Minggu, 11 Apr 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Penjaga Gawang Live Streaming di Gereja Maria Ratu Damai

04 April 2021, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

KERJA TIM: Tim streaming Gereja Maria Ratu Damai sibuk menjalankan tugas siaran langsung pelaksanaan misa Jumat Agung kemarin.

KERJA TIM: Tim streaming Gereja Maria Ratu Damai sibuk menjalankan tugas siaran langsung pelaksanaan misa Jumat Agung kemarin. (BAGUS RIO/RABA)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Pandemi Covid-19 tidak menjadi halangan untuk melaksanakan ibadah di Gereja Maria Ratu Damai Banyuwangi. Meski ada larangan mengumpulkan massa, pihak gereja yang beralamat di Jalan Jaksa Agung Suprapto itu tetap menggelar ibadah. Misa Jumat Agung Paskah kemarin dilaksanakan lewat live streaming.

Sejumlah pemuda datang lebih awal sebelum jemaat Gereja Maria Ratu Damai memenuhi ruangan gereja. Mereka adalah Laurensius Andre Febryanto, Cyrillus Reinhard Calvalero Sipayung, Andreas Benoe Angger Putranto, Russellino Xander Tansudarmono, dan Athanasius Marcellino.

Lima pemuda tersebut tampak sibuk dengan sejumlah peralatan kamera di tangannya. Mereka terlihat keluar-masuk menuju ruangan monitor. Cukup sibuk memang. Selain kamera, mereka juga mengatur kabel untuk menghubungkan kamera yang baru dipasang.

Baca juga: Yunus Masuk Ruang Isolasi RSUD Blambangan

Kelima pemuda tersebut ternyata tim streaming selama pelaksanaan Pekan Suci Paskah. Kelimanya memiliki tugas masing-masing demi suksesnya  acara yang diikuti para jemaat Gereja Maria Ratu Damai. Sebagian jemaat tidak bisa hadir langsung ke gereja karena ada pembatasan selama pandemi Covid-19.

Streaming yang diikuti jemaat di rumah tergantung pada kelima pemuda tersebut. Mereka mendapat julukan garda tersibuk selama pelaksanaan ibadah gereja. ”Live streaming dilaksanakan sejak pandemi menyebar di tahun 2020. Ide streaming muncul ketika ada larangan pelaksanaan ibadah secara langsung,” ujar Andreas Benoe Angger Putranto.

Pelaksanaan ibadah secara streaming dilaksanakan sejak 5 Maret 2020. Pelaksanannya bukan di gereja, melainkan di Pasturan atau rumah tinggal Romo. ”Streaming pertama kali menggunakan YouTube, bahkan para jemaat sangat mendukung pelaksanaan tersebut,” katanya.

Dengan support itulah, Angger merangkul pemuda lainnya untuk membantu tugasnya. Cukup sederhana pelaksanaannya, hanya memanfaatkan laptop dan webcam pribadi. ”Kami akhirnya berhasil merangkul teman-teman sebanyak empat orang, mereka kami minta berbagi tugas,” kata Angger.

Keempatnya langsung menerima. Mereka menganggap tugas tim streaming sangat mulia.  ”Mereka mau karena memang tugasnya sangat mulia, sangat membantu para jemaat,” terangnya.

Tim langsung berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan streaming misa. Hingga kini mereka melakukan dua sistem streaming, yaitu dengan cara luring dan daring. ”Terkadang masih banyak kendala di koneksi internet, tetapi kami senang bisa membantu sesama dan pelaksanaan misa tetap digelar dan diikuti para jemaat,” ungkapnya.

Sebagai tim streaming memang cukup membuat para pemuda merasa senang. Mereka merasa bisa membantu jemaat dalam menjalankan ibadah. ”Cukup senang dan bahkan tidak ada duka yang saya rasakan,” ujar Laurensius Andre Febryanto.

Andre mengatakan, timnya hanya perlu mengetahui jadwal dan datang lebih awal dari jemaat lainnya. Baginya, kegiatan tersebut bisa mengisi waktu luangnya di rumah. ”Sebelumnya banyak waktu longgar dan bisa bermain, sekarang disibukkan menjadi petugas streaming,” katanya.

(bw/rio/aif/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news