Minggu, 11 Apr 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Merawat Identitas Daerah

Oleh: Samsudin Adlawi *

07 April 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Merawat Identitas Daerah

Share this          

”Kang udengan isun tok.”

YANG berudeng hanya saya. Begitu terjemahan bebas pesan WhatsApp. Yang masuk ke HP saya. Pesan itu masuk kemarin malam. Pukul 19.41. Dikirim oleh Ketua DKB (Dewan Kesenian Blambangan) Hasan Basri.

Rupanya, Kang Hasan sedang gundah. Hatinya gelisah. Melihat sendiri. Secara langsung. Fakta tidak mengenakkan. Yang dipertontonkan oleh para pihak—yang seharusnya punya komitmen kuat mentradisikan pemakaian udeng.

Baca juga: Penyelenggara Berdalih Cari Bibit-Bibit Pembalap

Itu bisa dibaca dari bunyi pesan sebelumnya: ”Delengane komitmen berudeng rodo kendo. Saiki ono acara ring Pelinggihan”. Rupanya komitmen berudeng mulai kendor. Sekarang ada acara di Pelinggihan (Dispar).

Ya, kemarin malam (4/4/21), di pelinggihan Dispar ada acara penting: ”Banyuwangi Ngopi Bareng Penuh Inspirasi”. Tidak main-main. Narasumbernya. Dua orang nomor satu. Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. Satunya, Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, Bupati Banyuwangi.

Undangannya juga bukan orang sembarang. Seperti WA yang saya terima, mereka dari instansi/lembaga yang terkait pariwisata. Seperti ketua PHRI, ketua HPI, ketua P2B, ketua ATTAB, GM hotel bintang, ketua jurusan manajemen pariwisata Poliwangi, dan ketua asosiasi Pokdarwis. Juga ketua AKRAB, ketua BYCN, ketua GENPI Banyuwangi, dan pelaku adat Banyuwangi. Tentu saja, ketua DKB termasuk dalam daftar undangan.

Mereka diundang ke pelinggihan kantor Disbudpar (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) Banyuwangi dengan agenda tunggal. Menatap layar monitor besar. Untuk ngobrol penuh inspirasi. Bersama Mas Menteri Sandiaga Uno dan Bu Ipuk. Lewat Zoom Meeting.  

Saya tidak tahu isi obrolannya. Saya juga tidak tanya bocorannya. Kepada Kang Hasan Basri. Meski secuil saja. Saya tahu diri. Hati Kang Hasan sedang tidak enak hati. Seperti pesan WA-nya yang saya cuplik di atas.

Tapi, saya memahami perasaan Kang Hasan ketika itu. Pasti hatinya ndongkol. Protes. Berontak. Melihat fakta tidak mengenakkan. Dengan matanya sendiri. Bukan dari sumber katanya-katanya.

Ia memilih diam. Memendam amarahnya. Bagaimana tidak. Lha wong ia hanya seorang diri. Yang pakai udeng. Tidak mungkin ia berteriak. Atau malah meminta pulang para undangan. Untuk mengambil udeng. Meskipun kalau itu dilakukannya, saya sangat mendukungnya. Bukannya hanya 100%. Tapi 1000%.

Bayangkan, di hadapan menparekraf, tidak ada yang pakai udeng. Bukankah mereka adalah dari habitat pegiat pemajuan wisata. Harusnya mereka menunjukkan identitas Banyuwanginya dong. Yakni, udeng.

Kecuali kalau acaranya bukan dengan menparekraf. Masih bisa dimaklumi.

Bisa saja, para undangan berdalih. Di undangan yang disebar kan tidak ada disebut: ”undangan pakai udeng atau syal batik bagi perempuan”.

Kalau berkilah seperti itu mereka malah salah dua kali. Disebut atau tidak di dalam undangan, ketika menghadiri acara terkait dengan pariwisata—apalagi budaya, semua stakeholder harusnya punya kesadaran sendiri: memakai udeng/syal.

Komitmen berudeng tidak boleh kendo—seperti kata Kang Hasan. DKB tidak perlu berulang-ulang menyosialisasikan soal itu. Disbudpar pasti sudah membuat protap. Kepada para pihak yang terkait dengan lingkup tugas kantornya. Bahwa, komunitas pariwisata wajib berudeng/bersyal dalam kegiatan yang terkait dengan wisata. Apalagi, ketika ”bertemu” menparekraf!

Pertanyaan besarnya: kenapa mulai kendor. Butuh kajian. Setidaknya, diadakan survei kecil-kecilan. Pastinya, tidak boleh kendor. Sebab, di saat Bumi Blambangan belum punya identitas kuat dalam bentuk fisik, udeng menjadi alternatif yang pas untuk identitas Banyuwangi.

Banyuwangi belum seperti Bali. Yang mulai dari pagar dan bangunan rumah penduduknya, orang langsung tahu: ini Bali. Banyuwangi belum punya seperti yang dipunya Bali. Karenanya, atas kajian DKB, lahirlah perbup tentang pakaian adat Banyuwangi. Salah satunya udeng dan syal batik khas Banyuwangi.

Dan, Alhamdulillah, sebenarnya identitas itu sudah mulai diakui. Banyak wisatawan yang berburu udeng Banyuwangi. Pun para pejabat. Yang studi banding ke Banyuwangi. Mereka bangga memakai udeng. Karena gerakan memakai udengan dilakukan secara masif. Apalagi, Pak Abdullah Azwar Anas berada di garda terdepan. Memberi contoh langsung. Selalu mengenakan udeng dalam berbagai acara. Terutama acara yang terkait dengan pariwisata. Khususnya, perhelatan budaya.

Demam udeng dalam lima tahun terakhir begitu menggembirakan. Masyarakat mulai terbiasa memakai udeng. Tidak kikuk. Bukan hanya pejabat dan ASN. Tapi semua lapisan masyarakat. Saya pernah melihat tukang parkir mengenakan udeng saat mengatur kendaraan. Di kesempatan lain, berpapasan dengan pesapon yang sedang berdinas. Menyapu di pinggir jalan dengan berudeng. Beberapa tukang bakso juga merasa gagah saat memakai udeng. Bahkan, ada tukang mlijo keliling yang juga tidak ketinggalan udengnya.

Makanya, wajar kalau Kang Hasan ”marah”. Gusar melihat fenomena mulai melemahnya komiten berudeng. Yang ditunjukkan oleh kalangan yang seharusnya menjadi pelopor pemakaian udeng. Komunitas yang sehari-hari bersinggungan langsung dengan wisatawan.

Wa ba’du. Mumpung belum telat. Dan, memang, tidak ada kata telat. Mari dikuatkan lagi. Komitmen pemakaian udeng Banyuwangi. Sebagai identitas daerah.

Jangan sampai terjadi ironi. Banyuwangi yang menjadi contoh daerah lain dalam penguatan identitas daerahnya, malah kendor. Jangan-jangan, tak lama lagi disalip Situbondo. Bupati Situbondo Karna Suswandi meminta, semua ASN dan para pihak di Kota Santri memakai jangghar. Udeng khas Situbondo. Minimal sepekan sekali. Setiap Kamis.

Seperti balapan motor GP atau F1, sering kali terjadi kejutan di tikungan. Ada pembalap yang menyalip di tikungan akhir.

*) Budayawan, Penyair Banyuwangi

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news