Minggu, 11 Apr 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Abdul Gani, Kuncen Makam Buyut Cungking

Penjaga Ritual Resik Lawon, Peka Terhadap Tanda Alam

30 Maret 2021, 01: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

LAWON ANYAR: Abdul Gani alias Mbah Jami membeber kain mori baru yang akan digunakan untuk menutup petilasan Buyut Cungking. Di sampingnya Mbah Janto, wakil kuncen generasi ke-7.

LAWON ANYAR: Abdul Gani alias Mbah Jami membeber kain mori baru yang akan digunakan untuk menutup petilasan Buyut Cungking. Di sampingnya Mbah Janto, wakil kuncen generasi ke-7. (FREDY RIZKI/RaBa)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Warga Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri menggelar ritual resik lawon kemarin. Ritual ini digelar setiap tanggal 10 sampai 15 bulan Ruwah dalam kalender Jawa pada hari Kamis atau Minggu. Kelestarian ritual ini tak lepas dari sosok kuncen petilasan Buyut Cungking yang saat ini dipegang oleh Abdul Gani.

Gang kecil di Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung terlihat ramai pagi kemarin (28/3). Puluhan orang, pria dan wanita, mengerumuni baskom-baskom berisi air yang digunakan untuk mencuci kain mori atau lawon yang selama setahun terakhir digunakan untuk menutupi petilasan Buyut Cungking. Ritual ini biasanya menandai akan segera datangnya Bulan Ramadan.

Di antara orang -orang itu ada sosok Abdul Gani atau Mbah Jami, 64. Pria itu adalah kuncen sekaligus orang yang bertanggung jawab memastikan ritual-ritual yang selama ini berkaitan dengan sosok Buyut Cungking tetap digelar.

Baca juga: Untag Banyuwangi Fiesta 2021 Sukses

Gani menceritakan, dirinya adalah generasi ke- 9 dari kuncen makam Buyut Cungking yang dipercaya sebagai orang sakti dan penasihat Prabu Tawangalun pada masa kerajaan Blambangan. Gani menjadi kuncen sejak tahun 2010 lalu. Dia menggantikan ayahnya, Mbah Waris, yang kala itu sudah berusia 92 tahun.

Sebelum Gani dipilih menjadi kuncen, Mbah Waris sudah sakit-sakitan. Tubuhnya lumpuh sehingga tak bisa menjalankan ritual-ritual seperti resik lawon atau resik kagungan. Tapi, belum ada pergantian kuncen karena belum ada yang mendapat impen atau mimpi dari leluhur. Sampai suatu malam, Gani bermimpi diperintah oleh sebuah suara tanpa wujud untuk membawa setandan pisang.

Saat itu ada beberapa orang yang berkerumun di sekitar pisang itu. Gani pun bertanya ke mana pisang itu akan dibawa. Lalu suara itu menyebutkan jika dia harus membawanya ke makam Buyut Cungking. Mimpi membawa pisang dimaknai sebagai sebuah perintah untuk membawa beban atau tanggung jawab melayani Buyut Cungking. "Dulu biasanya yang mimpi itu bapak dari orang yang mau dijadikan kuncen atau saudaranya, tapi ini saya sendiri yang mendapat mimpi," ungkap Gani.

Sejak saat itulah bapak dua anak itu  meneruskan tugas Mbah Waris sebagai kuncen petilasan Buyut Cungking. Dua tahun kemudian Mbah Waris meninggal, sehingga praktis semua tugas terkait ritual dipegang oleh Gani. Mulai dari aktivitas rutin membersihkan petilasan setiap hari kamis, sampai ritual-ritual besar seperti resik lawon dan resik kagungan untuk membersihkan pusaka-pusaka Buyut Cungking.

Dalam ritual-ritual besar, Gani akan menjadi orang pertama yang melakukan tahapan ritual.

Seperti memeras lawon, dialah yang pertama kali melakukanya. Begitu juga ketika mencuci pusaka. Baru setelah itu dilanjutkan dengan warga lain atau keturunanya. "Tugas saya ngrekso petilasan. Mengganti lawon, membersihkan petilasan. Kalau ada orang yang punya hajat, saya juga yang mengantarkan," kata Gani.

