Kamis, 06 May 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Waspada Ancaman Third Wave Covid-19

Oleh: Agus Dani Triswanto *

01 Mei 2021, 23: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Waspada Ancaman Third Wave Covid-19

Share this          

Setelah satu tahun pandemi Covid-19 kita lalui, titik terang akan berakhirnya pandemi semakin tampak. Hal tersebut dapat dilihat dari grafik angka positif dan kematian akibat Covid-19 terlihat menurun. Ditambah lagi semakin masif pemberian vaksinasi terhadap tenaga kesehatan, pelayan publik, pejabat, guru, hingga para lansia. Hal tersebut seakan membuat semakin yakin bahwa pandemi akan pergi.

Namun, sikap optimistis akan berakhirnya pandemi tidak dibarengi dengan pola hidup masyarakat untuk tetap menjalankan disiplin protokol kesehatan dalam beberapa pekan. Faktanya, kini masyarakat semakin abai, banyak ditemukan kewaspadaan dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan menurun.

Akibat menurunnya kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan, ancaman terjadinya gelombang ketiga (third wave) Covid-19 semakin nyata. Dapat dilihat, dalam beberapa minggu terakhir peta persebaran Covid-19 kembali mengalami perubahan, baru sepekan kita masuk zona kuning kini kembali masuk zona oranye.

Baca juga: Petugas Gabungan Sita Puluhan Kayu Jati Ilegal

Perubahan warna zona terjadi akibat rate angka penularan orang terkonfirmasi Covid-19 dan orang meninggal akibat Covid-19 mengalami peningkatan, utamanya di daerah yang angka vaksinasinya masih rendah, seperti di Banyuwangi. Bila tidak segera diantisipasi, maka angka positif dan kematian karena Covid-19 akan meningkat.

Jangankan di Indonesia yang tingkat kesehatan dan kedisiplinan terhadap protokol kesehatannya tergolong rendah, di Eropa, yang sistem kesehatannya cukup mendukung, pun masih dibayangi peningkatan jumlah kematian akibat Covid-19. Eropa kini kembali berada pada titik kritis. Dalam beberapa minggu kasus meninggal akibat Covid-19 di 52 negara di Eropa telah mencapai lebih dari satu juta jiwa.

Adapun di dunia, Covid-19 telah menginfeksi total lebih dari 136 juta penduduk dan merenggut nyawa lebih dari 2,9 juta jiwa warga. Di India, yang sebelumnya dilaporkan penularan kasus positif Covid-19 menurun kini justru ada pada titik sebaliknya, bahkan terjadi lebih parah. Dalam sehari terjadi 168.000 penambahan kasus baru, jumlah kasus baru tersebut membawa total kasus Covid-19 di India menjadi 13,5 juta jiwa. Semua itu terjadi akibat kurang disiplin dan menurunnya partisipasi masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.

Menyikapi Varian Baru Covid-19

Selain menurunnya masyarakat dalam menjalankan disiplin protokol kesehatan juga adanya ancaman tiga varian baru virus Covid-19. Tiga varian baru virus Covid-19 tersebut adalah B117, D164G, dan N439K. Di Indonesia, varian B117 kali pertama dibawa pekerja migran Indonesia dari Arab Saudi, sedangkan varian D164G dan N436K yang transmisi lokalnya ditemukan di Karawang (Jawa Barat), Palembang (Sumsel), Tapin (Kalsel), dan di Medan (Sumut). Sebuah studi di Inggris mengungkapkan, bahwa virus varian B117 memiliki kemampuan transmisi 50–70 persen lebih besar dibandingkan dengan varian alami virus.

Survival of the Fittest, pelestarian diri dengan beradaptasi, pada dasarnya semua virus berupaya untuk terus bermutasi menjadi varian baru. Mutasi tidak selalu bersifat negatif. Dalam sebuah teori evolusi, mutasi memiliki peran penting sebagai bahan utama variasi genetik. Munculnya mutasi pada virus juga bukan hal yang baru dan tidak terduga sebelumnya. Ini terjadi sebagai proses alami adaptasi virus terhadap inangnya.

Ringkasnya, semakin banyak individu terinfeksi, semakin banyak peluang virus untuk berkembang dan berubah. Munculnya varian virus baru di Indonesia, mengingatkan kita akan lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap virus. Melihat virus varian baru ini adalah virus impor maka pencegahan dan pengawasan terhadap warga negara asing (WNA) di pintu masuk wilayah Republik Indonesia tidak boleh kendur, seperti Bandar udara, pelabuhan dan lain sebagainya. Selain itu, program percepatan vaksinasi terhadap masyarakat harus lebih ditingkatkan.

Pemerintah harus menjamin ketersediaan vaksin untuk rakyatnya. Harus ada target dalam pemberian vaksinasi terhadap masyarakat. Yang terpenting lagi adalah perlunya sikap disiplin, meskipun seseorang sudah melalui vaksinasi dua tahap, diimbau tetap harus menjalankan disiplin protokol kesehatan. Terlebih terhadap masyarakat yang belum tervaksinasi, menjaga dan menjalankan protokol kesehatan merupakan sebuah keharusan.

Jadi, kunci utamanya adalah menjaga kesehatan, kebersihan, dengan cara tertib menjalankan protokol kesehatan dengan benar. Karena virus apa pun bila kita disiplin menjaga dan menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menghindari kerumunan, memakai masker, dan menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Jadi, dengan imun kita kuat, virus apa pun akan susah untuk menyerang tubuh kita. (*)

*) Pegiat di Forum Belajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (FBM2B) Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news