Minggu, 11 Apr 2021
radarbanyuwangi
Home > Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Pengawas: Invisible Hand

Oleh: Farid Wajdy*

06 April 2021, 05: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Pengawas: Invisible Hand

Share this          

Gerak langkah pasti para pengawas walau di tengah terpaan isu penghapusan jabatan pengawas, eksistensinya dipertanyakan. Sebut saja di beberapa media elektronik,  pada tanggal 14 Januari 2021 yang bertajuk, Haruskah Pengawas Sekolah Dihapus (https://portalsulutnews.com). Hampir bersamaan dikabarkan Mendikbud meminta pengawas dihapus. Diopinikan pula bahwa pengawas sekolah bikin mutu pendidikan jeblok sehingga layak dihapus (https://www.jpnn.com). Cukup mengejutkan memang, yang pasti isu hangat itu seakan sudah menjadi pembicaraan panjang sebelumnya.

Di balik itu semua, apabila dicermati Tupoksi Pengawas di antaranya melakukan pembinaan pengembangan kualitas sekolah, kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan kinerja seluruh staf sekolah, melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan program sekolah beserta pengembangannya, serta melakukan penilaian terhadap proses dan hasil program pengembangan sekolah secara kolaboratif dengan stakeholder sekolah.

Tugas yang dapat dikatakan tidak ringan, seakan Pengawas memikul tugas sebagai agent of quality control educations, agen penjaga dan pengontrol kualitas pendidikan. Secara etimologi ”supervisi” berasal dari kata ”super” dan ”vision” yang masing-masing kata itu berarti ”atas” dan ”penglihatan”. Secara semantik, supervisi adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu belajar dan mengajar pada khususnya (Kemendikbud, 2018).

Baca juga: Wisuda 66 Santri Metode Al Miftah Lil Ulum Nadzom Imrithi

Dilihat dari subjeknya, supervisi pendidikan terdiri dari supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah dan oleh pengawas sekolah. Kepala sekolah harus memiliki kompetensi dan melaksanakan tugas pengawasan pembelajaran (Permendikbud No.12 Tahun 2007, Permen PAN & RB No. 21 Tahun 2010). 

Pengawasan yang dimaksud adalah supervisi pembelajaran, yaitu serangkaian kegiatan untuk membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Melalui supervisi pembelajaran kepala sekolah dapat menilai dan memberikan pembinaan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Tahap-tahap supervisi kepala sekolah terhadap guru mulai dari perencanaan perangkat pembelajaran, dilanjutkan ke pelaksanaan pembelajaran, diikuti refleksi, dan diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut (Kemendikbud, 2017).

Pengawasan juga merupakan kompetensi yang harus dimiliki sekaligus tugas yang harus dilaksanakan oleh pengawas sekolah (Permendikbud No.12 Tahun 2007, Permen PAN & RB No. 21 Tahun 2010). Pengawasan yang dimaksud adalah supervisi akademik dan supervisi manajerial.

Pengawasan akademik merupakan tugas pengawas sekolah yang berkenaan dengan pelaksanaan tugas pembinaan, pemantauan, penilaian, dan pembimbingan dan pelatihan profesional guru pada aspek kompetensi guru dan tugas pokok guru. Pengawasan manajerial merupakan tugas pengawas sekolah yang meliputi kegiatan pembinaan, pemantauan, penilaian, serta pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain pada aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah dalam mendukung terlaksana proses pembelajaran. (Kemdikbud, 2017).

Dikutip dari kompasiana.com, Supervisi Dialogis sebagai metamorfosis bentuk kepengawasan yang solutif. Agar pendidikan humanistik dapat terimplementasikan, supervisi harus dimulai dengan pendekatan humanistik pula. Freire (dalam Firdaus and Mariyat, 2017)  menawarkan tiga metode dalam pendekatan humanistik, salah satunya adalah komunikasi dialogis.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Romo Mangun (dalam Syafei, 2019), yang menginginkan selain membangun kemampuan berpikir kreatif, bersikap terbuka dan toleran, juga berkomunikasi secara dialogis. Walaupun metode yang dimaksud adalah metode pembelajaran antara guru dan siswa di kelas, sebaiknya supervisors, baik kepala sekolah maupun pengawas sekolah, menginisiasi penggunaan metode ini. Yaitu metode yang menciptakan lingkungan yang memberi harapan, yang memberi bantuan, yang memberi fasilitasi dan yang berorientasi pada tumbuhnya semua orang (P.J. Beatty, 2001).

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, kepala sekolah melaksanakan supervisi pembelajaran kepada guru, pengawas sekolah memberikan supervisi akademik kepada guru, dan supervisi manajerial kepada kepala sekolah dan tenaga administrasi sekolah. Dengan metode dialogis, kepala sekolah dan pengawas sekolah hendaknya memiliki tujuh karakter yang disarankan oleh P.J. Beatty (2001) berikut: a) Memberikan perhatian tanpa syarat, yaitu menghargai guru dengan membantunya menjadi yang dia mampu sebagai individual, b) Menebarkan rasa cinta, yaitu sesuatu yang alami tidak mengada-ada, menerima guru apa adanya., c) Mau berkomunikasi, yaitu mau membuka diri dengan semua guru, d) Jujur dalam menampilkan dirinya, yaitu lebih mengembangkan diri daripada berpura-pura sama, e) Merespons secara empatik, yaitu punya kemampuan menerima sudut pandang guru yang sedang berbicara dengannya, f) Membangun kesetaraan yang realistis dalam berkomunikasi, yaitu memandang guru satu dan yang lainnya sebagai pribadi yang unik dan berbeda, bukan sebagai objek yang bisa dimanipulasi dan dieksploitasi, g) Selalu hadir, yaitu melibatkan dirinya dalam kesulitan guru, bersedia dan tidak menyulitkan ketika dihubungi.

Sebagai penutup, kepala sekolah dan pengawas sekolah yang dialogis diharapkan akan menginspirasi dan menciptakan hubungan yang humanistik antarsiswa, guru, kepala sekolah, tenaga administrasi sekolah, dan pengawas sekolah. Dan pada akhirnya akan terwujud sekolah humanistik dan pendidikan humanistik. Dalam ekonomi, tangan tak terlihat (invisible hand) adalah metafora yang dipakai Adam Smith untuk menyebut manfaat sosial yang tak terduga-duga berkat tindakan individu (https://id.wikipedia.org), maka Pengawas dituntut sebagai invisible hand, tangan yang tidak tampak, namun manfaat kehadirannya di tengah-tengah guru sangat diharapkan. Bimbingan, pembinaan, dan suntikan motivasi bagi sosok guru dari sosok pengawas masih menjadi simbiosis mutualisme. (*)

*) Pengawas PAI SMP, SMA, dan SMK, Kemenag Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news