Jumat, 05 Mar 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Redam Gejolak Narapidana di Lapas Banyuwangi

Napi Diberi Bimbingan Spiritual, Penuh Isak Tangis dan Penyesalan

19 Februari 2021, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

NGAJI BARENG: Puluhan napi ngaji bareng Ustad Sofyan di Masjid At-Taqwa milik Lapas Kelas IIA Banyuwangi Jumat lalu (12/2).

NGAJI BARENG: Puluhan napi ngaji bareng Ustad Sofyan di Masjid At-Taqwa milik Lapas Kelas IIA Banyuwangi Jumat lalu (12/2). (BAGUS RIO/RABA)

Share this          

Lapas Kelas IIA Banyuwangi punya cara untuk meredam gejolak yang mungkin terjadi di dalam penjara. Wadah spiritual disiapkan agar tahanan dan narapidana bisa lebih tenang menjalani masa hukuman.

 

BAGUS RIO, Banyuwangi

SEKITAR 50 tahanan dan narapidana menangis histeris di Masjid At-Taqwa Lapas Kelas IIA Banyuwangi, Jumat lalu (12/2). Mulut mereka terlihat komat-kamit, terus-menerus menyebut nama Tuhan.

Saking histerisnya, beberapa tahanan sampai bersujud, seolah tak mampu menahan beban kesalahan. Setelah itu, Ustad Sofyan mengajak mereka salat Taubat. ”Mari lepaskan semua beban dan bertobat agar semua dosa diampuni oleh-Nya,” ucap Sofyan

Pada momen tersebut, para tahanan dan napi Lapas Banyuwangi diajak lebih mendekat kepada Yang Mahakuasa. Sambil mengingat Sang Pencipta, mereka diajak menyesali segala perbuatan. Terutama yang telah membuat mereka mendekam di balik jeruji besi.

Salah seorang tahanan napi kasus narkoba, Jamil mengaku sangat terbantu dengan kegiatan tersebut. Apalagi, hidup di rutan sempat membuatnya stres. Nah, mengingat Tuhan menjadi salah satu caranya melupakan masalah. ”Setiap hari saya di masjid untuk menenteramkan hati,” katanya.

Hasilnya, pria asal Kecamatan Kalipuro tersebut mengaku merasa lebih tenang dalam menghadapi setiap sidang. Bahkan, saat menghadapi sidang pembacaan vonis majelis hakim yang menjatuhinya hukuman 5 tahun penjara. ”Untung, selama ini di Lapas Banyuwangi selalu diadakan pengajian dan salat berjamaah setiap harinya. Bahkan, mendapat bimbingan ustad,” ungkap bapak dua anak tersebut.

Kalapas Banyuwangi Wahyu Indarto mengaku kegiatan tersebut memang lebih diintensifkan. Isi ceramah yang dibawakan juga lebih berisi. Tujuannya agar para tahanan dan narapidana bisa lebih tenang menghadapi masa penahanan. ”Ke depan, kegiatan semacam ini lebih sering diadakan,” ujarnya.

Kegiatan spiritual menjadi salah satu antisipasi menghadapi kondisi psikologis tahanan dan napi. Agar jangan sampai stres di dalam tahanan. ”Kita ingin menciptakan situasi aman dan kondusif di dalam Lapas Banyuwangi. Bahkan para napi juga merasa bahagia,” tuturnya

Wahyu mengungkapkan, selain membuat situasi aman, seluruh napi penghuni Lapas Banyuwangi diharapkan  lebih tenang dan nyaman dalam menjalani hukumannya. ”Terkadang psikis para napi itu berbeda-beda, makanya diberikan bimbingan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Maha Pencipta. Memang perlu ada wadah untuk aktualisasi diri para penghuni agar mereka merasa dimanusiakan,” katanya.

Wahyu beranggapan memberikan kegiatan kepada para penghuni lapas juga membantu menghindarkan pikiran aneh-aneh. Termasuk kabur dari rutan. Sebaliknya, dengan memberikan wadah, kebutuhan aktualisasi diri bisa terpenuhi. ”Jadi, tidak hanya sanksi yang diberikan, melainkan pendekatan dan juga sudah diberikan wadah sesuai dengan keahlian masing-masing para napi,” jelasnya. (afi/c1)

(bw/rio/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news