Kamis, 06 May 2021
radarbanyuwangi
Home > Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Belum Ada Satupun Jasad Awak KRI Nanggala yang Ditemukan

04 Mei 2021, 10: 37: 09 WIB | editor : Ali Sodiqin

PINGSAN: Salah seorang keluarga awak KRI Nanggala-402 harus dibopong anggota TNI AL saat mengikuti upacara tabur bunga kemarin.

PINGSAN: Salah seorang keluarga awak KRI Nanggala-402 harus dibopong anggota TNI AL saat mengikuti upacara tabur bunga kemarin. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Evakuasi terhadap KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan utara Bali akan terus dilakukan. Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono menyatakan, proses evakuasi akan dilakukan dengan bantuan kapal milik SKK Migas yang memiliki kemampuan mengangkat beban berat dari kedalaman 1.000 meter.

Selain itu, kapal milik Angkatan Laut Tiongkok siap memberikan bantuan. Saat ini kapal berbendera Tiongkok tersebut sedang dalam perjalanan menuju lokasi tenggelamnya KRI Nanggala. Kapal tersebut disebut-sebut memiliki kemampuan sama seperti kapal milik SKK Migas. ”Kemarin Angkatan Laut China sudah melapor ke Panglima TNI dan menawarkan bantuan. Semoga partisipasi dan simpati negara sahabat bisa membantu proses evakuasi,” kata Yudo di sela prosesi tabur bunga di atas geladak KRI Soeharso.

Sampai saat ini beberapa bagian kapal selam yang bisa dievakuasi berupa benda-benda ringan. Seperti hidrofon dan baju penyelamatan. Yudo mengatakan, ROV milik MV Swift Rescue belum menemukan satu pun jasad dari awak KRI Nanggala. Ada prediksi seluruh kru kapal masih ada di dalam bagian terbesar kapal selam buatan Jerman tersebut.

Baca juga: Berbagi Kebahagiaan dengan Kaum Duafa dan Anak Yatim

Sedangkan untuk bagian kapal selam yang tergolong berat, pihaknya masih menunggu bantuan dari kapal SKK Migas atau Angkatan Laut Tiongkok. ”ROV dari Swift Rescue sempat melihat tower kapal yang ada tulisan 402 tertutup lumpur di bawah,” imbuhnya.  

Yudo mengaku belum mengetahui bagaimana teknis pengangkatan yang dilakukan nanti. Yang jelas ada beberapa opsi yang bisa dilakukan jika merujuk kepada pengalaman negara lain yang pernah melakukan evakuasi kapal selam di dasar laut. Mulai ditusuk baja yang masih utuh sebelum kemudian ditarik hingga memakai teknik kemagnetan. Bisa juga menggunakan tali dan balon udara yang dipompa agar bisa naik ke permukaan. ”Untuk mengevakuasi bangkai kapal selam dari kedalaman 838 kilometer jelas tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan hal tersebut harus dipahami,” tegas alumnus ALL angkatan 1988 tersebut.

Terkait target batas waktu evakuasi, Yudo belum bisa menentukan waktunya. Yang jelas, begitu tiba kapal-kapal tersebut akan langsung bekerja. Sampai kemarin, masih ada kapal asing milik Singapura, yaitu MV Swift Rescue dan kapal milik Malaysia MV Mega Bakti yang berada di sekitar lokasi tabur bunga. Termasuk KRI Rigel dan beberapa KRI lainnya yang terus memantau kondisi di bawah air. Kapal tersebut memantau titik keberadaan KRI Nanggala yang tidak bergerak di dasar laut.

Dikatakan Yudo, TNI AL tidak bisa menolak bantuan dari negara anggota International Submarine Escape and Rescue Liaison Officer (ISMERLO). Mereka punya kewajiban membantu tanpa kepentingan politik, tanpa mengenal kawan, maupun lawan. ”Apa pun yang mereka tawarkan kita terima. Seperti kapal Australia kemarin. Karena tidak mempunyai kemampuan untuk membantu, akhirnya kapal tersebut pergi,” tandasnya. (fre/aif/c1)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news