Jumat, 05 Mar 2021
radarbanyuwangi
Home > Kuliner
icon featured
Kuliner
Telur Puyuh

Mudah Terlena karena Ukuran Kecil

23 Februari 2021, 06: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MENGGEMASKAN: Burung puyuh bertelur di dalam kandang di kawasan Songgon, Banyuwangi.

MENGGEMASKAN: Burung puyuh bertelur di dalam kandang di kawasan Songgon, Banyuwangi. (RAMADA KUSUMA/RaBa)

Share this          

BANYAK orang enggan mengonsumsi telur karena tingginya kandungan kolesterol, terutama bagian kuningnya. Tidak sedikit pula yang memperdebatkan kandungan kolesterol mana yang lebih tinggi, antara telur puyuh ataukah telur ayam.

Menjawab hal tersebut, sebuah riset dilakukan di India untuk membandingkan kandungan kolesterol pada kuning telur ayam dan telur puyuh. Riset tersebut menyebutkan bahwa konsentrasi kolesterol per gram dalam kuning telur puyuh lebih tinggi 2 kali lipat dibandingkan kuning telur ayam.

Pada telur puyuh terkandung sebanyak 16,05±0,63 mg/g kolesterol. Sedangkan pada telur ayam sebanyak 7,65±0,28 mg/g. Tapi perlu diingat bahwa kadar kolesterol tersebut diukur per gram telur. Namun kenyataannya, ukuran kuning telur ayam jauh lebih besar daripada telur puyuh.

Jadi, bila dihitung dari kadar kolesterol telur secara utuh, telur ayam tetap memiliki kadar kolesterol yang lebih besar, yakni 114,75 mg per butir. Sedangkan telur puyuh hanya memiliki kadar kolesterol sebesar 48,15 mg per butir. Meski demikian, ukuran telur puyuh yang kecil sering kali membuat masyarakat terlena saat mengonsumsinya. Jadi, tidak heran bila telur puyuh dituding memiliki kadar kolesterol yang lebih tinggi daripada telur ayam.

Dari segi nutrisi, sebetulnya telur puyuh punya beragam manfaat. Cara mengolahnya pun beragam, bisa dijadikan sate, campuran salad, lauk tambahan soto, dan sebagainya.

Mungkin Anda sekarang bertanya, kenapa telur ayam yang ukurannya lebih besar memiliki kandungan kolesterol yang lebih sedikit? Itu karena rasio kuning telur pada telur puyuh lebih tinggi. Sebagai catatan, kandungan kolesterol dan lemak terdapat pada bagian kuningnya.

Kolesterol tak hanya bersumber dari telur, tetapi juga dari produk hewani seperti daging sapi, ayam, bebek, serta susu dan berbagai produk olahannya.

Yang perlu diwaspadai dari kandungan telur puyuh adalah kandungan lemak jenuh dan kalori. Sebab, dua itulah yang berperan langsung dalam pembentukan kolesterol dalam darah. Meskipun demikian, telur puyuh tetap dikategorikan sebagai makanan yang dapat meningkatkan kolesterol dalam tubuh. Pasalnya, ukurannya yang kecil dan rasanya yang enak membuat orang tak sadar mengonsumsinya dalam jumlah banyak. ”Ukurannya yang kecil membuat orang terlena. Akhirnya lupa saat mengonsumsi, terus-menerus,” ungkap Holik, warga Desa/Kecamatan Rogojampi.

Kalau konsumsi telur puyuh berlebihan, apalagi sumber makanan lain juga tinggi akan lemak jenuh dan kalori, tentu saja kolesterol jahat dalam tubuh bisa naik. Kalau terus-terusan begini, ancamannya adalah penyakit jantung dan stroke.

Puyuh adalah burung yang berukuran sedang daripada burung lainnya. Burung ini ditemukan di Eropa, Afrika Utara, Amerika Serikat bagian selatan, dan beberapa negara di bagian Asia, Indonesia salah satunya. Telur puyuh mempunyai warna putih atau cokelat dengan corak bintik-bintik hitam.

Telur puyuh memiliki bentuk yang lebih kecil daripada telur ayam. Telur puyuh banyak dikonsumsi dalam bentuk masakan Asia, terutama dalam masakan Jepang. Di Jepang, telur ini dikemas dalam bentuk kotak bento kemudian langsung bisa disantap tiga sampai lima butir sekaligus dalam satu suap, karena bentuknya yang kecil.

Telur yang kecil menggemaskan ini memiliki permintaan tinggi di beberapa bidang kuliner. Karena kuning telurnya yang enak dan beraroma khas. ”Telur puyuh juga kaya akan nutrisi dan bisa menjadi makanan pengganti yang tepat bagi yang mempunyai alergi terhadap telur ayam dan bebek,” pungkas Holik. (ddy/bay/c1)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news