Jumat, 05 Mar 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Kaleidoskop Perekonomian Jatim di Masa Pandemi

Oleh: Khaerul Agus*

21 Februari 2021, 07: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Kaleidoskop Perekonomian Jatim di Masa Pandemi

Share this          

Sudah hampir setahun negeri ini dilanda pandemi Covid-19. Walaupun program vaksinasi sudah berjalan, tetapi belum bisa dipastikan kapan pandemi akan berakhir.

Pandemi di Indonesia dimulai pada pertengahan bulan Maret 2020, tak terkecuali di Jatim. Berbagai aspek kehidupan terutama ekonomi terganggu. Hampir semua roda ekonomi berjalan lambat, bahkan ada yang sampai berhenti. Penerbangan berhenti, kereta api dan angkutan lain juga demikian. Hotel, restoran, dan rumah makan membatasi pengunjungnya, bahkan ada yang tutup. Demikian juga dengan aktivitas lain, dari mulai pertambangan/penggalian sampai jasa-jasa.

Walaupun pada triwulan I-2020 pandemi baru berjalan setengah bulan, namun sudah terasa dampaknya terhadap roda ekonomi. Dari data yang telah dirilis oleh BPS, ekonomi Jatim pada triwulan ini hanya bisa tumbuh sebesar 2,92 persen bila dibandingkan dengan triwulan I-2019, sedikit di bawah nasional yang tumbuh 2,97 persen. Walaupun semua kategori tumbuh positif, kecuali kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kategori informasi dan komunikasi sebesar 9,77 persen, diikuti kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 9,12 persen, dan kategori jasa pendidikan sebesar 6,07 persen. Sementara kategori lain hanya bisa tumbuh di bawah 6 persen.

Agar tidak terjadi penyebaran Covid-19 yang masif, di berbagai daerah diberlakukan PSBB. Hampir semua aktivitas ekonomi berhenti. Seperti tempat tujuan wisata tutup, bioskop tutup, mall tutup, hotel tutup, rumah makan tutup, walaupun ada yang buka hanya melayani ‘take away’.

PNS diperkenankan bekerja dari rumah, dan sekolah serta kuliah juga dilakukan secara daring dari rumah, termasuk pembatalan cuti bersama Idul Fitri. Fokus pemerintah baik pusat maupun daerah tertuju hanya pada pencegahan penyebaran Covid-19, sehingga ekonomi pun menjadi semakin terpuruk.

Pada triwulan II-2020, angka pertumbuhan ekonomi Jatim terkontraksi 5,98 persen bila dibandingkan dengan kondisi triwulan II-2019. Sedikit lebih buruk bila dibandingkan dengan ekonomi nasional yang juga terkontraksi 5,32 persen.

Hampir semua kategori terkontraksi pertumbuhannya. Kategori jasa lainnya mengalami kontraksi paling dalam, yakni tumbuh -34,54 persen. Diikuti oleh kategori transportasi dan pergudangan yang terkontraksi 27,68 persen, di mana pertumbuhan sub-kategori angkutan udara terkontraksi 77,55 persen dan merupakan sub-kategori yang mengalami kontraksi paling dalam. Kategori lain yang mengalami kontraksi cukup dalam adalah kategori penyediaan akomodasi dan makan minum yang terkontraksi 18,61 persen. Penyebabnya adalah tingkat hunian kamar hotel yang sangat rendah dan tutupnya restoran serta rumah makan yang walaupun ada yang buka hanya bisa melayani ‘take away’.

Walaupun begitu, pandemi tidak selalu berdampak negatif terhadap roda ekonomi. Beberapa kategori dan sub-kategori mendapatkan dampak positif. Misalnya kategori informasi dan komunikasi bisa tumbuh 10,38 persen, akibat dari adanya kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH), sekolah dan kuliah secara daring, dan maraknya webinar dengan berbagai topik.

Kategori lain yang tumbuh positif adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan angka 8,95 persen. Penanganan para pasien Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah menjadi penyebab utamanya. Kategori lain yang bisa tumbuh positif di tengah pandemi adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan angka 7,22 persen. Bukan karena pandemi tetapi karena adanya pergeseran musim panen yang biasa terjadi pada akhir triwulan I beralih ke triwulan II.

Hanya fokus pada pencegahan penyebaran Covid-19 ternyata berdampak buruk kepada ekonomi. Di sisi lain, jumlah kasus orang yang terkonfirmasi positif malah terus bertambah. Untuk itu, mulai akhir triwulan II-2020 berbagai program pemulihan ekonomi dilakukan oleh Pemerintah baik di pusat maupun di daerah dengan tetap menjalankan berbagai program pencegahan penyebaran Covid-19.

Tujuan program pemulihan ekonomi adalah untuk mengurangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian sekaligus terus berupaya menjaga kesehatan masyarakat dari penularan Covid-19. Program pemulihan ekonomi diharapkan dapat membantu dunia usaha termasuk usaha kecil, mikro, dan menengah dan usaha ultra mikro, serta sektor usaha strategis bagi perekonomian termasuk BUMN.

Program pemulihan ekonomi yang dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah berdampak positif, yang diditandai dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2020. Kalau dibandingkan dengan triwulan II-2020 (qtq), ekonomi Jatim tumbuh 6,06 persen. Walaupun masih terkontraksi 3,61 persen bila dibandingkan dengan triwulan III-2019, tetapi masih lebih baik dari pertumbuhan ekonomi triwulan II-2020 (yoy) yang sebesar -5,98 persen. Beberapa kategori yang mempunyai share tinggi terhadap perekonomian Jatim membaik pertumbuhannya. Misalnya kategori industri pengolahan, dengan pertumbuhan -5,95 persen pada triwulan II-2020 menjadi -3,27 persen pada triwulan III-2020 (y on y).

Dampak positif dari program pemulihan ekonomi terus berlanjut walaupun tidak signifikan. Ini ditandai dengan kembali membaiknya pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2020. Walaupun masih terkontraksi 2,64 persen bila dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya, tetapi masih lebih baik dari pertumbuhan ekonomi triwulan III-2020 yang sebesar -3,61 persen. Seperti pada triwulan III-2020, beberapa kategori yang mempunyai share tinggi terhadap perekonomian Jatim semakin membaik pertumbuhannya.

Overall, ekonomi Jatim pada tahun 2020 tumbuh -2,39 persen, sedikit lebih terpuruk dari ekonomi nasional yang tumbuh -2,07 persen. Dampak positif dari program pemulihan ekonomi masih belum bisa mengangkat perekonomian Jatim agar bisa lebih baik. Di sisi lain, kasus covid-19 terus bertambah. Untuk itu, masih perlu dicarikan formula program pemulihan ekonomi yang lebih tepat lagi. Sehingga tahun 2021 ini, ekonomi bisa jauh lebih baik dan bersamaan dengan itu, kasus Covid-19 berkurang. Semoga.(*)

 *)Bekerja pada BPS Provinsi Jawa Timur.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news