Minggu, 11 Apr 2021
radarbanyuwangi
Home > Edukasi
icon featured
Edukasi
Simposium Nasional Perikanan

Berikan Policy Brief ke Bupati Ipuk agar Produktivitas Udang Terjaga

06 April 2021, 17: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PENGUATAN EKONOMI: Bupati Ipuk Fiestiandani (dua dari kiri) didampingi Dekan Fakultas Pertanian dan Perikanan Untag Ervina Wahyu Setyaningrum (kiri) dan Rektor Untag Andang Subaharianto (tiga dari kiri) memukul gong tanda pembukaan simposium nasional.

PENGUATAN EKONOMI: Bupati Ipuk Fiestiandani (dua dari kiri) didampingi Dekan Fakultas Pertanian dan Perikanan Untag Ervina Wahyu Setyaningrum (kiri) dan Rektor Untag Andang Subaharianto (tiga dari kiri) memukul gong tanda pembukaan simposium nasional. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi punya gawe besar kemarin (5/4). Bekerja sama dengan Universitas Airlangga Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Banyuwangi, pihak kampus merah putih tersebut menggelar Simposium Nasional bertajuk ”Penguatan Ekonomi Kabupaten Banyuwangi Melalui Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Secara Berkelanjutan di Era Kebiasaan Baru (New Normal)”.

Tidak tanggung-tanggung, simposium tersebut menghadirkan enam pembicara berkompeten. Mereka adalah Rektor Untag Banyuwangi Andang Subaharianto, Dekan Fakultas Pertanian dan Kelautan Unair Moch. Amin Alamsjah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, Ketua Shrim Club Indonesia Banyuwangi Yanuar Toto Raharjo, Konsorsium Mitra Bahari Regional Center Jatim Sukandar, dan Ateng Supriatna asal Conservation International Indonesia.

Bupati Ipuk Fiestiandani turut hadir dalam acara yang digelar di auditorium kampus Untag, Jalan Adi Sucipto, Banyuwangi tersebut. Setelah menyampaikan sambutan, Ipuk didaulat membuka simposium dengan memukul gong sebanyak lima kali.

TERAPKAN PROKES: Puluhan peserta lintas elemen menyimak paparan pembicara dalam acara simposium nasional.

TERAPKAN PROKES: Puluhan peserta lintas elemen menyimak paparan pembicara dalam acara simposium nasional. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Baca juga: KLB Deli Serdang Ditolak, Dokter Agung Gelar Gowes

 Ipuk menilai, simposium yang digeber Untag tersebut sangat bagus guna menggali potensi perikanan di kabupaten the Sunrise of Java ini. ”Kami berharap, dengan adanya simposium ini nanti teman-teman dari akademisi, pelaku usaha di bidang perikanan bisa mendukung program dan kebijakan pemerintah. Gol dari semua kegiatan ini adalah kesejahteraan rakyat Banyuwangi,” ujarnya.

Ipuk menuturkan, Banyuwangi punya potensi perikanan yang sangat besar dan masih bisa terus dikembangkan sehingga memberikan dampak lebih besar terhadap kesejahteraan rakyat. ”Lewat simposium ini diharapkan dapat ditemukan benang merah antara potensi perikanan yang sangat besar, dunia usaha, dan kesejahteraan rakyat,” tuturnya.

Namun di sisi lain, untuk sementara pemkab masih memberlakukan moratorium izin tambak baru di Banyuwangi. Ipuk menegaskan, moratorium tersebut bukan merupakan kebijakan yang tidak pro-investasi. ”Namun, karena sejauh ini banyak pengusaha tambak yang kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Misalnya jalan di sekitar tambak dibiarkan rusak,” kata dia.

Nah, melalui simposium kemarin diharapkan ada kajian-kajian baru berkaitan dengan tambak udang di Banyuwangi. ”Kami berharap kalangan akademisi bisa memberikan pengetahuan kepada para pengusaha tambak udang untuk peduli terhadap Banyuwangi. Jangan sekadar bikin usaha di Banyuwangi dan setelah usahanya selesai, tambak tersebut ditinggal begitu saja. Kami berharap ada solusi terbaik untuk pengembangan bidang perikanan di Banyuwangi,” harap Ipuk.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian dan Perikanan Untag Banyuwangi Ervina Wahyu Setyaningrum mengatakan, simposium tersebut merupakan salah satu bukti sumbangsih kalangan akademisi dalam usaha peningkatan ekonomi rakyat Banyuwangi.

Ervina menyatakan, sebelum menggelar simposium, ada 50 lebih artikel yang terkumpul dalam kurun sekitar dua bulan. Artikel-artikel yang berasal dari kalangan akademisi dan praktisi tersebut dibagi empat tema, yakni manajemen budi daya, manajemen sosial budaya pesisir, manajemen lingkungan pesisir, dan kebijakan pembangunan perikanan.

Artikel-artikel itu lantas diolah oleh tim Fakultas Pertanian dan Perikanan Untag bersama Fakultas Perikanan Unair. Setelah diolah melalui perdebatan internal tim, maka terbentuk Policy Brief yang diserahkan kepada Bupati Ipuk dalam forum simposium kemarin.

Ervina menambahkan, ada beberapa rekomendasi yang dihasilkan dalam hal penguatan ekonomi pesisir, terutama di bidang budi daya udang. Rekomendasi tersebut antara lain, Jatim merupakan penghasil udang tertinggi di Indonesia dan Banyuwangi menjadi produsen udang terbesar di Jatim. ”Budi daya udang mempunyai multiplier effect, yaitu banyak tenaga kerja yang ada di industri udang, mulai pekerja tambak, supplier, cold storage, hatchery, pabrik pakan, dan lain-lain,” ujarnya.

Lebih lanjut Ervina menuturkan, budi daya udang di Banyuwangi tidak hanya terdiri dari tambak intensif dan super intensif, tetapi juga banyak petani tambak kecil yang butuh pendampingan serta support terhadap banyak hal, mulai pendampingan teknis maupun permodalan. Namun demikian, imbuh Ervina, keberlanjutan juga harus menjadi prioritas.

Dikatakan, jika lingkungan sekitar lokasi budi daya, khususnya kawasan pesisir tidak sehat, maka bukan tidak mungkin budi daya udang di Banyuwangi bakal mengalami kemunduran, bahkan tinggal nama di masa depan. ”Berkaitan dengan itulah intervensi pemerintah perlu dilakukan. Sudah saatnya Banyuwangi komitmen dalam hal integrated coastal management, yakni keterpaduan knowledge, keterpaduan sektor bahkan program harus terjadi. Pesisir tidak hanya fokus pada budi daya udang saja, tetapi juga fokus pada penangkapan, fokus pada pariwisata, fokus pada pertanian, fokus pada usaha mikro, kecil, dan menengah, dan lain-lain. Goodwill harus dimiliki semua pihak,” pungkasnya.

(bw/sgt/ics/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news