Aktivitas di petilasan Buyut Cungking  umumnya sama dengan tempat-tempat keramat lainya. Pada hari-hari khusus kerap didatangi banyak orang. Yang paling sering adalah ketika sudah musim orang punya hajat, baik pernikahan maupun khitanan. Banyak orang yang datang ke petilasan agar hajatanya bisa berjalan lancar. Pada malam Jumat, petilasan Buyut yang juga memiliki nama Ki Wongso Karyo ini juga sering didatangi orang.

Ada yang dari Banyuwangi, ada pula dari beberapa kota lain di Jawa Timur. Gani biasanya membuka petilasan sejak Kamis pagi pukul 7.00 sampai Jumat subuh. Ada tamu yang hanya datang sebentar lalu berdoa kemudian pulang. Ada juga yang bersemedi. Mereka biasanya datang tepat tengah malam, lalu pulang sesaat sebelum adzan subuh berkumandang. "Semua datang sesuai dengan hajatnya sendiri-sendiri. Saya tidak pernah tanya, yang penting saya siapkan tempatnya supaya tetap bersih," tuturnya.

Selain orang yang datang pada malam Jumat, ada juga yang tiba-tiba datang dengan hajat khusus. Mereka biasanya mendatangi Gani sendiri, lalu meminta diantarkan ke petilasan. Salah satunya ketika musim pencalonan kepala desa. Kala itu ada salah satu cakades minta diantar sekitar pukul 02.00 dini hari. Gani pun mengantarkan orang tersebut. Atas izin Allah, rupanya cakades itu terkabul hajatnya. Meskipun saat pemilihan dia mengaku tak memiliki modal finansial. Bahkan paling miskin di antara cakades lainya yang ikut dalam pilkades. "Semuanya ini lantaran. yang di sini hanya perantara semua. Tetap semuanya dari izin Allah," ucap Gani.

Untuk memenuhi kebutuhanya di luar kewajibanya sebagai kuncen, Gani bekerja sebagai tukang bangunan. Tapi tak jarang ada saja rejeki yang didapat dari para peziarah yang datang ke petilasan. Gani mengaku sejak beberapa tahun terakhir mendapat tali asih dari Disbudpar Banyuwangi sebesar Rp 900 ribu per tiga bulan.

"Alhamdulillah, selalu ada yang membantu. Waktu ritual resik lawon hari ini (kemarin) misalnya, ada saja yang menyumbang lawon dan lainya. Terutama dari orang orang yang kawul (punya nazzar). Jadi tidak pernah kurang," kata Gani tersenyum.

Sembari menjalankan ritual, kakek tiga cucu itu juga kerap mengamati tanda-tanda alam yang muncul. Hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi para kuncen untuk memberikan peringatan dan pesan kepada warga. Dia mencontohkan peristiwa G30S PKI tahun 1965. Tanda-tanda alam, kata Gani,   tali jemuran lawon yang biasanya aman-aman saja, tiba-tiba putus. Lawon pun berjatuhan ke tanah. Benar saja, tak lama kemudian ada peristiwa kelam yang terjadi.

Pada tahun 1983, tanda alam juga kembali tampak. Lawon-lawon yang dijemur tak kunjung kering. Padahal sudah sehari semalam dijemur dalam kondisi terik. Tak lama setelah itu muncul kasus petrus yang terjadi di Banyuwangi. "Tahun ini insya-Allah aman. Tidak ada tanda-tanda. Makanya ketika menjemur, semunya menunggu dan mengamati tanda tanda," tuturnya.

Tanggung jawab menjadi kuncen biasanya akan dipegang seumur hidup. Selama sang kuncen tetap sehat, Gani ikhlas dengan tanggung jawab yang diembanya. Terkait siapa yang nanti meneruskan tanggung jawabnya, Gani mengaku belum bisa menebak. Dia memiliki anak laki-laki, tapi usianya masih terlampau muda. "Nanti pasti ada yang dapat impen. Tinggal menunggu saja, yang penting selama sehat, saya tetap menjaga petilasan Buyut Cungking," pungkasnya.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news