Jumat, 05 Mar 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Efek Pandemi, Kemiskinan Mulai Merangkak

Oleh: Ritza Septiyarining Wahyu*

18 Februari 2021, 17: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Efek Pandemi, Kemiskinan Mulai Merangkak

Share this          

Persentase penduduk miskin di Jawa Timur September 2020 mencapai 11,46 persen, naik 0,37 persen dibanding Maret 2020.

DARI sekian banyak histori, efek pandemi membabat habis semua indikator strategis ekonomi di Jawa Timur. Dari sisi ketenagakerjaan, pandemi Covid-19 mampu menambah jumlah pengangguran secara signifikan. Dalam setahun terakhir, menurut BRS Ketenagakerjaan Jawa Timur Agustus 2020 yang dikeluarkan BPS Provinsi Jawa Timur tanggal 5 November 2020, angka pengangguran bertambah 466,02 ribu orang dengan TPT naik 2,02 persen poin menjadi 5,84 persen dan sekitar 7 persen penduduk usia kerja di Jawa Timur menjadi pengangguran karena Covid-19. Bukan angka yang besar, namun cukup menjadi sandaran bertambahnya angka kemiskinan di Jawa Timur.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Jawa Timur terkontraksi menjadi 2,39 persen. Angka ini jelas menjadikan pandemi Covid-19 menjadi penyebab. Berdasarkan produksi, kontraksi terdalam berada di Lapangan Usaha Jasa Lainnya yaitu sebesar 13,80 persen, diikuti dengan Transportasi dan Pergudangan sebesar 11,16 persen dan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 8,87 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, kontraksi terdalam PMTB 4,31 persen, diikuti Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 3,18 persen dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 0,83 persen.

Angka Kemiskinan      

Selain indikator sosial ekonomi di atas, pandemi Covid-19 juga mengintervensi Jawa Timur sehingga mengalami penambahan jumlah penduduk miskin. Menurut BRS BPS Provinsi Jawa Timur tanggal 15 Februari 2021, persentase penduduk miskin di Jawa Timur September 2020 mencapai 11,46 persen meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2020. Jumlah penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 4.585,97 ribu jiwa (11,46 persen), bertambah sebesar 166,9 ribu jiwa dibandingkan dengan Maret 2020 yang sebesar 4.419,10 ribu jiwa (11,09 persen).

Dilihat dari sudut pandang wilayah perkotaan dan pedesaan, wilayah perkotaan mengalami kenaikan lebih tinggi, yaitu dari 7,89 persen naik menjadi 8,37 persen, naik sebesar 0,48 persen poin. Sedangkan wilayah pedesaan hanya naik sebesar 0,39 persen poin yaitu dari 14,77 persen menjadi 15,16 persen. Hal ini menggambarkan bahwa penambahan penduduk miskin lebih banyak terjadi di wilayah perkotaan dibanding pedesaan.

Faktor Penyebab Kemiskinan

Beberapa faktor terkait yang memengaruhi kenaikan persentase kemiskinan di Jawa Timur adalah, yang pertama adanya inflasi umum sebesar minus 0,07 persen di periode Maret–September. Ada juga beberapa komoditas makanan pokok mengalami penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) contohnya beras yang mengalami penurunan sebesar 0,52 persen. Beras adalah komoditas dominan yang pasti dikonsumsi masyarakat berbagai level. Yang ketiga yaitu adanya kenaikan indeks upah buruh pertanian sebesar 0,54 persen.

Garis Kemiskinan

Banyaknya angka kemiskinan didapat dari pengelompokan penduduk berdasar batas garis kemiskinan. Apakah garis kemiskinan itu? Garis kemiskinan itu adalah harga yang harus dibayar oleh kelompok acuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sebesar 2.100 kkal/kapita/hari dan kebutuhan non-pangan esensial meliputi perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi dan lainnya. Berdasar angka susenas September 2020, garis kemiskinan sebesar naik sebesar Rp 2.227 per kapita per bulan yaitu dari Rp 416.001 pada bulan Maret 2020 menjadi Rp 418.228 per kapita per bulan pada bulan September 2020.

Komoditas makanan dan non-makanan menjadi penyumbang dari naiknya garis kemiskinan di Jawa Timur. Komoditas makanan penyumbang terbesar dengan persentase sebesar 75 persen. Sedangkan sisanya adalah komoditas non-makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan September 2020, jenis komoditas yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan di Jawa Timur baik perkotaan dan pedesaan adalah beras yaitu sebesar 18,83 persen (perkotaan) dan 20,68 persen (pedesaan).

Hal ini jelas sekali karena beras merupakan makanan pokok dan utama masyarakat Indonesia. Sedangkan komoditas kedua terbesar setelah beras adalah rokok kretek filter yaitu sebesar 14,43 persen (perkotaan) dan 13,56 persen (pedesaan). Hal ini menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat Jawa Timur mengonsumsi rokok.

 

Indeks Kedalaman Kemiskinan

Naiknya angka kemiskinan di Jawa Timur ternyata diikuti dengan tingkat kedalaman dan keragaman pengeluaran penduduk yang juga tinggi. Jarak rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan juga semakin jauh. Dilihat dari nilai P1 (tingkat kedalaman) naik 0,152 poin atau sebesar 1,818 pada Maret 2020 menjadi 1,970 pada September 2020. Kenaikan P1 tersebut lebih tinggi terjadi di daerah pedesaan (0,186 poin) dibanding daerah perkotaan (0,144 poin).

Sementara itu, ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin juga semakin melebar. Hal ini bisa dilihat dari nilai P2 (tingkat keparahan) yang juga mengalami kenaikan 0,099 poin, dari 0,430 di bulan Maret 2020 menjadi 0,529 pada September 2020. Kenaikan P2 juga lebih tinggi terjadi di daerah pedesaan (0,115 poin) dibanding daerah perkotaan (0,091 poin). Dari nilai P1 dan P2 itu juga bisa dinilai bahwa kesenjangan kemiskinan di pedesaan lebih tinggi daripada perkotaan.

Dari ulasan di atas, efek pandemi sudah cukup membawa masyarakat Jawa Timur semakin banyak yang tidak mampu mencukupi kehidupannya dengan layak. Stimulus dari pemerintah perlu diberikan.

Penyediaan lapangan pekerjaan untuk mengurangi jumlah pengangguran, pemerataan pendistribusian sumber daya alam, bantuan sosial untuk mempertahankan pola konsumsi masyarakat, serta dorongan UMKM untuk bisa lebih aktif dalam menghasilkan produksi barang dan jasa demi keberlangsungan pertumbuhan ekonomi. Semoga pandemi ini bisa segera berakhir dan Jawa Timur bisa sedikit demi sedikit menumbuhkan perekonomian. (*)

 *) Statistisi BPS Kabupaten Situbondo.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news