Minggu, 11 Apr 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Tunawicara Tulang Punggung Keluarga

Penuhi Hidup dari Rongsokan, Hidup Berdua dengan Adik yang Tunarungu

31 Maret 2021, 19: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

SEMANGAT KERJA: Jumi’i mencari barang bekas di jalan desa sekitar kampungnya. Dia hidup berdua dengan adiknya yang tunarungu

SEMANGAT KERJA: Jumi’i mencari barang bekas di jalan desa sekitar kampungnya. Dia hidup berdua dengan adiknya yang tunarungu (HABIBUL ADNAN/JPRS)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Jumi’i dan Duki punya profesi masing-masing. Dari hasil kerja kerasnya itulah, dua bersaudara ini memenuhi kebutuhan sehari-hari

Jumi’i hidup berdua dengan saudaranya di sebuah gubuk reot. Keduanya memang belum berkeluarga, meski sudah berkepala empat. Jumi’i usianya sekitar 50 tahun. Sedangkan adiknya yang bernama Duki, sudah berusia 47 tahun.

Mereka berdua harus bekerja keras agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Jumi’i yang tunawicara, sehari-hari menjadi pencari rongsokan. Sedangkan Duki seorang buruh tani. Dia tunarungu. Mereka tinggal di Dusun Kosabe, Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa.

Baca juga: Evaluasi Gubernur Genap 14 Hari, APBD Situbondo Tak Kunjung Disahkan

Ketika wartawan koran ini ke rumahnya, Duki sedang bekerja di salah satu sawah warga. Menurut seorang tetangganya, dia biasanya pulang sekitar pukul 15.00-16.00. Hanya Jumi’i yang bisa ditemui. Tetapi dia kesulitan diajak komunikasi karena tunawicara.

Nurhayati, tetangganya yang lain mengatakan, semangat keduanya dalam bekerja perlu diapresiasi. Sebab, meski hidup dalam kekurangan dan keterbatasan fisik, mereka selalu bekerja. “Kalau Jumi’i keliling kampung mencari rongsokan. Pokoknya, tidak pernah meminta-minta,” katanya.

Begitu juga dengan Duki. Ketika ada yang menyuruhnya bekerja, dia tidak pernah menolak. Nurhayati menerangkan, Duki memang sering dimintai bantuan oleh warga karena selalu mengiyakan setiap permintaan membantu bekerja di sawah. “Hampir setiap hari, dia ada di sawah,” jelasnya.

Menurutnya, dalam hal semangat kerja, kakak-beradik ini memang perlu dicontoh. Dari hasil kerja kerasnya tersebut, keduanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Menurut saya, semangatnya memang luar biasa,” katanya.

Nurhayati mengaku banyak belajar tentang kehidupan dari dua bersaudara itu. Dia merasa, seolah-olah mendapatkan motivasi baru setiap hari. “Saya belajar dari mereka, bahwasannya hidup itu harus bergantung pada orang lain,” tambahnya.

Jenis barang bekas yang dikumpulkan Jumi’i, semua yang menghasilkan uang. Seperti botol air mineral dan kardus. Setelah dikumpulkannya, dia menjual kepada seorang tetangganya. “Di sini ada toko yang membeli barang bekas,” terang Nurhayati.

Uang hasil kerja keduanya ada yang disisihkan, dan ada juga yang digunakan membeli kebutuhan sehari-hari. Setahu Nurhayati, hasil penjualan rongsokan Jumi’i dalam satu pekan sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu.

(bw/bib/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news