Jumat, 05 Mar 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Sisa-Sisa Pemandian Umum di Tengah Permukiman

Terakhir Digunakan Tahun 1985, Kini Jadi Rumah Jaga

17 Februari 2021, 14: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

KUSEN ASLI: Noto Dwi Suryono, petugas teknisi PUDAM Banyuwangi menunjukkan sisa bangunan tempat pemandian.

KUSEN ASLI: Noto Dwi Suryono, petugas teknisi PUDAM Banyuwangi menunjukkan sisa bangunan tempat pemandian. (FREDY RIZKI/RaBa)

Share this          

Pada tahun 1977 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banyuwangi (kini bernama PUDAM) membangun empat tempat pemandian umum di tengah kota Banyuwangi. Seiring berjalannya waktu, tak ada lagi warga yang menggunakan tempat tersebut, bahkan sudah melupakannya.

FREDY RIZKI, Banyuwangi

SEBUAH rumah dengan posisi tusuk sate di Gang Susi, Kelurahan Tukangkayu tampak lengang pagi itu. Rumah dengan nuansa biru laut itu terlihat memiliki arsitektur yang sedikit berbeda dengan rumah-rumah di sebelahnya.

Ada sebuah dinding pemisah di depan rumah dengan hiasan kaca bergambar burung merak di tengahnya. Sekilas memang tidak ada yang menarik. Tapi jika diamati lebih lama, rumah itu seolah memancarkan kesan layaknya bangunan lama yang menyimpan banyak cerita.

Sang penghuni rumah, Noto Dwi Suryono mengatakan, bangunan yang kini ditempati itu adalah bekas pemandian umum milik PUDAM Banyuwangi. Tujuh tahun lalu, Suryono yang bekerja sebagai petugas teknis PUDAM diberi kesempatan oleh perusahaan untuk menempati rumah tersebut. ”Selagi belum bisa beli rumah, oleh kantor dipersilakan merawat tempat ini,” kata Suryono.

Dia pun mempersilakan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi untuk melihat-lihat rumah tersebut. Sekilas, ruas-ruas bangunan di dalam memang terlihat sedikit berbeda dengan rumah pada umumnya. Dua kasur milik Suryono tidak berada di dalam kamar. Tapi diletakkan di ruang terbuka dengan sedikit sekat dinding.

Tempat itu adalah bekas kamar mandi. Makanya, bentuknya tidak seperti kamar pada umumnya. Dia pun menyesuaikan fungsi rumah dengan bentuk asli bangunan. Di bagian belakang, ada tiga kakus (WC) yang terlihat berjajar. Suryono mengatakan, bangunan WC itu salah satu yang masih asli bentuknya. Mulai dari kusen kayu, pintu, sampai bentuk bangunanya. Hanya catnya saja yang diperbarui agar tampak pantas untuk digunakan. ”Mulai saya tempati sudah banyak yang berubah. Mungkin dulu ada sekitar enam WC dan beberapa kamar mandi. Di depan ada bekas tempat petugas loket,” ungkapnya.

Konon ada banyak warga yang menggunakan tempat tersebut sebagai tempat mandi, mencuci, atau keperluan buang hajat. Seiring berjalannya waktu, warga mulai memiliki kamar mandi sendiri. Selanjutnya, tempat pemandian diubah fungsinya menjadi rumah dinas untuk para pekerja PUDAM.

”Yang menjaga tempat pemandian sudah meninggal. Jadi tidak bisa menggali lebih dalam dulu bagaimana fungsi bangunan ini. Konon meninggalnya juga di sini,” kata pria dua anak itu sambil menunjuk sebuah ruangan.

Direktur PUDAM Banyuwangi Widodo Waluyo menjelaskan, toilet atau tempat pemandian umum bagi masyarakat memang sempat dibuat sekitar tahun 1977. Bersamaan dengan berdirinya kantor PUDAM yang kini berada di Jalan Adi Sucipto. Tujuannya untuk membantu masyarakat yang belum bisa memasang air secara mandiri untuk tetap bisa memperoleh air bersih.

Sebelum dibangun, ada studi yang dilakukan PUDAM kala itu. Termasuk mencari di mana titik yang kira-kira mudah dijangkau oleh masyarakat yang membutuhkan jaringan air bersih. Widodo mengatakan, ada empat lokasi tempat pemandian umum. Yang pertama di dekat Kelurahan Tukangkayu, yang kini ditempati Suryono. Kedua di wilayah Kelurahan Temenggungan, lalu di Kelurahan Kepatihan belakang Toko Florida. Terakhir di dekat eks gedung Bank BCA, Kelurahan Panderejo.

Dulunya, warga bisa menggunakan fasilitas tersebut untuk MCK (mandi, cuci, dan kakus, Red). Biasanya ada penjaga yang bertugas di sana. Mereka menarik biaya seiklasnya untuk warga yang ingin menggunakan tempat pemandian. Untuk satu tempat pemandian umum, bisa menampung 5 sampai 10 kepala keluarga.

”Sekarang sudah tidak digunakan untuk keperluan mandi lagi. Sekitar tahun 1985 mulai sepi. Warga mulai punya kamar mandi sendiri. Kalau gratis sepertinya tidak, tapi ada subsidi harga seperti untuk sekolah dan tempat ibadah,” jelas mantan Direktur Teknik PDAM itu.

Sejak penggunaanya mulai berkurang, akhirnya PUDAM pun mengubah fungsi tempat pemandian itu. Ada yang menjadi rumah dinas petugas, ada yang menjadi rumah untuk petugas teknis yang bertugas standby memantau perbaikan jaringan. Widodo menambahkan, tempat pemandian umum hanya ada di wilayah Kecamatan Banyuwangi.

Di Wilayah Banyuwangi Selatan, ada hydrant umum yang juga bisa diakses warga. Tapi saat ini, nasibnya sama dengan tempat pemandian umum. Sudah ditinggalkan oleh warga. ”Berarti saat ini ekonomi masyarakat sudah semakin membaik daripada dulu. Mereka sudah mampu untuk membuat kamar mandi dan jaringan air sendiri,” pungkas Widodo. (aif/c1)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news