Minggu, 11 Apr 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Penyandang Tunanetra yang Mahir Membaca Alquran Braile

Listrik Padam, Baca Alquran Jalan Terus

07 April 2021, 11: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PERCAYA DIRI: Rulyharini membaca Alquran surat Ali Imron ayat 133–137 di sebuah acara pernikahan di Dusun Krajan, Desa Gladag, Rogojampi beberapa waktu lalu.

PERCAYA DIRI: Rulyharini membaca Alquran surat Ali Imron ayat 133–137 di sebuah acara pernikahan di Dusun Krajan, Desa Gladag, Rogojampi beberapa waktu lalu. (DEDY JUMHARDIYANTO/RABA)

Share this          

RadarBanyuwangi.id - Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk bisa beraktivitas dan bermanfaat bagi orang lain. Rulyharini, seorang tunanetra asal Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi mampu membaca Alquran dengan baik, meski tak mampu melihat seperti manusia normal.

Suaranya merdu ketika melantunkan bacaan ayat-ayat suci Alquran. Tangan kanannya tampak meraba kertas berwarna putih di hadapannya. Sementara tangan kirinya menahan Alquran yang diletakkan di atas kursi.

Dengan penuh percaya diri, Rulyharini melantunkan ayat suci Alquran. Untuk tampil di hadapan umum, perempuan 22 tahun ini tetap merias diri pada bagian wajah dan mengenakan pakaian yang rapi.

Baca juga: Kantor Yayasan Pendidikan Mirip Istana Negara di Kecamatan Arjasa

Pagi itu Ruli –panggilan akrab Rulyharini—  sedang didaulat membacakan ayat suci Alquran dalam acara akad nikah antara Rendianto Wibawa dan Irin. Penampilan Ruli cukup memukau dan tak sedikit hadirin berdecak kagum dengan kebolehannya melantukan ayat suci Alquran.

Ruli mengaku tidak canggung untuk tampil di hadapan umum. Maklum, sejak masuk di sekolah luar biasa (SLB) tahun 2006 lalu, dia kerap tampil di hadapan publik. ”Saya sering diajak nyanyi mulai di Surabaya, Malang, sampai Jogja,” ungkapnya.

Putri bungsu dari empat bersaudara pasangan suami istri Runi dan Soyati ini memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar. Tak heran, meski sudah lancar membaca huruf braille latin (abjad), Ruli masih terus berupaya bisa membaca huruf Alquran melalui Alquran braille.

Tahun 2014, Ruli mencoba mengikuti les privat untuk belajar membaca huruf Alquran braille pada salah seorang guru bernama Listiyani. Hingga akhirnya Ruli mampu membaca huruf Alquran braile dengan baik. ”Meski ada kesalahan yang terpenting sudah bisa membaca,” ujar mahasiswi Pendidikan Luar Biasa IKIP Jember ini.

Kali pertama ingin membaca Alquran braile, Ruli termotivasi untuk ikut mengajarkan kepada sesama teman dan sahabat tunanetra. ”Hampir rata-rata teman kami sesama tunanetra melantunkan ayat suci Alquran bukan dengan cara membaca, melainkan menghafal lewat Alquran digital,” terangnya.

Bagi penyandang tunanetra, untuk menjadi pembaca dan penghafal Alquran, metode pengajarannya berbeda. Untuk menjadi penghafal Alquran, cara belajarnya dengan mendengar secara berulang-ulang surat dalam Alquran. Caranya bisa dengan mendengarkan dari kaset atau sekarang Mp3 secara berulang-ulang. Bisa juga dengan handphone. Untuk menjadi penghafal Alquran tidak harus dengan belajar membaca Alquran braille lebih dulu.

Padahal, menurut Ruli, justru dengan membaca akan lebih memahami setiap huruf Alquran dan tidak mudah lupa. Jika menghafal masih mungkin bisa lupa. Sebaliknya, jika mampu membaca, tidak akan bisa lupa.

Meski dengan keterbatasan penglihatan, bukan berarti tidak bisa beraktivitas seperti manusia normal pada umumnya. Ruli tetap bermain dengan teman sebayanya, termasuk dalam hal mengaji. Bahkan, saat kuliah di Jember, Ruli tetap berangkat sendiri dengan naik kereta api dari Stasiun Rogojampi hingga Jember dan pulang kembali ke Rogojampi.

Ruli mengakui punya pengalaman menarik ketika membaca Alquran. Ia pernah membaca Alquran bersama orang awas, yakni orang yang dapat melihat dengan jelas ketika membaca Alquran.

Saat membaca Alquran bersama, tiba-tiba lampu padam. Orang awas berhenti membaca. Sementara, ia terus membaca Alquran sampai selesai. ”Keunggulannya untuk Alquran braille bisa tetap membaca sampai selesai meski listrik padam,” ungkapnya.

Dengan belajar membaca Alquran braille, seorang penyandang cacat netra bisa memiliki kemampuan membaca Alquran dengan baik. Ruli berharap generasi penerus bangsa, terutama sesama penyandang tunanetra, bisa membaca Alquran tidak hanya sekadar menghafal. ”Saya berharap teman-teman sesama tunanetra meningatkan membaca. Dengan membaca bisa mengenal dunia lebih luas,” kata Ruli. 

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news