Jumat, 05 Mar 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Memviralkan Pedasnya Cabai Wongsorejo

Oleh: Maslukhah Luaili*

21 Februari 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Memviralkan Pedasnya Cabai Wongsorejo

Share this          

SUDAH hampir setahun pandemi Covid-19 mendera dunia. Tak hanya banyak negara di seluruh dunia, negeri kita Indonesia juga merasakan dampak penyakit ini. Secara lebih khusus lagi, kami warga Provinsi Jawa Timur pun ikut terdampak. Lebih sempit lagi, masyarakat Kabupaten Banyuwangi juga merasakan imbas pandemi ini.

Banyuwangi yang tahun 2019 lalu ramai dikunjungi wisatawan. Baik wisatawan asing, maupun turis domestik. Baik yang datang untuk melancong ke destinasi wisata, maupun berbagai kalangan yang datang ke Banyuwangi untuk studi banding, studi tiru, seminar, pelatihan, ataupun sekadar gathering alias kumpul-kumpul.

Pemandangan kericuhan dan geliat Banyuwangi semacam itu nyaris tak terlihat di sepanjang tahun 2020 lalu. Sampai saat ini pun, memasuki akhir bulan kedua tahun 2021, situasi masih sama yakni tetap kurang ‘’gairah’’. Jika tahun-tahun sebelumnya banyak digelar festival di Banyuwangi, nyaris sepanjang tahun 2020 lalu tidak terlihat lagi. Padahal, kegiatan festival semacam itu biasanya berdampak berantai bagi masyarakat. Mulai dari pengelola tour travel, pengelola hotel, home stay, sampai pedagang kaki lima pun, ikut merasakan berkahnya.

Kini, tak terasa sudah hampir setahun pandemi, muncul rasa kerinduan. Rindu akan ramainya geliat aktivitas masyarakat, rindu bisa sekolah belajar tatap muka secara normal. Namun apa boleh buat, situasi belum memungkinkan. Tidak boleh membuat kerumunan massa. Harus menahan diri dan saling menjaga jarak antar sesama. Semua itu dilakukan demi pencegahan penyebaran penyakit covid-19.

Banyak bekerja di rumah, terkadang muncul rasa jenuh. Namun pikiran harus terus aktif, agar kita tidak tertekan alias stres. Lalu, sesekali muncul beberapa pertanyaan dalam pikiran, atau mungkin ini hanya sekadar pengharapan. Salah satu yang paling sering melintas dalam benak adalah, apakah memungkinkan membuat sebuah festival di masa pandemi ini?

Ada angin segar saat membaca kabar dari Jawa Pos Radar Banyuwangi,  bahwa kegiatan B-Fest (Banyuwangi Festival) tahun 2021 resmi dimulai. Namun dengan formula baru. Tentu saja, cara baru ini menggunakan sentuhan teknologi informatika. Dari yang saya baca pula, B-Festival 2021 kali ini mengagendakan 102 event menarik. Mulai seni budaya, sport tourism, hingga event berbasis komunitas yang bakal digelar menggunakan konsep hybrid, yakni penggabungan antara konsep event online dan offline. 

Konsep hybrid ini yang belum kami pahami sampai saat ini. Rasa penasaran kami pun semakin menjadi. Seperti apa ya kira-kira wujudnya, saya masih terus berusaha membayangkan. Apa pun bentuknya nanti, itu merupakan angin segar bagi masyarakat Bumi Blambangan.

Namun secara lebih khusus, kami sebagai warga Kecamatan Wongsorejo di wilayah perbatasan sisi utara Banyuwangi juga punya beberapa harapan.

Yang pertama, tentu kami berharap sentuhan teknologi informatika konsep hybrid tersebut bisa dinikmati secara merata. Juga transfer ilmu pengetahuan tentang konsep tersebut bisa dijangkau oleh masyarakat. Sehingga warga Bumi Blambangan tidak ketinggalan dan selalu update pengetahuan.

Harapan yang kedua, semoga ada yang terus menggelorakan untuk promosi potensi daerah Wongsorejo melalui festival. Seperti kita ketahui, salah satu komoditas andalan Wongsorejo adalah cabai. Produksi cabai Wongsorejo sudah dikenal di ibu kota dan kota-kota besar di Indonesia. Cabai Wongsorejo dikenal sangat pedas, ‘’berotot’’, serta tahan lama dan tidak mudah busuk.

Ayo kita viralkan keunggulan cabai Wongsorejo. Salah satu caranya, mungkin bisa saja mengundang beberapa orang saja, tamu luar kota yang sedang menginap di beberapa hotel berbintang di Banyuwangi. Kita ajak untuk tour ke kebun cabai. Mereka diajak memetik cabai yang merah merona.

Tentu ada sensasi tersendiri. Memetik cabai langsung dari pohonnya. Kemudian, masih di tempat tersebut, bisa juga dilakukan lomba adu kuat pedas makan cabai. Skalanya kecil saja. Tetap menjaga jarak. Tetap mengenakan masker. Dan lokasinya di lahan cabai yang luas dan terbuka. Selalu mengedepankan protokol kesehatan tentunya.

Tak perlu banyak orang, tapi yang penting banyak influencer. Hasilnya, konten yang unik itu disebar di kanal-kanal yang banyak pengikutnya. Termasuk Channel YouTube ‘’Radar Banyuwangi TV’’, juga berbagai platform digital yang dimiliki. Sehingga pedasnya cabai Wongsorejo menjadi viral.

Gol akhir yang diharapkan, cabai Wongsorejo semakin terkenal. Tentu saja, dampak langsung akan dirasakan oleh petani dan pedagang cabai Banyuwangi. Mereka akan mendapatkan pengakuan serta brand image yang positif di pasar-pasar luar kota. Secara umum, ini akan mendongkrak image komoditas pertanian Bumi Blambangan. Semoga.(*)

*) Bekerja di MTs Negeri 12 Banyuwangi. Tinggal di Krajan, Desa Bajulmati, Wongsorejo, Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news