Minggu, 11 Apr 2021
radarbanyuwangi
Home > Genteng
icon featured
Genteng

Pungkasi Misa Paskah, Umat Pesta Ingkung

06 April 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PERARAKAN:  Misdinar dan Romo memasuki Kapel Stasi Sugihwaras, Desa Bumiharjo, Kacamatan Glenmore untuk  memulai misa Hari Raya Paskah, kemarin (4/4).

PERARAKAN: Misdinar dan Romo memasuki Kapel Stasi Sugihwaras, Desa Bumiharjo, Kacamatan Glenmore untuk memulai misa Hari Raya Paskah, kemarin (4/4). (ADE KOPANG FOR JPRG)

Share this          

RadarBanyuwangi.id –Ada yang menarik dari tradisi misa Paskah umat Katolik di Dusun Sugihwaras, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore. Selain menggelar misa, mereka memiliki tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun, yakni makan ingkung.

Makan ingkun bersama itu dilaksanakan setelah misa yang dipimpin Romo Adi Prasetyo, Pr. di Gereja Stasi Sugihwaras, Desa Bumiharjo, kemairn (4/4). Menu ingkung ini, tradisi dan pembeda dengan kegiatan di gereja lain. “Tradisi makan ingkung di akhir misa Paskah ini sudah berjalan tahunan,” cetus panitia pelaksana, Alexander Laksono.

Tradisi makan ingkung ini, terang dia, sebenarnya tidak hanya melekat saat Paskah. Setiap kegiatan perayaan hari besar, juga ada pesta makan ingkung. “Setiap ada perayaan, entah itu Natal, ada pesta ingkung,” terangnya.

Baca juga: BCE Glagah Tampilkan Pencak Sumping Hingga Drama Musikal

Di tempat terpisah, Pastur Pimpinan Gereja Katolik Santo Paulus Jajag, Kecamatan Gambiran, Romo Fadjar Tedjo Soekarno bersyukur pelaksanaan peryaan Paskah di Banyuwangi berjalan lancar dan aman. Ia menyebut, perayaan ini dilaksanakan dalam keprihatinan pandemi, juga teror yang menyasar gereja Katedral di Makassar. “Peristiwa pemboman Gereja Katedral Makassar benar-benar melukai kami,” jelasnya.

Meski demikian, Romo Fajar mengimbau kepada umat Katolik di Banyuwangi untuk tidak perlu khawatir berlebihan. Di Banyuwangi, dukungan dari elemen lintas agama dan masyatakat cukup baik. Dukungan dan sinergitas menjaga keamanan, baik itu secara pribadi ataupun kelompok, dirasakan sangat membantu dan menenangkan. “Terima kasih kepada para sahabat lintas agama dan golongan yang telah memberi ucapan,” jelasnya.

Dia juga mendorong ada upaya penanganan dan pencegahan sampai ke akar. Sehingga, kejadian seperti itu tidak kembali terjadi. Menurut Romo Fajar, selama ini setiap kali muncul aksi terorisme hanya diikuti reaksi, pernyataan sikap, atau kecaman dari berbagai pihak. Selanjutnya masyarakat kembali tenang seolah menganggap kasus selesai. Sementara akar masalahnya tidak pernah tersentuh. “Kami berharap ada upaya serius dari berbagai pihak untuk membenahi pemahaman yang salah,” ungkapnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news