelur,” kata dia.

Saat ini, Penok memiliki sekitar 16 kolam terpal berukuran satu meter kali dua meter. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Ada kolam yang berfungsi sebagai tempat perkawinan, penetasan, dan pembesaran.

Arief menuturkan, ada dua jenis lobster air tawar yang dia budi daya, yakni lobster air tawar untuk konsumsi dan lobster hias. Lobster untuk keperluan konsumsi dijual seharga Rp 130 ribu sampai Rp 150 ribu per kilogram (kg). Tergantung besar dan jumlah lobster dalam setiap kilogram yang dijual. ”Alhamdulillah ada permintaan tetap dari Bali. Sekitar 17 kilogram lobster konsumsi tiap pekan,” akunya.

Sedangkan untuk lobster hias, Arief alias Penok menjual secara paket indukan atau eceran. Lobster hias berukuran satu inci dibanderol dengan harga Rp 2 ribu atau Rp 7 ribu. Tergantung jenis lobster hiasnya. ”Lobster hias ini untuk memenuhi permintaan peminat Aquascape,” kata dia.

Bagi yang ingin budi daya, imbuh Penok, dia juga menjual indukan lobster. Satu paket indukan lobster air tawar dijual seharga Rp 150 ribu. ”Isinya 3 indukan jantan dan 5 betina. Atau juga paket Rp 1,2 juta, plus kolamnya,” tuturnya.

Kini, imbuh Arief rata-rata omzet yang diraih sebesar Rp 9 juta per bulan. ”Alhamdulillah. Bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news