Kamis, 06 May 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Belajar Introspeksi dari ”West Culture”

Oleh: Ahmad Kafin Azka*

02 Mei 2021, 00: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Belajar Introspeksi dari ”West Culture”

Share this          

SERING kali orang menganggap kalau masuknya budaya barat ke negara kita itu dapat membuat bangsa kita menjadi amoral dan tak karuan. Persepsi ini, menurut saya pribadi masih belum dapat dibenarkan. Karena setiap orang butuh introspeksi diri. Harus lebih lama berdiri di depan cermin untuk melihat, apakah diri mereka sudah lebih baik ketimbang orang lain.

Coba kita bayangkan, bila orang bangsa barat mengolok-olok kita, bahwa kita adalah orang-orang yang bodoh. Bagaimana bisa tempat sampah yang sudah begitu besar dan banyak tersebar di mana-mana, masih saja tidak mau buang sampah di tempatnya? Terus bagaimana bisa ada banyak peringatan dilarang merokok tapi tingkat perokok malah semakin meningkat? Apakah kita sudah pernah berkontemplasi akan hal-hal remeh seperti itu?

Memang pakaian yang terbuka itu tidak baik. Selain terkena panas, bagi sebagian orang yang punya banyak penyakit kulit seperti panu, kadas, kurap, dan sebagainya, tentu akan terlihat tidak enak untuk dipandang. Terlebih bagi si kecil. Tapi mereka tetap percaya diri. Berbeda dengan kita, punya jerawat sedikit bingungnya sudah kebelet ingin cari obat jerawat. Sudah ingin cepat-cepat ngilangin tuh benjolan.

Baca juga: Buruh dan Esensi Kerja

Memang boleh hidup bersih. Tapi lihat lingkungannya dulu, bukan hanya memperhatikan diri sendiri. Yang katanya orang barat itu sikapnya individualis, tapi faktanya apa? Siapa yang lebih individualis? Buang sampah saja tak ke tempatnya. Imbasnya tentu bukan diri kita sendiri, tapi banyak orang. Ini kan yang kita anggap individualis? 

Kalian tahu tidak kalau orang barat itu saat masuk ke negara yang mayoritas Islam seperti Indonesia itu merasa takut? Iya, mereka itu shock, lantaran yang mereka ketahui tentang Islam itu adalah agama yang orangnya berwatak keras dan kejam. Seperti yang banyak terjadi di negara-negara timur seperti halnya negara Syiria. Di sana, orang berbeda pendapat dengan golongannya saja langsung dibedil. Menakutkan bukan?

Memang mayoritas yang kita ketahui tentang budaya barat kebanyakan hal negatifnya saja. Sehingga persepsi kita mengenai orang barat pasti jelek. Padahal, tidak sepenuhnya budaya barat itu jelek. Tidak sepenuhnya budaya barat itu tidak bisa kita tiru. Coba ditelaah dulu, lalu ambil hal yang bermanfaat. Jangan terlalu suudzon!

Berusaha menjadi orang yang bijak. Memang setiap negara mempunyai budaya masing-masing dan tak menutup kemungkinan semuanya berbeda. Indonesia saja yang satu negara mempunyai beribu-ribu budaya. Dan untungnya ribuan budaya itu terikat dalam kesatuan Bhinneka Tunggal Ika. Seharusnya begitulah yang dapat diterapkan oleh semua orang dengan perbedaan budaya di seluruh dunia.

Hal serupa sudah hampir sama seperti saat pesta demokrasi kemarin, yang mana banyak dari netizen yang terlalu fanatik pada dukungannya hingga lupa diri. Mereka tak memedulikan semua kebaikan yang dilakukan dari capres lain. Sehingga apa? Semua dianggap salah. Fitnah, hoaks, ujar kebencian merajalela.

Ada banyak kebiasaan mereka yang patut kita contoh. Memang mereka dalam penampilan tidak tau yang namanya adab, seperti pakaian terbuka, rambut warni-warni, dan lain sebagainya. Ya harus kita maklumi. Mereka tak punya aurat, beda dengan pandangan negara yang mayoritas Islam seperti Indonesia.

Dari sekian advokasi yang panjang lebar, boleh kita mulai menerapkan kebiasaan orang barat yang sudah terlupakan oleh kita. Sebelum itu coba untuk selalu berpikir positif dulu terhadap saudara kita yang ada di negeri barat ini.

Mulai dari kebersihan, coba lihat dulu dan introspeksi tentang kebersihan kita. Orang barat cenderung lebih perhatian dengan kebersihan mereka. Seperti kebiasaan setelah makan. Mereka sudah terbiasa selalu membersihkan sisa-sisa makan mereka sendiri, bahkan di tempat umum. Padahal hal itu sudah diajarkan dalam Islam, bahwa hukumnya sunah membersihkan sisa makanan, bila tidak, justru sebaliknya, mubazir.

 Lalu dalam berkomunikasi, sudahkah kita terbiasa untuk sopan dalam interaksi dengan orang lain? Untuk lebih sopan, bolehlah kita meniru orang barat. Yang mayoritas mereka selalu terbiasa untuk mengucapkan ”thank you”, ”sorry”, dan ”excuse me”. Kata-kata ini rajin mereka gunakan guna untuk lebih mengenal dengan orang lain. Jadi tak perlu heran, bila orang sana punya banyak relasi.

Pernah atau sering kan kita berkunjung ke teman atau sanak saudara. Namun ketika sampai di rumah sana, ternyata mereka tidak ada? Itu terjadi karena tak ada janji terlebih dahulu, dan kita sudah terbiasa untuk selalu berkunjung ke rumah teman atau sanak saudara dan beranggapan tidak perlu membuat janji. Itu mungkin hal sepele, tapi terus apa gunanya komunikasi? Boleh kita menengok sedikit ke orang barat sana, yang selalu membuat janji sebelum bertamu. Atau supaya meminimalkan rasa kekecewaan.

Coba tengok kebiasaan baik orang barat ini, bagaimana perbandingannya dengan kita? Apakah kita sudah lebih baik? Bila sudah, jadilah orang bijak! Jangan cela mereka. Belum tentu mereka menganggap kita lebih baik dari mereka. Alhamdulillah. (*)

*) Mahasiswa dan Santri Jurusan Ekonomi Syari’ah, Institut Agama Islam Darussalam, Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news