Kamis, 06 May 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Keluarga Tetap Berharap Serda Pandu Selamat

”Entah Sudah Berapa Puluh Ribu Selawat yang Saya Baca”

29 April 2021, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERHARAP ANAKNYA SELAMAT:  Sri Hendah Lestari, 50, ibu kandung Serda (Ede) Pandu Yudha Kusuma saat ditemui di rumahnya kemarin.

BERHARAP ANAKNYA SELAMAT: Sri Hendah Lestari, 50, ibu kandung Serda (Ede) Pandu Yudha Kusuma saat ditemui di rumahnya kemarin. (FREDY RIZKI/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id - Keluarga Serda (Ede) Pandu Yudha Kusuma masih diliputi duka mendalam. Meski KRI Nanggala-402 dinyatakan subsunk (tenggelam), keluarganya di Lingkungan Sutri, Kelurahan Sobo, berharap Pandu tetap selamat. Bacaan doa dan selawat terus dibaca demi keselamatan Pandu.

Televisi di rumah keluarga Serda (Ede) Pandu Yudha Kusuma sudah tak menyala sejak hari Rabu (21/4) lalu. Pihak keluarga sengaja tak ingin mendengar kabar apapun tentang perkembangan KRI Nanggala-402. Mereka memilih terus berdoa dan berharap yang terbaik atas nasib putra mereka yang ada di perut KRI Nanggala.

Serda (Ede) Pandu Yudha Kusuma dan istrinya.

Serda (Ede) Pandu Yudha Kusuma dan istrinya. (REPRO FREDY RIZKI/RaBa)

Baca juga: Asyik Bikin Vlog, Nyaris Tertabrak Kereta Api

Saat Jawa Pos Radar Banyuwangi mengunjungi kediaman Pandu di Lingkungan Sutri, Kelurahan Sobo, ada banyak tamu yang datang. Mereka memberikan support moral kepada orang tua Pandu agar tetap tabah dengan kondisi yang ada. Sri Hendah Lestari, 50, ibu kandung Pandu terus-menerus menangis di antara tamu perempuan yang datang. "Sampai hari ini tidak ada firasat apa-apa. Kami hanya menunggu mukjizat saja,’’ ujar Peltu Wahyudi, orang tua Pandu yang kemarin mendampingi Sri Hendah.

Kabar tentang putus kontaknya KRI Nanggala diketahui Rabu malam (21/4) setelah berbuka puasa. Mendengar kabar tersebut, Wahyudi langsung pergi ke rumah salah satu kiai di Desa Jambesari. Dia meminta agar anaknya yang bertugas di KRI Nanggala bisa selamat.

Pasca kejadian tersebut, Wahyudi dan istrinya tak pernah lagi mengikuti perkembangan berita. Semua informasi hanya dia gantungkan dari Lanal Banyuwangi. Wahyudi memilih menunggu kabar pasti dari instansi yang memang berwenang memberikan perkembangan kabar tentang KRI Nanggala. "Saya baca selawat sebanyak mungkin. Entah sudah berapa puluh ribu selawat. Doa Nabi Yunus juga terus saya baca. Banyak teman-teman yang sempat momong Pandu sejak kecil ikut istighotsah," imbuh anggota Koramil Kalipuro itu.

Sosok Pandu adalah anak yang sangat dekat dengan keluarga, terutama ibu dan adik perempuanya. Sedangkan kepada Wahyudi, Pandu tak ubahnya seperti teman. Pandu juga dikenal sebagai pencinta binatang. Sejak masih sekolah sampai menjadi tentara, berbagai macam hewan seperti musang, ular, burung, kura-kura dia rawat di dalam rumah.

Wahyudi menceritakan, sejak bergabung dengan TNI AL lima tahun silam, Pandu selalu memanggilnya mentor. Panggilan tersebut para senior di lingkungan TNI A. Begitu juga sebaliknya, Wahyudi selalu memanggil anaknya tersebut dengan sebutan Sisun.

Setiap bertemu dua panggilan itulah yang kerap kali terucap di mulut keduanya. Bukan lagi panggilan ayah dan anak. "Pernah saya minta waktu itu dipanggil ayah. Akhirnya dia mau, tapi ya sekali itu saja. Selanjutnya saya terbiasa  memanggil dia dengan Sisun,’’ ungkap Wahyudi.

Ada salah satu momen yang sangat diingat Wahyudi sebelum Pandu mengabarkan jika dirinya akan berlayar. Minggu (18/4), Pandu menghubungi lewat video call dengan dirinya dan keluarganya. Kebetulan saat itu Wahyudi baru saja mendapat sepatu jatah dari Kodim. Wahyudi lalu menunjukkan sepatu itu kepada Pandu. "Waktu itu dia tanya, itu sepatu buat siapa, ya saya jawab buat Sisun. Ukuranya juga saya sesuaikan dengan kakinya. Dia senang sekali waktu itu. Makanya sekarang saya lihat sepatunya jadi ingat Pandu," ucap Wahyudi menerawang.

Senin (19/4pukul 08.00, Pandu mengabari ibunya (Sri Hendah Lestari) kalau akan berlayar. Setelah itu tidak ada komunikasi dari putra sulungnya tersebut. Wahyudi menganggap hal yang biasa. Setiap akan berlayar, Pandu selalu memberi kabar. "Dia sangat dekat sama ibu sama dan adiknya. Kalau sama saya jarang ngabari,’’ kata Wahyudi.

Meski KRI Nanggala sudah ditetapkan tenggelam, Wahyudi mengaku masih percaya anaknya selamat. Tidak adanya firasat dan mimpi diyakininya sebagai tanda jika putranya masih hidup. "Meskipun setipis rambut, kami masih berharap anak saya selamat. Saya masih terus berdoa, saya yakin rencana Allah lebih baik," ujarnya menutup pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Banyuwangi. (fre/aif)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news